Bianca menelan ludahnya pelan, matanya membesar seiring napasnya yang terasa tersendat di tenggorokan. Kata-kata Vincent barusan berputar-putar di kepalanya, menyalakan perasaan yang tidak bisa ia beri nama. Ia buru-buru terkekeh kecil, mencoba membungkus kegugupannya dengan nada sinis. “Konsekuensi? Kau ini bicara seakan-akan hidupku akan hancur hanya karena mendengar kalimatmu. Jangan terlalu percaya diri, Vincent. Kau cuma pengawal baruku, bukan seseorang yang bisa menentuku harus bagaimana.” Vincent tidak bergeming. Sorot matanya tetap menancap pada wajah Bianca, membuat gadis itu semakin resah. “Saya tahu posisi saya, Nona. Tapi kalau Nona benar-benar ingin mendengar saya bicara sebagai Vincent, maka jangan salahkan saya kalau ucapan saya tidak sesuai dengan apa yang ingin Nona deng

