Bianca mencondongkan tubuhnya, matanya tak berkedip menelusuri wajah Vincent. “Aku tanya sekali lagi, Vincent. Siapa yang kau maksud? Jangan berputar-putar dengan kalimat anehmu itu.” Vincent berdiri tenang, kedua tangannya masih disatukan di belakang tubuhnya. Tatapannya dingin, namun ada sesuatu yang samar bergetar di balik sorot matanya. “Saya hanya mencoba untuk memperingati Anda, Nona. Tidak semua orang yang menunjukkan senyum tulus benar-benar peduli. Kadang justru orang-orang terdekatlah yang paling berbahaya.” Bianca terbelalak. Nafasnya tercekat. “Apa maksudmu Mia? Atau kau bicara soal keluargaku?” Suaranya meninggi, penuh tantangan. Vincent tetap tidak bergeming. “Saya tidak menyebut nama siapa pun.” “b******k,” gumam Bianca, menepis rambut panjangnya ke belakang bahu. “Kau m

