Bianca melangkah mundur setengah langkah, tubuhnya menempel pada pagar balkon dingin yang seolah mempertegas situasi menegangkan itu. Matanya menatap Vincent tanpa berkedip, seakan berusaha membongkar apa yang tersembunyi di balik sorot pria itu. “Kenapa kau selalu ingin tahu isi hidupku?” desis Bianca, nadanya menusuk. “Kau pengawal, Vincent, bukan ayahku. Kau tidak berhak ikut campur sejauh ini.” Vincent menundukkan wajahnya sedikit, ekspresinya tetap dingin, tapi rahangnya mengeras. “Karena tugas saya bukan sekadar berdiri di belakang Anda. Tugas saya memastikan Anda tetap bernapas sampai besok pagi.” Kalimat itu membuat Bianca tersentak. “Kau bicara seolah ada yang mengincarku saja.” “Ada.” Jawaban Vincent tegas, singkat, menusuk. Bianca memelototinya. “Lalu siapa? Katakan! Jangan

