Bianca berusaha mengunyah roti itu dengan penuh gengsi, seolah ingin menunjukkan pada Vincent bahwa ia sama sekali tidak peduli. Namun, tatapannya sesekali tetap melirik ke arah pria itu yang berdiri tegap di dekat meja makan. Diam. Tenang. Tidak sedikit pun goyah. “Apa kau tidak bosan berdiri begitu terus? Tidak lelah?” sindir Bianca akhirnya, mencoba mencairkan kegugupannya dengan nada ketus. Vincent hanya menatapnya sekilas. “Kalau saya lelah, itu bukan urusan Nona. Selama Nona baik-baik saja, saya tidak peduli dengan rasa lelah saya.” Perkataan itu sukses membuat Bianca nyaris tersedak roti yang masih ada di mulutnya. Ia buru-buru meneguk teh, menahan pipinya agar tidak memerah. “Cih! Kau bicara seakan-akan aku ini tanggung jawab besar sekali. Padahal aku tidak pernah memintamu unt

