Bianca berdiri cukup lama di tengah kamar setelah pintu tertutup rapat. Senyum tipisnya belum juga hilang, justru semakin melengkung seolah ia baru saja memenangkan sebuah permainan kecil. Ia berjalan kembali ke meja rias, duduk, lalu menatap bayangannya di cermin. Wajahnya terlihat segar, tapi matanya menyala penuh dengan kepuasan. “Dia memang keras kepala…” gumamnya pelan sambil menyisir sisa helai rambut yang tadi disentuh oleh Vincent. “Tapi semakin ia menolak, semakin aku ingin meruntuhkannya.” Suara detik jam di dinding terasa begitu jelas di kamar itu. Bianca menghela napas panjang, lalu menopang dagunya di telapak tangan. Ada sesuatu yang membuat dadanya hangat tiap kali berhasil mengguncang pengawalnya itu—bukan sekadar iseng, tapi lebih dalam, semacam tantangan yang membuatnya

