“Ya, Paman, ada apa?”
Suara berat dan penuh wibawa pun terdengar di seberang telepon. Orang tersebut adalah Antonio Celeste.
“Vincent, katakan padaku, bagaimana keadaan di sana? Apakah semuanya aman? Dan…” ada jeda singkat, “…apakah Bianca curiga padamu?”
Vincent menatap sekilas ke arah pintu kamar Bianca yang baru saja tertutup rapat. Ia menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari pria paruh baya tersebut.
“Semuanya aman, Paman. Bianca tidak merasa curiga sedikit pun. Dia hanya tau jika aku hanyalah seorang pengawal pribadinya.”
Keheningan menggantung sesaat di seberang sana. Lalu suara Antonio terdengar lagi, kali ini lebih tegas. “Kau harus pastikan begitu terus. Bianca tidak boleh tahu, setidaknya belum. Dia tidak akan bisa menerima jika tahu siapa kau yang sebenarnya. Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya.”
Tatapan Vincent mengeras, meski wajahnya tetap tak beremosi. “Aku mengerti, Paman. Aku akan menjaga peran ini dengan baik. Dia tidak akan tahu, sampai waktunya tiba.”
Antonio berdeham kecil. “Bagus. Ingat, alasan sebenarnya kau di sana bukan hanya untuk melindungi Bianca. Kau akan menikahinya, Vincent. Itu sudah diputuskan. Aku butuh ikatan yang lebih kuat antara keluarga Celeste dan Cole. Dengan cara itu, bisnis kita tidak bisa diguncang begitu saja.”
Vincent menutup matanya sesaat, mendengar kata menikah meluncur begitu ringan dari bibir Antonio. Awalnya, ia pun tak menginginkan perjodohan ini terjadi, dan pernikahan paksa hanya untuk memperkuat bisnis semata. Tapi, saat tak sengaja melihat Bianca, ia mendadak berubah pikiran. Entah mengapa, wajah Bianca terus mengusik pikirannya. Apalagi sang ayah yang turut memaksanya juga.
Namun, ada yang jauh lebih mengusiknya, bukan soal pernikahan itu—melainkan ancaman yang mengintai gadis itu.
“Paman…” suara Vincent terdengar lebih rendah, lebih dingin. “Aku masih mencari tahu siapa musuh itu sebenarnya. Orang yang menginginkan Celeste Group hancur, dan menjadikan Bianca sebagai target. Insiden granat asap itu sudah pasti direncanakan. Aku curiga, ada orang terdekat yang sengaja bermain di balik ini semua.”
Antonio terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Aku tahu. Dan itulah sebabnya aku memilihmu, Vincent. Kau bukan sekadar penjaga. Kau jauh lebih dari itu. Aku percaya hanya kau yang bisa menemukan dalangnya.”
Mata Vincent berkilat tipis. “Aku pastikan, aku tidak akan mengecewakanmu, Paman.”
“Pastikan itu,” suara Antonio terdengar lebih dingin dari sebelumnya. “Jika Bianca celaka sedikit pun di tanganmu… maka semua ini akan sia-sia. Dan aku tidak pernah memberi toleransi pada sebuah kegagalan. Hanya saja, sebelumnya aku sangat berterimakasih padamu, karena bersedia melakukan ini untuk Bianca.”
Panggilan tersebut sontak diputus secara sepihak. Dan Vincent menurunkan ponselnya perlahan, menggenggam erat perangkat itu di tangannya. Rahangnya tampak mengeras, matanya kembali menatap pintu kamar Bianca.
Di balik tatapan dinginnya, pikirannya berputar cepat. Vincent yakin, jika Bianca adalah kunci. Dan musuh yang ingin menghancurkan Celeste Group, akan datang dengan cara apapun untuk menghancurkan kunci itu.
+++
Pagi ini, sinar mentari menembus tirai tipis di kamar utama penthouse lantai tiga puluh satu. Kamar siapa lagi jika bukan Bianca?
Puan itu membuka matanya secara perlahan, membiarkan siluet cahaya keemasan tersebut menyentuh tubuhnya yang masih berbalut selimut tebal. Bianca menggeliat malas, lalu menatap langit-langit selama beberapa detik—mengingat kembali kejadian semalam.
Vincent Cole.
Nama itu tiba-tiba saja melintas di benaknya seperti sebuah mantra. Dingin, tidak mudah terpengaruh, dan tetap tenang walau telah diberi segala bentuk godaan yang biasanya mampu membuat pria manapun kehilangan kendali. Namun pria itu tak bergeming. Bahkan ketika tali gaun malamnya melorot dan memperlihatkan kulitnya yang nyaris seluruhnya telanjang, Vincent tetap berdiri tegap seperti prajurit istana yang menjaga tahta, bukan menatap sang ratu.
Dan pagi ini, rasa penasaran itu belum juga surut.
Bianca bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju lemari pakaiannya yang besar. Jari-jarinya menyusuri deretan lingerie dan gaun tidur tipis yang menggantung anggun di sana, hingga akhirnya ia memilih satu set pakaian satin berwarna nude. Sangat tipis, sangat menggoda, dan nyaris transparan jika dilihat dari sudut cahaya tertentu. Bahannya jatuh begitu lembut mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping, dengan bahu terbuka, punggung yang nyaris polos, dan belahan dadaa yang cukup dalam untuk memancing reaksi seorang pria.
Rambut panjangnya tidak ia sisir rapi seperti biasa. Justru ia mengikatnya asal ke atas, meninggalkan beberapa helaian yang sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajah, dan menampilkan leher jenjangnya yang indah. Detail kecil ini bukan tanpa tujuan.
Bianca melangkah keluar dari kamar. Telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin, namun ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu—melihat bagaimana reaksi pengawal barunya itu pagi ini.
Suara denting ringan terdengar dari dapur terbuka, tempat pria itu tengah berdiri membelakangi arah kedatangannya. Ia mengenakan kaos polos berwarna hitam dan celana panjang dengan warna yang senada. Simpel, tetapi postur tubuhnya tetap mengesankan. Tegap, kuat, dan tidak menunjukkan celah kelemahan sedikit pun.
Bianca berjalan perlahan, langkahnya sengaja dibuat nyaris tak bersuara, kecuali desiran kain tipis yang menyapu betisnya. Ia berhenti tepat di belakang Vincent dan bersandar di salah satu meja dapur yang dingin. Aroma kopi yang baru saja diseduh memenuhi udara.
“Pagi,” ucap Bianca dengan nada serak yang disengaja—suara khas setelah bangun tidur, namun dengan balutan sensualitas yang terlatih.
Vincent menoleh sebentar, hanya untuk mengangguk. “Selamat pagi, Nona.”
Tatapannya hanya tertuju pada wajah Bianca sejenak, lalu kembali beralih ke cangkir kopi di hadapannya. Tak ada reaksi sama sekali. Seolah yang berdiri di hadapannya hanyalah seorang rekan kerja berpakaian lengkap, bukan wanita setengah telanjang dengan aura menggoda yang begitu kuat.
Bianca menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak percaya. Lagi-lagi pria itu mengabaikannya.
“Tidak ada komentar apa pun untukku? Apa penampilanku pagi ini sama sekali tidak menarik juga di matamu, Vincent?” tanyanya, setengah menggoda, setengah menantang.
Vincent meletakkan sendok kopi ke cangkir, meneguk pelan, lalu menoleh dengan tenang. “Saya sudah terbiasa menghadapi berbagai tipe klien, Nona. Penampilan Anda saat ini sama sekali tidak mengubah prioritas saya.”
“Dan prioritasmu adalah pekerjaan?” bibir Bianca melengkung membentuk senyum miring, tapi matanya penuh provokasi. “Kenapa tidak dengan yang lain? Misalnya… kenikmatan visual?”
Vincent menatapnya sejenak, lalu menjawab tanpa tergesa, “Saya tidak pernah mencampuradukkan tugas dengan godaan, Nona. Terutama ketika godaan itu memang disengaja.”
Bianca memutar bola matanya dan berjalan mengitari dapur, membiarkan cahaya pagi dari jendela besar menyinari lekuk tubuhnya secara jelas. Tapi pria itu tetap tidak melihat ke arahnya. Dan itu membuat Bianca kesal.
“Kau tahu, aku biasanya tidak harus berusaha dua kali untuk membuat seorang pria gugup,” katanya sambil menuang jus delima ke dalam gelas kaca. “Biasanya, mereka akan salah tingkah hanya karena aku lewat di depan mereka.”
Vincent hanya mengangguk singkat. “Mungkin karena saya bukan tipe pria yang Anda harapkan.”
Bianca menatap tajam. “Apa kau seorang gay?”
“Tidak.”
“Jadi kau hanya berpura-pura? Kau berbohong padaku, Vincent?”
Vincent menghela napas ringan, lalu menatapnya dengan sorot mata tajam namun tidak emosional. “Saya tidak berpura-pura, Nona. Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan benar. Jika Anda menginginkan pengagum, bukan pengawal, Anda bisa menyampaikannya langsung pada ayah Anda.”
Kata-kata itu mengenai seperti panah yang melesat cepat. Bianca terdiam beberapa detik, menatap pria itu dengan ekspresi tak terbaca. Lalu ia mengangkat gelas jusnya dan meneguk perlahan.
“Kau memang menyebalkan,” gumamnya pelan. “Tapi meski begitu, anehnya kau kelihatan semakin menarik di mataku.”
Vincent tidak menjawab. Sementara Bianca menatap pria itu sekali lagi, lalu berbalik menuju balkon. Udara pagi yang sejuk menyambutnya, dan cahaya mentari mencium kulit bahunya yang telanjang.
Ia berdiri di sana cukup lama, membiarkan dirinya kembali berpikir. Tentang Vincent, tentang caranya menolak, dan tentang rasa penasaran yang belum juga usai.
Bukan sekedar karena pria itu menolak rayuannya. Tapi karena untuk pertama kalinya, Bianca merasa bahwa ia—seorang Celeste—tidak dapat memegang kendali.
Dan untuk seseorang seperti Bianca Celeste, hal itu tidak bisa diterima begitu saja.
“Lihat saja nanti, Vincent Cole. Aku pastikan kau akan bertekuk lutut di hadapanku!”