Bianca masih berada di balkon saat ini. Angin pagi yang lembut mulai meniupkan helaian rambutnya ke belakang, membuat leher jenjangnya semakin tampak jelas di bawah kilau mentari. Puan itu memejamkan matanya sejenak, lalu meneguk sisa jusnya perlahan. Namun pikirannya tetap saja tertuju pada sang pengawal pribadi, yang tidak lain adalah Vincent Cole.
Pria itu bukan sekedar pengawal biasa. Itu sudah jelas sejak malam pertama pria itu bekerja. Tapi bukan hanya profesionalismenya yang membuat Bianca terusik. Melainkan ketidakpeduliannya. Bahkan ketenangannya pun nyaris tak masuk akal. Ia bukan pria yang mudah dipahami, dan bukan pula pria yang bisa dipermainkan seperti pion di papan catur sosial Bianca.
Dengan napas panjang, ia berbalik meninggalkan balkon. Langkahnya kembali menuju dapur, kali ini tanpa basa-basi atau gaya menggoda. Ia menaruh gelasnya di wastafel dan menatap Vincent lamat-lamat. Pria itu baru saja selesai mencuci tangan, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil berwarna abu.
“Aku ingin pergi hari ini,” ujar Bianca tiba-tiba.
Vincent mengangguk tanpa bertanya ke mana. “Kapan, Nona?”
“Satu jam lagi.”
Pria itu hanya membalas dengan singkat. “Baik, Nona. Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobilnya.”
Bianca sontak menyipitkan mata. Biasanya, atau lebih tepatnya, mantan pengawal-pengawalnya yang kemarin selalu bertanya, kemana ia akan pergi. Jadi, Bianca benar-benar sedikit keheranan dengan Vincent yang sama sekali tidak bertanya, kemana ia akan pergi. Hanya bertanya saja kapan mereka akan pergi.
“Kau tidak bertanya aku ingin pergi ke mana?” tanya Bianca.
“Memangnya, saya harus menanyakan hal itu sekarang juga, Nona Celeste?” tanya balik Vincent. “Bukankah menanyakan hal itu nanti ketika akan berangkat pergi tidak masalah, bukan?”
Nada bicara pria itu, lalu jawabannya yang terkesan menyebalkan membuat Bianca frustasi dan geregetan sendiri. Bianca jadi ingin mengumpat sekarang juga.
“Jika kau bertanya mendadak begitu, memangnya kau yakin jantungmu akan aman setelah mengetahui aku ingin pergi ke mana? Dan jika aku sengaja pergi ke tempat yang berbahaya bagaimana?”
Vincent menatapnya sejenak, matanya berubah menggelap, namun masih terlihat tenang. “Maka saya akan mengambil alih kendali sebelum Anda sempat melangkah lebih jauh.”
Ucapan itu membuat sudut bibir Bianca sedikit terangkat. Ada ancaman di dalamnya, tapi juga perlindungan. Perpaduan yang aneh, tapi terkesan menggoda bagi Bianca.
“Menarik,” gumamnya.
Pria itu tidak menanggapi. Ia berjalan menuju ruang depan untuk memeriksa sistem keamanan yang terhubung ke tablet yang ada di tangannya. Bianca mengikutinya dengan pandangan, lalu mengangkat dagunya sedikit.
“Katakan sesuatu, Vincent.”
Pria itu menoleh. “Tentang apa, Nona?”
“Apakah kau tidak penasaran kenapa aku begitu tertarik padamu? Pada reaksimu jika aku berulah?”
Sejenak, keheningan melingkupi ruangan tersebut. Tapi kemudian, pria itu melangkah pelan ke arah Bianca. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal saja. Ia menatap puan itu secara langsung, dalam, namun tetap tenang.
“Saya tahu alasannya, Nona,” katanya lembut, nyaris berbisik. “Karena Anda belum pernah gagal selama ini, benar?” tanyanya. Vincent tak perlu menjelaskannya secara mendetail, sebab ia yakin betul jika Bianca mengerti akan maksudnya.
Sementara itu, Bianca sontak menahan napas. Belum sempat membalas, Vincent justru kembali melanjutkan.
“Tapi kegagalan tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, itu adalah kesempatan untuk menyadari bahwa tidak semua hal bisa Anda kendalikan, Nona .”
Setelah mengatakan itu, Vincent kemudian mundur satu langkah, lalu kembali berjalan menjauh. Seolah-olah kata-katanya barusan tidak bermakna apa-apa.
Namun bagi Bianca, kalimat itu menghantam dadanya seperti badai.
Untuk sesaat, ia merasa telanjang bukan karena gaun tipis yang ada di tubuhnya—tetapi karena pria itu bisa melihat niat dan kelemahannya dengan begitu jelas. Dengan ketenangan yang tak bisa dibeli, dan kejernihan yang tak bisa dipalsukan.
Dan untuk pertama kalinya, Bianca Celeste merasa sedikit tidak siap. Tapi ia tersenyum kecil, menatap punggung Vincent yang tegap dan menjauh dari pandangannya.
“Kalau begitu, kita lihat saja nanti.” gumam Bianca pelan.
+++
Mobil hitam dengan kaca gelap melaju pelan di jalanan kota yang lengang pada siang hari ini. Di balik kemudi, Vincent Cole duduk tegap dengan tangan yang mantap menggenggam setir. Wajahnya seperti biasa—tenang, tanpa ekspresi, dan penuh kewaspadaan. Di sampingnya, duduk seorang wanita muda dengan balutan dress putih gading dan blazer hitam tipis. Bianca Celeste, anak satu-satunya dari keluarga Celeste yang terpandang, menatap ke luar jendela dengan gelisah.
Namun, hanya beberapa menit sejak mobil meninggalkan halaman rumah, Bianca mulai kehilangan kesabarannya.
“Vincent, kau menyetir seperti lansia yang takut menabrak tiang lampu. Oh, seperti siput lebih tepatnya!” ucap Bianca, nadanya sinis namun tetap terdengar elegan.
Vincent tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seakan protes itu tak terdengar. Satu-satunya tanggapan darinya adalah tekanan tiba-tiba pada pedal gas.
Mobil tersebut sontak melaju lebih cepat, membuat tubuh Bianca terdorong ringan ke belakang. Puan itu spontan memegangi sisi kursinya, ekspresinya mendadak berubah menjadi panik.
“Vincent!” serunya dengan suara setengah meninggi. “Astaga! Aku bilang kau terlalu pelan, bukan menyuruhmu memacu mobil seperti orang yang tidak waras begini!”
Namun, lagi-lagi, pria itu tetap diam. Sorot matanya tajam, fokus pada jalan, seolah-olah tak ada satu pun kata Bianca yang layak mendapat respons.
Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di depan sebuah kafe modern yang terletak di sudut distrik perbelanjaan. Mobil tersebut berhenti mulus di bahu jalan, dan sebelum Bianca sempat kembali melanjutkan omelannya, suara Vincent terdengar, tenang namun mengandung ketajaman tertentu.
“Apa Anda kemari untuk bertemu dengan mantan kekasih Anda, Nona Celeste?”
Pertanyaan itu begitu mengejutkan hingga membuat Bianca sontak terdiam. Sorot matanya kemudian beralih ke depan, mengikuti arah pandang Vincent, dan mendapati seorang pria tampan berdiri di tepi trotoar, melambai ke arah mereka.
Namun, bukannya segera turun atau membalas lambaian itu, Bianca justru kembali menoleh pada pengawalnya. Raut wajahnya terlihat sekali bingung dan seolah tidak menyangka.
“Bagaimana bisa kau tahu jika dia adalah mantan kekasihku, Vincent?”