Bab 4

1297 Kata
“Bagaimana bisa kau tahu jika dia adalah mantan kekasihku, Vincent?” Bianca menatap wajah pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Bianca masih tidak menyangka, Vincent bisa mengetahui jika pria yang tengah melambai di depan itu adalah mantan kekasihnya. Padahal jelas-jelas mereka berdua baru bertemu kemarin sore. Dan jelas jika mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Aneh rasanya jika tiba-tiba saja Vincent mengetahui soal mantan kekasihnya. Apalagi sampai mengetahui rupanya. “Aku tanya sekali lagi, dari mana kau tahu jika pria itu adalah mantan kekasihku, Vincent?” tanya Bianca kembali. Kali ini lebih menekan. Vincent belum juga menjawab, dan hanya terus menatap lurus ke arah mantan kekasih Bianca, yang saat ini justru sedang berjalan mendekati mobil mereka. Bianca tentu dibuat kesal dengan keterdiaman Vincent saat ini. Karena jujur saja, tingkat kesabaran seorang Bianca Celeste ini sangatlah tipis. Mungkin jika diibaratkan dengan tisu, kesabaran Bianca seperti tisu yang dibagi menjadi lima bagian. “Vincent, jangan membuatku murka dengan mengabaikan pertanyaan ku.” ujar Bianca. Vincent lantas menoleh dan menyahut, “saya tidak berniat untuk mengabaikan pertanyaan Anda, Nona." Bianca mendengus. Makin kesal saja ia mendengar balasan dari pengawal barunya tersebut. “Dengar, Vincent, aku benar-benar tidak suka jika ada seseorang yang masuk dalam ranah privasiku. Dengan kau yang tiba-tiba tahu jika pria itu adalah mantan kekasihku dengan hanya melihat wajahnya sekali sudah membuktikan jika kau telah melewati batas. Jika hanya menyebut nama saja tanpa ada orangnya mungkin masih bisa aku terima, karena mungkin saja kau sudah mendengarnya dari seseorang. Tapi, apa ini Vincent? Kau baru melihat wajahnya dan langsung tahu jika dia adalah mantan kekasihku. Apa sebelumnya kau diam-diam memata-matai aku, hah? Jika benar, ini sudah melanggar privasi dan—” “Ayah Anda,” sela Vincent. “Saya tahu dari Ayah Anda, Nona.” Bianca mendecih. “Ck! Kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu? Bilang saja jika memang sebelumnya kau sudah memata-matai aku dan mengincarku! Kau—” “Saya bisa buktikan,” sela Vincent kembali. Bianca terdiam sesaat. Matanya menyipit tajam ke arah Vincent, mencoba menangkap kebohongan di wajah datar yang selalu tampak tanpa ekspresi itu. Namun seperti biasa, wajah Vincent tetap tak menunjukkan apapun selain ketenangan yang nyaris menyebalkan. “Saya bisa buktikan,” ulang Vincent, kali ini lebih tenang, namun suaranya mengandung tekanan yang membuat Bianca terpaksa menahan amarahnya sejenak. “Ayah Anda yang memberikan informasi tentang mantan kekasih Anda, Ethan Morello. Saya bisa tunjukkan bukti chat-nya pada Anda sekarang juga. Bahkan Ayah Anda juga serta merta mengirim foto kekasih Anda pada saya. Jadi sudah jelas, alasan kenapa saya langsung notice pria itu adalah mantan Anda.” lanjut pria itu. Bianca menghela napas. Masih tidak habis pikir dengan penjelasan panjang lebar dari Vincent barusan. Tapi meski begitu, Bianca tetap saja kesal. Mau pria itu tahu dari ayahnya, atau dari siapapun juga, tidak akan bisa mengubah kekesalannya perihal informasi pribadinya. “Aku tidak peduli kau tahu itu dari ayahku. Tetap saja kau salah, karena apapun yang kau ketahui tentangku, aku anggap sebagai bentuk kesalahan karena sudah mengusik ranah privasiku.” “Kalau begitu, saya minta maaf." sahut Vincent dengan gampangnya. Bianca sampai menganga, sebab baru kali ini ia memiliki pengawal yang macam Vincent begini. Sangat terlihat menyebalkan dan menganggap kemarahannya ini seolah hanya karena hal yang sepele. “Aku tidak percaya ini...” gumam Bianca, suaranya nyaris tak terdengar. Puan itu benar-benar tidak menyangka sekali. “Ada apa, Nona?” “Masih bisa kau bertanya ada apa?” tanya balik Bianca. “Kau ini sangat—hah! Menyebalkan!” Belum sempat Vincent menyahut, Bianca sudah lebih dulu bergegas keluar dari mobil tersebut. Bahkan tatapan matanya begitu tajam, penuh dengan kekesalan pada pria itu. Sampai-sampai menutup pintu mobil pun menggunakan tenaga yang berlebih dan kasar. Bianca menghela napas panjang, dan mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum ke arah pria yang saat ini berhenti tepat di depannya. “Akhirnya kau keluar juga, sebelum aku mengetuk kaca mobilmu.” ujar pria itu, yang tak lain adalah mantan kekasih dari Bianca—Ethan Morello. “Sayang sekali ya kalau begitu? Padahal harusnya kan aku menunggu saja sampai kau mengetuk jendela mobilku, lalu membukakan pintu untukku, dan membantuku turun dari mobil seperti seorang ratu. Benar kan?” Ethan tersenyum kecil mendengar balasan dari Bianca. Apalagi suara puan itu yang terdengar begitu manja, centil dan manis sekali. “Benar sekali sayang,” sahut Ethan. “Apa kau ingin mengulangnya? Aku akan membukakan pintu mobil untukmu.” Bianca menggeleng dengan ekspresi wajah yang super centil sekali, dan Ethan terkekeh kecil melihat hal tersebut. Ini adalah salah satu alasan mengapa ia sulit melupakan Bianca. “Tidak perlu, sayangku Ethan. Lebih baik kita—” Suara deheman dari seseorang yang tak lain adalah Vincent pun terdengar, di ikuti dengan suara pintu mobil yang tertutup. Bianca yang melihat itu tentu langsung memutar bolamatanya malas. Apalagi ketika Vincent semakin mendekat ke arahnya dan Ethan. “Siapa dia, Bi?” Bianca tersenyum tipis, tatapannya seakan menyapu Vincent dari ujung kepala hingga kaki sebelum menjawab pertanyaan Ethan. “Dia?” Bianca melirik sekilas ke arah Vincent, lalu kembali memusatkan perhatian penuh pada pria di depannya. “Oh, dia hanyalah… pengawal pribadiku. Tidak lebih.” Ethan menaikkan sebelah alisnya. “Pengawal? Baru kali ini aku melihatmu membawa pengawal. Biasanya, kau tetap akan pergi sendiri, meskipun memiliki pengawal.” Bianca tersenyum manis, mendekat selangkah ke arah Ethan hingga jarak mereka hanya sejengkal. “Tentu saja. Ayahku yang merekrutnya, dan dia ini sangat patuh pada Ayah. Kau tahu kan, dari dulu aku tidak pernah mau memiliki pengawal? Apalagi modelan pengawal yang justru jauh lebih mirip seperti seorang pengawas.” Nada suara puan itu dibuat cukup keras agar Vincent jelas mendengarnya. Vincent tetap diam di belakang mereka, namun tatapan matanya terfokus, seolah sedang menilai setiap gerak-gerik Bianca. Bianca memiringkan kepalanya ke arah Ethan, matanya berkilat nakal. “Tapi lupakan soal dia. Aku lebih tertarik padamu sekarang ini, Ethan.” Tanpa sungkan, Bianca meraih lengan Ethan, jarinya dengan sengaja menyusuri otot pria itu sebelum akhirnya menggenggamnya dengan lembut. “Kau masih sama seperti dulu. Harum parfummu, cara kau menatapku, kenapa membuatku merasa jika kita tidak pernah berpisah ya sebelumnya?” Ethan tertawa kecil, lalu membalas genggaman itu. “Aku juga merasakan hal yang sama, Bianca. Kau bahkan terlihat jauh lebih cantik daripada terakhir kali kita bertemu.” Bianca tertawa pelan, lalu dengan santai melingkarkan lengannya ke bahu Ethan—gerakan yang jelas bisa membuat siapa pun yang melihatnya merasa mereka sangat dekat. “Kau terlalu manis, Ethan,” bisiknya, sengaja dengan nada lembut yang penuh keintiman. Dari sudut matanya, Bianca bisa melihat rahang Vincent sedikit mengeras. Dan hal itu yang memang ia mau. “Bagaimana kalau kita masuk ke dalam sekarang? Aku sudah ingin makan dan minum bersama denganmu di kafe penuh kenangan kita ini.” ajak Ethan, suaranya rendah namun penuh ajakan nostalgia. Bianca pura-pura berpikir sebentar, lalu tersenyum. “Tentu saja, tapi…” Ia menoleh ke arah Vincent, matanya menatap pria itu tajam, nyaris menantang. “Pengawalku harus ikut masuk ke dalam. Karena dia ditugaskan untuk menjagaku agar tetap aman. Bukankah begitu, Vincent?” Vincent hanya menatapnya datar, lalu kemudian mengangguk. “Tugas saya memang untuk memastikan Anda tetap aman, Nona.” Bianca mengangkat dagunya sedikit, bibirnya melengkung sinis ke arah Vincent. Dan hal tersebut menarik perhatian Ethan. Ethan menoleh ke arah Bianca, sedikit bingung. “Kenapa, Bi? Ada sesuatu?” “Oh, tidak ada,” jawab Bianca cepat, sambil menepuk lembut d**a Ethan. Lalu kemudian puan itu, dengan sengaja, meraih tangan Ethan. Bianca tahu, setiap langkah kecil yang ia lakukan saat ini adalah untuk menunjukkan pada Vincent bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun berani mengaturnya. Apalagi sampai melebihi batas. “Ayo sayang,” ujar Bianca, sambil mengaitkan tangannya erat di pinggang Ethan, lalu berjalan melewati Vincent begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN