Bianca dan Ethan baru saja memasuki kafe yang menjadi tempat favorit mereka berdua, saat masih bersama. Aroma kopi bercampur sedikit harum kayu manis menguar di udara. Bianca lantas dengan cepat memilih meja di sudut dekat jendela besar, tempat dimana nantinya, cahaya sore dapat menembus kaca dan menimpa wajahnya dengan sempurna.
Ia duduk berhadapan dengan Ethan, sedangkan Vincent berdiri tidak jauh di belakang kursinya, dengan posisi yang memungkinkan untuk mengawasi seluruh ruangan. Sikap tubuhnya begitu tegap, namun sorot matanya tetap terfokus—terlalu terfokus—pada Ethan.
Bianca mengetukkan ujung jarinya pelan di atas meja, pura-pura tidak memperhatikan Vincent yang berdiri di belakang. Namun dalam hati, ia menyadari setiap tatapan yang Vincent berikan, seperti sebuah peringatan yang tak diucapkan.
Ethan tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di kursi. “Kau masih ingat, meja ini dulu yang kita rebutkan dari pasangan lain hanya karena kau ingin duduk di dekat jendela.”
Bianca terkekeh, lalu menyandarkan dagunya pada punggung tangannya. “Tentu saja aku ingat. Dan lihat saja sekarang, meja ini masih menjadi tempat yang paling nyaman.” ucapannya sengaja dibuat manis, dengan pandangan mata yang tertuju pada wajah Ethan.
Pelayan datang membawa menu, namun Bianca nyaris tidak melihatnya. Ia membiarkan Ethan yang mengambil alih, memilihkan minuman untuknya seperti dulu. Bianca diam-diam melirik Vincent sekilas—hanya sekilas, namun cukup untuk menangkap perubahan kecil di rahang pria itu yang mengeras saat melihat betapa bebasnya ia membiarkan Ethan mengatur pesanan.
Setelah pelayan pergi, Bianca bersandar sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya pada Ethan. “Kau tahu,” ujarnya pelan, “aku tidak menyangka bisa duduk di sini lagi bersamamu. Rasanya seperti tidak pernah ada waktu yang memisahkan kita berdua.”
Ethan tersenyum, matanya memandang Bianca seolah puan itu satu-satunya orang di ruangan tersebut. “Mungkin memang hanya waktu yang memisahkan kita, Bi. Bukan rasa.”
Bianca tertawa pelan, lalu tanpa ragu menyentuh jemari Ethan yang berada di atas meja tanpa izin. “Kau selalu tahu bagaimana caranya bicara, yang bisa membuatku tersenyum.” Sentuhan itu bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya, jelas bukan kebetulan, tapi disengaja.
Dari sudut matanya, Bianca bisa melihat Vincent menggeser posisinya setengah langkah. Tubuhnya masih berdiri tegap, namun matanya seolah tidak pernah berkedip menatap tangan Bianca dan Ethan yang saling menyentuh.
Ethan merespons sentuhan dari Bianca dengan senyum tipis, jemarinya perlahan menggenggam balik tangan puan itu. “Aku selalu tahu, karena aku mengenalmu terlalu baik,” katanya dengan suara rendah, seolah hanya ditujukan untuk Bianca seorang.
Bianca mengangkat alisnya, matanya berkilat penuh tantangan. “Benarkah? Bahkan lebih baik daripada orang yang kini mulai berada di sisiku?” ucapnya lirih, sambil melirik sekilas ke arah Vincent.
Vincent tidak bergerak, namun sorot matanya semakin dingin, tajam menusuk ke arah Ethan. Sekilas, rahangnya kembali menegang, tanda bahwa ia sama sekali tidak menyukai permainan kecil tuannya.
Ethan menoleh singkat ke arah Vincent, lalu tertawa kecil. “Ah, jadi ini alasan kenapa kau begitu mudah terlihat… dijaga sekarang? Pengawal pribadimu rupanya lebih dari sekedar bayangan.” Nada suaranya terdengar sinis, meski bibirnya masih melengkungkan senyum.
Bianca justru semakin tersenyum lebar, seakan menikmati ketegangan yang muncul. “Ya, Vincent memang selalu ada di sisiku,” ujarnya manis, lalu ia menekankan genggamannya pada tangan Ethan sedikit lebih erat. “Tapi itu tidak berarti ia tahu segala hal tentangku, atau bisa menghentikanku melakukan apa yang aku mau.”
Kalimat itu bagaikan pisau bermata dua—satu sisi ditujukan untuk menantang Vincent, sisi lainnya untuk membuat Ethan semakin percaya diri.
Vincent akhirnya membuka suara, suaranya rendah namun tegas. “Nona, saya tidak dalam posisi untuk melarang Anda. Tugas saya hanya memastikan agar Anda tetap aman.”
Bianca menoleh sedikit, matanya menatap Vincent dengan senyum menantang. “Kalau begitu, lakukan tugasmu dengan baik, Vincent. Dan biarkan aku menikmati waktuku di sini.”
Ethan terkekeh pelan, jelas terhibur dengan interaksi itu. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Bianca, begitu dekat hingga jarak wajah mereka hanya sejengkal. “Kau memang tidak pernah berubah, Bi. Selalu tahu cara membuat orang di sekelilingmu berubah menjadi gelisah.”
Bianca membalas dengan lirikan penuh arti, lalu sengaja mengangkat gelas air di hadapannya dan menyerahkannya ke arah Ethan. “Buktikan kalau kau masih mengenalku dengan baik, Ethan. Tebak, apa yang paling aku sukai belakangan ini?”
Ethan menerima gelas itu, menatapnya sekilas, lalu tersenyum yakin. “Kau tetap suka dengan sesuatu yang sederhana, tapi manis. Seperti dirimu.”
Bianca tertawa renyah, meski matanya kembali mencuri pandang ke arah Vincent. Ia ingin tahu—sejauh mana pengawalnya itu bisa menahan diri sebelum akhirnya bereaksi lebih dari sekedar tatapan.
“Astaga Ethan, kau memang selalu menakjubkan!” seru Bianca. “Dari sekian banyak deretan mantan-mantanku, hanya kau yang mengenalku dengan sangat baik. Aku jadi ingin memberimu hadiah khusus,”
Ethan mengangkat sebelah alisnya dan menyahut, “hadiah khusus? Apa itu?”
Bianca bergumam sembari menarik pelan tangannya dari genggaman pria itu. Lalu dengan sengaja menegakkan tubuh, dan menggerakkan bagian dadanya ke arah Ethan, dengan senyuman yang super menggoda. “Apa kau masih suka ini? Ingin coba menyentuhnya?”
“Bi—”
“Oh, atau sebaiknya kita ke toilet dulu sebentar, sebelum pesanan kita datang?” sela Bianca, mengkode dengan tatapan sensual.
Wajah Ethan kontan berubah penuh gairah mendengar ucapan Bianca yang begitu lugas. Ia menatap lekat-lekat ke arah puan itu, seolah menimbang apakah Bianca benar-benar serius atau hanya sedang bermain-main seperti dulu. Senyum tipis muncul di bibirnya, dan jemarinya yang tadinya berada di atas meja kini terangkat, hampir menyentuh lengan Bianca.
“Bianca, kau benar-benar…” Ethan terkekeh kecil, suaranya serak, “…masih sama gilanya seperti dulu.”
Bianca hanya menatapnya dengan senyum penuh tantangan, seolah berkata bahwa ia memang sengaja membuat situasi semakin panas. Tatapan matanya begitu menusuk, manis sekaligus berbahaya.
Namun di belakangnya, Vincent berdiri kaku. Napasnya tertahan, matanya memalingkan sekilas ke arah jendela, berusaha menahan reaksi. Ia bukan pria yang mudah diusik, tapi mendengar tuannya berbicara sefrontal itu, apalagi di hadapan mantan kekasih yang jelas masih menaruh minat membuat malu.
Bianca sempat melirik ke arah Vincent dari sudut matanya, dan menemukan sedikit rona merah di telinga pria itu. Jadi, bahkan si dingin Vincent bisa salah tingkah juga, batinnya puas.
Ethan mencondongkan tubuh, mendekat begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. “Kalau aku bilang iya, apa kau benar-benar akan menepati ucapanmu, Bi?” tanyanya setengah berbisik, nadanya setajam ujung pisau.
Alih-alih mundur, Bianca justru semakin memajukan wajahnya, bibirnya nyaris menempel di telinga Ethan. “Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku, Ethan,” bisiknya, lalu ia tertawa kecil dengan nada genit.
Vincent akhirnya menghela napas dalam, lalu melangkah setengah ke depan, suaranya terdengar dingin dan dalam. “Nona.” Hanya satu kata, tapi cukup membuat kepala-kepala meja terdekat menoleh sekilas karena intonasinya tegas sekali.
Bianca menoleh setengah ke arah Vincent, pura-pura tidak peduli. “Apa lagi, Vincent? Jangan bilang kau mau melarangku bercanda dengan Ethan. Kau kan sudah bilang tugasmu hanya memastikan aku aman.”
Mata Vincent bertemu dengan mata Bianca. Dalam sekejap, Bianca bisa membaca sesuatu di dalam tatapan itu.
“Aman,” ulang Vincent, kali ini lebih lambat, lebih berat. “Dan saya rasa apa yang Anda ucapkan barusan bukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai ‘aman’.”
Ethan terkekeh kecil, tampak menikmati setiap gesekan ketegangan di meja itu. “Kau dengar, Bi? Bahkan pengawalmu pun sudah mulai ikut campur.”
“Maaf Tuan, tapi Anda—”
“Kenapa kau jadi ketus pada Ethan?”