Bab 6

1262 Kata
“Kenapa kau jadi ketus pada Ethan?” sela Bianca cepat, memotong kalimat Vincent sebelum selesai. Suaranya terdengar ringan, namun sarat dengan nada tantangan. Ia menatap lurus pada pengawalnya itu, seolah-olah memang sengaja mendorong kesabarannya sampai ke batas. Vincent tidak segera menjawab. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya begitu tajam hingga membuat udara di sekitar mereka seakan menegang. Rahangnya kembali mengeras, menandakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, meski ia berusaha keras untuk tetap terlihat profesional. Ethan tersenyum puas melihat interaksi tersebut. Ia bersandar santai di kursinya, lalu berkata dengan nada mengejek, “Mungkin pengawal pribadimu ini lupa akan posisinya, Bi. Seharusnya ia hanya berdiri manis, bukan ikut campur atau pun menilai ucapan tuannya.” Bianca terkekeh, sengaja menutup mulutnya dengan tangan seolah untuk menahan tawa, meski jelas ia menikmatinya. “Nah, kau dengar sendiri, Vincent? Bahkan Ethan saja merasa terganggu dengan sikapmu yang terlalu serius. Jangan kaku begitu, kau bisa membuat suasana berubah menjadi lebih menyebalkan.” Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, Vincent mengalihkan pandangannya dari Ethan dan menatap lurus ke arah Bianca. Tatapan itu begitu menusuk, seolah ingin menembus lapisan senyum manis yang sedang ia pamerkan. Suaranya tenang, tetapi penuh tekanan. “Nona,” ucapnya perlahan, “saya tidak akan pernah merasa keberatan dicap kaku atau menyebalkan. Tetapi saya tidak akan tinggal diam jika Anda menempatkan diri Anda dalam situasi yang bisa merugikan diri sendiri.” Kata-kata itu membuat senyum Bianca sedikit meredup, meski hanya sejenak. Ia segera kembali memaksakan lengkung bibirnya, namun hatinya sempat bergetar kecil—ada sesuatu dalam nada Vincent yang lebih dari sekadar peringatan seorang pengawal pada tuannya. Ethan justru menertawakan ketegangan itu. “Luar biasa. Sepertinya pengawal pribadimu lebih kurang ajar daripada yang kau kira, Bi.” Ia mencondongkan tubuh, tangannya hampir menyentuh tangan Bianca lagi di atas meja. “Kalau aku boleh jujur, aku tidak menyangka kau akan memilih orang seperti ini untuk selalu ada di sisimu. Begitu dingin, dan begitu mengekang.” Bianca melirik Ethan, lalu dengan sengaja menggenggam tangannya sekali lagi—lebih erat dari sebelumnya. “Mungkin karena ayahku tahu, hanya dia yang bisa menjagaku,” ucapnya pelan, lalu menoleh singkat ke arah Vincent, matanya berkilat penuh tantangan. “Tapi menjaga tidak sama dengan mengendalikan, bukan begitu, Vincent?” Vincent tidak bergeming. Sorot matanya tetap fokus pada tuannya, meski dalam hatinya, kalimat Bianca itu menohok lebih tajam daripada yang ia perlihatkan di wajah. Di meja itu, permainan halus antara godaan, gengsi, dan pengendalian diri kian menebal. Dan Bianca, dengan senyum menawan serta sikap penuh provokasi, tampak bertekad untuk melihat sampai sejauh mana batas kesabaran Vincent dapat ia dorong. Tak seberapa lama, pelayan datang membawa pesanan, meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Aroma pekatnya langsung memenuhi udara, namun tak seorang pun dari ketiganya benar-benar memperhatikannya. Ketegangan yang menggantung jauh lebih kuat daripada sekedar aroma kopi. Bianca menarik cangkirnya perlahan, lalu meniup permukaan kopi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Terima kasih,” ucapnya sopan pada pelayan, sebelum kembali menatap Ethan dengan senyum yang hangat. “Kau masih ingat?” tanyanya manis. “Kau selalu memesan kopi hitam untukmu, dan cappuccino untukku. Kebiasaan kecil yang bahkan sekarang pun tidak bisa aku lupakan.” Ethan tersenyum bangga, seolah menangkap maksud Bianca yang ingin menegaskan kedekatan mereka. “Tentu saja aku ingat. Karena bagiku, kau tidak pernah berubah.” Ia lalu mengangkat cangkirnya, menyesap pelan, dan menatap Bianca dengan penuh arti. Bianca membalas tatapan itu dengan sorot mata yang lembut, namun penuh tantangan. Jemarinya masih bertaut dengan tangan Ethan, tak peduli betapa menusuknya tatapan Vincent di belakang punggungnya. Ia tahu betul—bahwa setiap sentuhan yang ia lakukan hanyalah semacam ujian bagi kesabaran pria dingin itu. Vincent sendiri berdiri kaku, kedua tangannya terkepal halus di belakang tubuhnya. Rahangnya semakin mengeras, dan tatapannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Bianca dan Ethan yang dipamerkan di atas meja. Bianca lalu sengaja mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Ethan, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa jengkal. “Kalau begitu,” bisiknya lirih, “apa yang berubah hanyalah waktu, bukan rasa.” Ucapan itu membuat Ethan tersenyum lebar, puas sekaligus terbuai. Jemarinya terangkat, hendak menyentuh pipi Bianca. Namun sebelum benar-benar menyentuh, suara berat dan tegas Vincent memotong udara. “Nona.” Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat Ethan menahan gerakannya, dan Bianca terpaksa menoleh setengah ke belakang. Tatapan Vincent begitu dingin, tak memberi ruang untuk bercanda. “Sudah cukup,” lanjut Vincent dengan nada rendah, nyaris berbisik, tetapi mengandung perintah yang tidak bisa diabaikan. “Anda sedang berada di ruang publik. Setiap tindakan Anda diperhatikan, dan itu bisa berbalik merugikan diri Anda sendiri.” Bianca mengerlingkan matanya, separuh kesal, separuh terhibur. “Apa kau selalu harus membuat segalanya terlihat begitu serius, Vincent? Apa menurutmu, aku ini anak kecil yang tidak tahu bagaimana bersikap?” “Bukan itu maksud saya,” Vincent menundukkan kepalanya sedikit, tetap dengan sikap formal. “Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk melindungi Anda, bahkan dari keputusan Anda sendiri.” Kalimat itu berhasil membungkam Bianca untuk sesaat. Senyumnya masih terpasang, namun dalam hatinya, ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekedar peringatan profesional dalam suara Vincent. Ada nada lain, yang entah mengapa membuatnya nyaris goyah. Ethan yang sejak tadi menyaksikan perdebatan itu hanya terkekeh rendah. “Kau lihat, Bi? Bahkan pengawal pribadimu pun tidak percaya padamu. Bagaimana mungkin kau bisa hidup bebas kalau setiap langkahmu dikendalikan oleh pria sepertinya?” Bianca segera tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, lalu menoleh penuh ke arah Ethan. “Tenang saja. Aku masih bisa melakukan apa pun yang aku mau.” Dan untuk membuktikannya, ia mendekatkan wajahnya semakin dekat pada Ethan, nyaris menyentuh bibir pria itu. Vincent mengepalkan tangannya lebih erat di belakang tubuhnya, hingga buku jarinya memucat. Dan ini, bukan karena ia cemburu, bukan. Pria itu hanya menarik napas panjang dalam-dalam, lalu menegakkan bahunya lebih tegak dari sebelumnya. Ia tetap diam, matanya lurus menatap ke depan tanpa menanggapi sedikit pun provokasi yang Bianca lancarkan. Bianca melihat itu dari sudut matanya. Ada secercah kekecewaan yang melintas, namun ia menolaknya dengan cepat. Ia tidak mau kalah. Maka, tanpa ragu, ia menoleh kembali ke arah Ethan—dan kali ini, benar-benar menutup jarak. Bibirnya menyentuh bibir Ethan dengan lembut, singkat, namun cukup untuk membuat suasana di meja itu membara oleh ketegangan yang tidak kasat mata. Ethan membalas ciuman itu dengan antusias, seolah ingin menegaskan pada Vincent bahwa ia menang. Tangan Ethan bergerak, hampir meraih sisi wajah Bianca. Namun Bianca segera menarik diri, hanya meninggalkan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia menoleh singkat ke arah Vincent, menanti sesuatu—kemarahan, teguran, atau bahkan sekadar perubahan di wajah pria itu. Namun yang ia dapatkan hanyalah ketenangan yang kaku. Vincent tetap berdiri di posisinya, tatapan matanya tidak berubah, sikapnya tidak bergeming. Seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal sepele yang tidak layak untuk mendapatkan reaksi. Senyum di wajah Bianca perlahan memudar. Hatinya berdenyut aneh, seakan-akan ia baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sengaja mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Ethan lebih erat lagi, berharap itu akan memancing reaksi. Tetapi tetap, Vincent hanya diam. Bibir Bianca terkatup rapat. Senyum manis yang tadi ia pamerkan hilang sudah, berganti dengan ketidaknyamanan yang perlahan menggerogoti dirinya sendiri. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, berusaha menyembunyikan kilatan kesal yang mulai terasa nyata di matanya. Sementara itu, Ethan menyangka semua berjalan sesuai keinginannya. Ia menepuk tangan Bianca dengan penuh percaya diri, merasa seolah ia baru saja memenangkan permainan ini. Namun hanya Bianca yang tahu—di balik genggaman tangannya, ada bara kecil yang mulai tumbuh, bukan pada Ethan, melainkan pada dirinya sendiri. Bara kesal karena Vincent justru memilih untuk tidak bereaksi sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN