Bab 7

1239 Kata
Bianca melipat kedua tangannya, sambil memanyunkan bibirnya kesal. Tatapannya lurus ke depan, pada jalanan yang lumayan lenggang malam ini. Puan itu tidak dapat mengontrol ekspresi wajahnya sama sekali, jika sedang dilanda kesal bukan main akan sesuatu. Dan pemicunya adalah orang yang sedang fokus mengemudi di sampingnya saat ini. Sejak Vincent memutuskan untuk diam dan tidak ikut campur dalam urusannya dengan Ethan tadi di cafe, Bianca justru dibuat kesal. Bukan ini yang Bianca inginkan. Bukan keterdiaman Vincent yang dia harapkan. Bianca menoleh sekilas dengan tatapan yang cukup sengit. Namun yang tengah ditatap justru tidak merasa sama sekali. Atau mungkin tahu, merasa juga jika sedang ditatap, namun memilih untuk mengabaikan? Bianca melipat kedua lengannya lebih erat, seakan mencari perlindungan dari rasa jengkel yang kian menguasai. Napasnya ia hembuskan dengan berat, lalu kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. Lampu-lampu kota berkelebat, namun tak mampu mengalihkan pikirannya dari perasaan kesal terhadap pria yang berada di balik kursi kemudi. Vincent—pria itu selalu menjaga jarak, menempatkan dirinya seolah hanya sebatas bayangan yang mengikuti. Ia hadir, melindungi, mengawasi—namun tidak pernah benar-benar ikut terlibat ketika Bianca justru menginginkan kehadirannya. Sejak insiden di kafe bersama Ethan, hati Bianca semakin panas. Ia tidak ingin Vincent menjadi saksi pasif, berdiri di pinggir seakan apa yang ia lakukan sama sekali tidak penting. Ia ingin pria itu memberikan reaksi. Ia ingin keberpihakan. Ia ingin keterlibatan yang lebih dari sekedar seorang pengawal pribadi yang menjaga tubuhnya. Tatapannya kembali jatuh pada Vincent. Rahang kokoh pria itu tampak tegang, sorot matanya fokus lurus ke depan. Seakan benar-benar tidak terganggu dengan tatapan tajam Bianca yang menusuk ke arahnya. “Kau memang sepertinya memiliki hobi mengabaikan majikan ya? hmm,” gumam Bianca, suaranya cukup keras untuk terdengar. Vincent tidak menoleh. Jemarinya tetap mantap di kemudi, tidak ada perubahan pada nada suaranya yang datar ketika ia menjawab, “Saya tidak pernah berusaha untuk mengabaikan Anda, Nona. Saya hanya tidak ingin terlibat dalam sesuatu yang bukan bagian dari tugas saya.” Bianca mendengus sinis. “Tugas? Jadi menurutmu, ketika seorang pria yang pernah menjadi bagian dari hidupku datang, itu bukan urusanmu?” “Saya tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan pribadi Nona Bianca,” jawab Vincent tegas. “Bukankah itu yang Anda inginkan tadi? Tidak mungkin jika tiba-tiba saja Anda lupa ingatan kan, Nona?” Bianca spontan menoleh, alisnya terangkat tinggi mendengar balasan Vincent yang kali ini terdengar jauh lebih menusuk daripada biasanya. “Apa kau baru saja menyindirku, Vincent?” tanyanya dengan nada tak percaya, suaranya meninggi. Vincent tetap tenang, sorot matanya tidak beranjak sedikit pun dari jalanan di depan. “Saya hanya mengingatkan, Nona. Anda sendiri yang menuduh saya terlalu ikut campur. Jadi ketika saya memilih diam, Anda kembali marah. Apa sebenarnya yang Anda inginkan dari saya?” Kalimat itu membuat Bianca terdiam sepersekian detik. Ada benarnya, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Puan itu menggigit bibir bawahnya, lalu melipat kedua tangan lebih erat. “Jadi sekarang kau balik bertanya padaku? Bukankah posisimu seharusnya hanya menjawab, bukan mempertanyakan?” Sudut bibir Vincent nyaris bergerak—bukan senyum, melainkan seolah ingin menghela napas panjang. Namun ia menahannya. Suaranya tetap datar, meski jelas ada ketegangan yang merambat di dalam nada bicaranya. “Maaf, Nona. Jika sikap saya tidak sesuai dengan yang Anda harapkan, saya akan perbaiki. Tapi saya harap Anda sadar, saya tidak bisa membaca isi hati Anda. Saya hanya menjalankan apa yang menurut saya benar.” Bianca mendengus, menatap tajam profil wajah Vincent dari samping. Pria itu tampak tenang, terlalu tenang, dan justru itulah yang membuat darahnya mendidih. Ia ingin membuat Vincent goyah. Ia ingin melihat celah, sekecil apa pun, yang bisa membuktikan bahwa pria itu bukan sekedar patung berwajah dingin. “Kalau begitu,” ucap Bianca dengan nada menantang, “mungkin aku harus memberimu pelajaran. Agar kau tahu, seorang pengawal bukan hanya soal menjaga tubuh majikannya, tapi juga ikut memastikan hati majikannya tidak dibiarkan remuk begitu saja.” Vincent akhirnya melirik sebentar, sorot matanya tajam, namun ia kembali mengalihkan pandangan ke jalan. “Hati Anda bukan tanggung jawab saya, Nona.” Kata-kata itu seperti pisau dingin yang menusuk d**a Bianca. Senyum miring muncul di wajahnya, meski hatinya bergetar hebat. “Bagus sekali. Jadi menurutmu, aku ini hanya sekedar beban pekerjaan ya?” Vincent tidak menjawab kali ini. Hanya kesunyian yang menyelimuti mobil, disertai suara mesin yang mendengung stabil. Bianca menahan napasnya, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi dengan kasar. Matanya terpejam, namun jemarinya terkepal di pangkuan. Ia membenci Vincent karena berkata begitu, tapi di saat yang sama, justru semakin ingin tahu seberapa jauh lagi pria itu bisa bertahan dengan sikap dinginnya. +++ Setibanya di penthouse, suasana hening seolah mengiringi keduanya. Vincent membuka pintu, memberi jalan bagi Bianca untuk masuk lebih dahulu, sebagaimana protokol yang sudah mendarah daging baginya. Namun, tatapan Bianca saat melintas di hadapannya penuh dengan bara emosi yang belum padam sejak dari perjalanan pulang barusan. Puan itu melangkah cepat ke ruang tamu, melepas mantel panjangnya dengan gerakan kasar. Ia berbalik, menatap Vincent yang masih berdiri dengan tenang di ambang pintu. “Kunci pintunya!” perintah Bianca dingin. Vincent menuruti tanpa protes, lalu kembali berdiri tegap menunggu instruksi berikutnya. Namun Bianca hanya menatapnya lama, dengan senyum tipis yang penuh ironi. “Seharian ini kau berhasil membuatku kesal, Vincent. Kau benar-benar tidak tahu cara bersikap sebagai pengawal yang baik. Jadi, aku rasa, sudah sepantasnya aku memberimu hukuman.” Vincent tetap tidak bereaksi, meski alisnya sempat bergerak samar. “Hukuman, Nona?” tanyanya datar. “Ya,” jawab Bianca cepat. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan pria itu. “Kau terlalu tenang, terlalu dingin, seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menyentuhmu. Jadi mari kita lihat… sejauh mana kau bisa mempertahankan wajah datarmu itu.” Vincent tidak bergeser sedikit pun ketika Bianca mengulurkan tangan, menarik kerah kemejanya. Lalu diikuti dengan gerakan Bianca yang membuka satu per satu kancing kemeja pria itu. “Lepaskan,” perintahnya, matanya menantang. Vincent sempat menghela napas perlahan, namun tanpa perlawanan ia menuruti. Kemeja itu akhirnya terlepas, menyingkap tubuh tegap dengan otot yang terlatih disiplin. Bianca melipat tangannya di d**a, menatap puas seolah baru saja memenangkan sebuah permainan. “Mulai malam ini, kau berdiri di sini. Tepat di tengah ruang tamu. Sampai pagi.” Vincent menoleh sekilas, memastikan ia tidak salah dengar. “Berdiri… sampai pagi?” “Benar sekali,” Bianca mengangkat dagunya tinggi, seperti seorang ratu yang baru saja menjatuhkan vonis. “Tetap di situ sambil bertelanjang d**a. Biarkan mataku puas melihatmu, biarkan kepalamu tahu bagaimana rasanya menjadi tontonan. Itu hukumanku untukmu.” Keheningan menyelimuti ruangan. Vincent hanya berdiri tegap, menatap Bianca beberapa detik, lalu menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk persetujuan. “Baik, Nona.” Bianca tersenyum miring, langkahnya ringan ketika ia berjalan menuju kamarnya. Namun sesampainya di ambang pintu, ia sempat berhenti, menoleh sekali lagi. “Jangan mencoba untuk melanggarnya. Aku akan memeriksa begitu matahari terbit. Jika kau bergeser sedikit pun, hukumannya akan berlipat.” Vincent hanya menunduk tipis, menerima tanpa protes sama sekali. Bianca menutup pintu kamarnya dengan perasaan puas—meski di dalam dadanya, ada denyut aneh yang sulit ia definisikan. Bukan sekedar puas karena bisa menghukum, melainkan juga perasaan aneh melihat pria itu patuh sepenuhnya, bahkan dalam keadaan yang menurut logika seharusnya memalukan. Di ruang tamu, Vincent berdiri tegap dengan tubuh setengah terbuka, bayangannya memanjang di bawah cahaya lampu. Tidak ada keluhan, tidak ada gerakan gelisah. Hanya sosok seorang pria yang menerima perintah tanpa goyah. Dan entah mengapa, justru ketenangan itu lagi-lagi membuat Bianca resah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN