"Aku sedang ingin makan bakso tusuk." Aku buru-buru menghapus dengan cepat pesan yang hampir terkirim andai saja jemariku sedikit terpeleset dan mengklik tombol kirim. Ya ampun, bisa-bisanya! Aku mengumpat dalam hati saat merasa diriku hampir tak bisa mengontrol diri. "Aku siap membelikan kamu apa pun seandainya kamu memintanya." Aku terkesiap saat laki-laki itu tiba-tiba mengirim pesan lagi. Dia sedang aktif di i********:? "Tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu." Seperti sebelumnya, jari jemariku kembali dengan lancangnya mengetik pesan balasan untuk lelaki arogan itu. Laki-laki yang sudah tak pernah lagi tampak batang hidungnya sejak terakhir kali mengantarkan aku pulang ke rumah kontrakan tiga minggu yang lalu. Ah, tidak tidak! Aku tak perlu mengirim pesan balasan. Tidak pentin

