Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Langkahku menuntunku untuk berdiri di depan meja rias. Aku menyisir rambutku yang berantakan dan memakai skincare ke wajahku.
Setelah selesai, aku turun ke lantai bawah dan menemukan Ibu yang sedang memakai sendalnya. "Mau ke mana, Bu?" tanyaku sambil melangkah mendekatinya.
Ibu menoleh kepadaku sekilas. "Mau beli bahan-bahan kue. Abang kamu minta dibikinkan kue untuk acara temannya," ucap Ibu menjelaskan.
Aku mengangguk. "Mau Rena temani ga?" tawaranku. Aku merasa tidak enak saja kalau Ibu pergi sendirian. Lagi juga, aku sedang tidak ada kerjaan sehingga bisa menemaninya.
Ibu menggeleng lalu dia mengeratkan tasnya di bahu. "Enggak usah. Ibu sendiri aja," tangan Ibu menunjuk ke arah dapur, "kamu rapikan aja bahan-bahan yang ada di dapur. Susun yang rapi di kulkas," perintah Ibu.
"Beneran gapapa Ibu sendirian?" tanyaku lagi, memastikan.
"Gapapa, Ren," dia bersiap melangkah, "udah ya, Ren. Ibu pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Ibu lalu keluar dari pintu.
"Waalaikumsalam," jawabku pelan. Setelah itu aku bergegas ke dapur, melakukan perintah yang ibu berikan.
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, aku sudah selesai dengan tugasku. Tanganku sudah kotor dengan tepung-tepung yang menempel sehingga aku bergegas untuk mencuci tangan dulu sebelum ke atas.
Sesampainya di kamarku, aku langsung mengambil ponselku dan berkejut begitu melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Aku berinisiatif menghubungi nomor itu. Mungkin saja ada yang benar-benar penting.
Sambungan terhubung dan terdengar suara ibu-ibu yang begitu panik. "Keluarganya Ibu Tania?" tanyanya.
"Iya. Saya anaknya. Ada apa ya Bu?" tanyaku dengan nada yang masih tenang.
"Ibu Tania kecelakaan. Dia sedang dibawa ke rumah sakit."
Napasku tercekat seketika. "Rumah sakit apa, Bu?" tanyaku tidak sabar.
"Saya kirim pesan ya alamat rumah sakitnya."
Dan tiba-tiba panggilan terhenti. Aku bergegas untuk turun ke bawah, Bang Kenan sedang tidak ada. Aku tidak tahu ingin lari ke siapa kalau bukan ke tetangga sebelah, ke Tante Linda.
Aku berlari ke sana dan mengetuk pintu dengan begitu kencang. Aku sampai lupa norma sopan santun karena sedang panik. Pintu terbuka dan menampilkan wajah Mas Faresta di sana. "Kenapa?" tanyanya tenang.
Air mataku sudah turun deras. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya. "Kenapa, Rena?" tanyanya lagi.
"Ibu kecelakaan," ucapku dengan nada tercekat," Mas Faresta melepaskan pelukanku, "udah di rumah sakit. Ayo kita ke sana." Mas Faresta mengangguk lalu dia mengambil kunci mobilnya.
Sesampainya di sana, aku melihat ibu dari balik kaca. Keadaannya benar-benar memperihatinkan. "Mas, Ibu ...." ucapku sambil terus menangis. Mas Faresta memelukku dan mengelus puncak kepalaku, menyalurkan ketenangan di sana.
Bersambung ....