Besok malamnya, Mas Faresta mengajakku untuk pergi dinner. Aku yang awalnya tidak mau, tapi karena aku di rumah sendirian aku jadi menerima ajakannya. Daripada sendirian, mendingan jalan-jalan.
Aku memakai dress berwarna pink dan dipadukan dengan tas pink. Aku juga memoles sedikit make up. Rambutku dibiarkan tergerai. Semoga aku tidak seperti anak kecil yang sedang jalan dengan om-om.
Sebelum pergi, aku menatap lagi penampilanku lewat pantulan kaca dan setelah dirasa sempurna aku baru bergegas untuk ke bawah. Menemui Mas Faresta yang sudah menungguku di dalam mobil.
"Pinky-pinky sekali," komentar Mas Faresta saat aku baru masuk ke dalam mobilnya.
"Lucu ga?" tanyaku. Berharap dalam hati kalau dia mengatakan tidak atau menggeleng. Pasalnya aku berusaha untuk tidak tampil seperti anak kecil.
Namun, harapanku pupus saat Mas Faresta mengangguk pelan. Dia menyalahkan mesin mobilnya lalu bergegas pergi. Entah ke mana. Aku percaya saja, kata Ibu dia orang baik dan menurutku juga begitu.
Mobil Fortuner berwarna hitam milik Mas Faresta berhenti di sebuah restauran, tampaknya ini restauran berbintang, megah dan terlihat mewah. "Ayo, Rena," ucapnya.
Aku dan Mas Faresta berjalan berdampingan. Tidak ada pasang mata yang menatap kami, jadi aku santai saja. Aku tidak terlihat sedang jalan dengan om-om. "Pesan apa?" tanya Mas Faresta sambil membuka buku menu.
"Samain aja." Setelah itu Mas Faresta memesan makanan yang sama.
Cukup lama kami terdiam. Sampai akhirnya Mas Faresta berdeham, aku menoleh menatapnya. "Jadi bagaimana?" tanyanya tiba-tiba.
Aku mengerutkan keningku. Tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Bagaimana apanya? Jelasin dulu dong, Mas. Biar aku ngerti," ucapku dengan nada kesal.
Pria dihadapaku menarik napas lalu menghembuskannya pelan. "Menikah sama saya, mau ga?" tanyanya cepat. Aku menaikan sebelah alisku, ini apa sih maksudnya. Kalau ceritanya mau ngelamar masa dengan pertanyaan begitu. Lebih romantis kek. Ada lilin-lilin kek. Ada cincin kek.
"Aku orangnya manja banget."
"Iya."
"Aku juga sering ngambek."
"Iya."
"Pokoknya aku enggak dewasa banget. Enggak sebanding sama Mas Resta."
"Iya. Saya sudah tahu itu."
"Yaudah kalau tahu. Kenapa memilih menikah denganku?"
"Mama saya memilih kamu."
Aku memberikannya tatapan tajam. Masa semata-mata karena keinginan Mamanya. Biasa saja hanya terpaksa denganku. "Terus Mas Faresta gimana?" tanyaku penasaran.
"Saya terserah kamu."
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Enggak. Maksudnya dari diri Mas sendiri, kenapa mau menikah sama aku?"
"Saya ikuti permintaan Mama."
Aku terdiam. Ini terlalu mendadak. Aku belum siap.
"Aku butuh waktu buat pikir-pikir."
"Yaudah, saya tunggu, tapi jangan lama-lama."
Bersambung ....