Saat ini aku dan sedang duduk di teras rumah. Kami menyantap roti dan ditemani dengan teh manis. "Faresta baik ya," Ibuku menujuk ke arah depan, Mas Faresta sedang mencangkul tanah dan menanam pohon ibunya, "berbakti sama ibunya," ucap Ibu lagi.
Aku tidak buru-buru memberikan tanggapan. Aku masih ingin mendengar pembicaraan Ibu. "Dari dia kecil sampai sekarang, Ibu melihat banyak hal baik di dalam dirinya," Ibu tersenyum dengan tulus, "beruntung sekali yang jadi istrinya. Udah mapan, ganteng, berbakti sama orang tua."
Aku masih terdiam sampai akhirnya Ibu melirik ke arahku. "Ren," aku menoleh ke arahnya, "cari calon suami tuh yang berbakti sama orang tua. Itu cerminan bagaimana dia memperlakukan istrinya nanti," ucap Ibu memberi petuah.
Aku mengangguk, menyetujui ucapannya. Ibu kembali menatap ke arah sebelah rumah. "Kalau Faresta melamar kamu atau seseorang yang persis seperti dia, Ibu pasti langsung menerima tanpa pikir dua kali."
Aku menatap ibu jengah. Apa sih kok jadi aku yang dibawa-bawa. "Tapi, kayanya itu mustahil, Ren. Umur kalian terpaut jauh, hampir tujuh tahun. Lagi juga dia mana mau sama kamu yang manja begini, enggak sepadan."
Aku juga enggak pernah berharap dan membayangkan akan mempunyai suami seperti Mas Faresta. Aku inginnya suami seumuran, bukan yang pantas dipanggil om-om begitu. Membayangkannya saja aku sudah takut. Seram. Aku kan masih kinyis-kinyis begini.
Dua Minggu kemudian, aku berkunjung ke rumah Mas Faresta. Kali ini Ibu memintaku untuk mengambilkan baju pesanannya. "Masuk, Ren," ucap Tante Linda sambil membukakan pintu untukku.
Tante Linda mempersilahkanku duduk lalu aku menurutinya. Dia duduk di sebelahku, tangannya membawa Tote bag dan memberikannya untukku. "Kamu belum punya pacar, Ren?"
Aku membulatkan mata seketika. Loh, kok pertanyaannya begitu. Ingatanku kembali melayang jauh, mengingat Mas Faresta yang pernah mempertanyakan hal yang serupa.
Aku terdiam sebentar kemudian menggeleng. "Belum, Tan," ucapku pelan.
"Sama Faresta mau gak?" tanya Tante Linda cepat.
Aku jadi bingung, Tante Linda menawarkan apa sih. Tidak mungkin menawarkan anaknya dengan nada santai begitu. Lagi juga memangnya Mas Faresta apa sampai ditawar-tawari begitu.
"Mau apa, Tante?" tanyaku berusaha memperjelas.
"Nikah sama dia." Rahangku terjatuh seketika. Antara kaget dan juga bingung ingin menjawab apa. Ceritanya ornagtuanya Mas Faresta sedang melamarku begitu, atau gimana. Aku semakin bingung.
Aku memilih hanya tersenyum. Tante Linda tertawa pelan lalu mengusap bahuku. "Yaudah, nanti Faresta yang bilang langsung."
Duh, bilang apaan nih.
Aku jadi deg-degan.
Antara ga sabar dan takut.
Bersambung ....