Bagian Keempat

406 Kata
"Faresta gimana? Baik kan?" tanya Bang Kenan saat aku memasuki rumah. Padahal aku belum bercerita, tapi tampaknya dia tahu aku pergi ke toko buku bersama Mas Faresta. Bang Kenan melirik belanjaan yang aku bawa. "Banyak banget. Boros banget kamu," ucapnya mencibir. Aku memberikannya tatapan tajam. "Apa sih, ini Mas Faresta yang belikan. Uang aku masih utuh," ucapku cepat dan setelah beberapa detik kemudian, aku merasa kalau aku salah berbicara. Mata Bang Kenan menyipit, sebelah alisnya menaik, dan bibirnya tersenyum miring. Wajahnya benar-benar menyebalkan. "Dia baik kan?" ucap Bang Kenan sambil menggerakkan sebelah alisnya. Aku tidak menjawab. Aku memilih melanjutkan langkahku menuju kamar. Sesampainya di sana aku meletakkan novel-novel baruku ke rak buku. Setelah itu melangkah menuju jendela, berniat untuk menutupnya. Namun, ada sesuatu hal yang membuat aku menatap lurus ke depan. Kamar yang berhadapan langsung dengan kamarku, biasanya jendelanya tidak pernah terbuka. Setahuku selama bertahun-tahun hidup bertetangga, keluarga Mas Faresta menggunakan ruangan itu untuk gudang. Namun, kali ini jendelanya terbuka dan nampak kamar itu seperti kamar pria. Dinding kamar berwarna putih yang dipadukan dengan abu-abu. Ada lemari dan beberapa furniture berwarna hitam. Tidak salah lagi itu kamar Mas Faresta. Dan benar saja pemilik kamar terlihat di balik jendelanya. "Ngapain kamu ngintipin kamar saya?" ucap Mas Faresta dari kamarnya. Jarak rumah kami tidak begitu jauh, jadi ucapannya dapat terdengar. Tanpa menjawab aku langsung menutup jendela kamarku dengan gorden. Aku mengatur deru napasku yang tidak beraturan. Aku tidak bermaksud penasaran dengan kamarnya, aku hanya heran kenapa ruangan itu sudah berubah menjadi kamar. Dan yang lebih parah, kamar itu adalah kamar Mas Faresta yang berarti kamar kita saling berhadapan. Pagi harinya, aku terbangun dan bergegas untuk membuka jendela. Rutinitas seperti biasanya. Kata Ibu, matahari pagi bagus. Selain itu, aku ingin merasakan udara sejuk di pagi hari. Pagi ini, saat aku membuka jendela bersamaan dengan jendela di kamar seberang juga terbuka. Dengan kata lain, Aku dan Mas Faresta sama-sama membuka jendela. Kedua mataku membulat dan bibirku berteriak kencang saat melihat Mas Faresta berdiri tanpa menggunakan baju atasan. "Berisik kamu, Rena," ucap Mas Faresta dari seberang sana. "Pakai bajunya dulu dong, baru buka jendela. Mas tahu sendiri kamar kita berhadapan," ucapku sambil menutup mata. Ini pertama kalinya aku melihat tubuh sebagus itu, perutnya kotak-kotak. Duh, dalam keadaan mata yang tertutup aku malah membayangkannya. "Saya mana tahu kalau kamu mau buka jendela juga." "Ya besok-besok kalau buka jendela pakai baju dulu." "Kamu besok-besok, kalau melihat saya begini. Jangan berteriak," balasnya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN