Bagian Ketiga Puluh Tiga

494 Kata

"Buah?" "Buah banyak di rumah. Istri saya selalu menyediakan untuk saya. Tidak perlu lagi memakan buah-buahan dari orang lain." Mas Faresta bangun dari duduknya, dia berjalan ke arah pintu lalu menguncinya. "Ngapain dikunci?" tanganku saat Mas Faresta sudah duduk kembali di sampingku. "Takut ketelepasan dan ada yang lihat." Kedua pipiku bersemu. Padahal biasanya aku marah atau ngambek kalau dia berbicara seperti itu, tapi kali ini berbeda. Entahlah, apa yang salah dengan diriku. "Ketelepasan sama mahasiswi sendiri?" tanyaku sambil menjatuhkan kepalaku di dadanya. Dia mengelus rambutku dan mengecupnya beberapa kali. "Ketelepasan sama istri sendiri." Aku terkekeh lalu mengambil tangannya. "Udah punya istri kok cincin pernikahannya enggak dipakai?" tanyaku. Di dalam hati aku berdoa semo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN