Bagian Ketiga Puluh Empat

443 Kata

Aku insecure. Begitu masuk ke dalam ruangan Mas Faresta, mejanya telah berisi kotak makanan dari restauran-restauran yang terkenal. Pastinya makanan itu jauh lebih enak daripada telur mata sapi yang aku bawa. Aku jadi malu sendiri mau memberikan bekal ini ke Mas Faresta. "Dua jam lagi saya ada kelas," ucap Mas Faresta sambil mematikan laptopnya. "Iya. Aku juga dua jam lagi, ada kelas terakhir." Dia mengangguk lalu berlalu ke wastafel untuk mencuci tangan. Aku tersenyum kecil begitu melihat dia sudah memakai cincin pernikahan kami. "Mana bekalnya. Saya mau makan," ucapnya sambil mendekatiku. Aku hanya terdiam, enggan untuk memberikannya. "Makan itu aja, lebih enak," ucapku sambil menuju ke kotak-kotak makanan. Dia menggeleng lalu menarik bekal dari tanganku. "Saya bisa makan itu setia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN