Bagian Kesembilan (Awal Pernikahan)

460 Kata
Setelah resepsi selesai, aku dan Mas Faresta bergegas ke kamar hotel yang sudah kami sewa untuk tiga hari ke depan. Aku masuk lebih dahulu lalu berjalan mendekati cermin. "Aku gerah banget. Mas Faresta sih nyuruh aku pakai gaun pengantin yang benar-benar tertutup begini," ucapku sambil berdecak sebal. Ingatanku melambung ke beberapa hari yang lalu, saat aku dan Mas Faresta sedang fitting baju pengantin. Aku sudah memilih beberapa gaun yang bagus, tetapi semua pilihanku ditolak mentah-mentah olehnya. Dia beralasan kalau gaun pilihanku terlalu terbuka. Setelah perdebatan panjang akhirnya aku menuruti permintaannya. "Bagian tubuhmu ga usah diperlihatkan ke orang lain, Rena," ucapnya setelah melepas jas hitam yang melekat di tubuhnya. "Yaudah, berarti aku enggak boleh perlihatkan ke Mas Faresta juga," ucapku dengan nada sinis. Tangannya yang sedang melepas kancing kemejanya seketika terhenti. Dia menatapku dengan tatapan yang mendidih. Dia tampaknya tidak sependapat dengan kata-kataku. "Kecuali saya. Saya boleh, boleh lihat semuanya," ucapnya terdengar seram. Aku menaikkan kedua bahuku lalu berdesis. "Apa sih. Serem banget kata-katanya." Dia berjalan ke arahku lalu melepas kemejanya. Tubuh bagian atasnya terlihat dengan jelas di kedua mataku. Aku ingin berteriak, tetapi ada sebuah tangan yang menahanku. "Kamu lebai sekali," dia melepas tangannya dari mulutku dengan perlahan, "jangan berteriak." "Aku enggak terbiasa melihat begitu. Bang Kenan enggak pernah begitu di rumah." Dia berbalik badan dan bergegas menuju kamar mandi. "Ya biasakan, Rena." Setelah itu pintu kamar mandi tertutup. Beberapa saat kemudian, kami berdua sudah siap untuk tidur. "Jadi yang di sofa siapa?" tanyaku. Mas Faresta yang sudah bersandar di ranjang, memandangku dengan tatapan aneh. Apa sih. Aku kan enggak mau seranjang, jadi harus ada yang di sofa dong. Kalau dia tidak mau, dengan senang hati aku yang akan mengalah untuk tidur di sofa. "Enggak ada yang di sofa," dia menepuk sisi kanan ranjangnya, "sini tidur," perintahnya. Aku menggeleng cepat lalu mengambil bantalku dan bergegas ke sofa. Aku yang akan tidur di sofa! Aku menjatuhkan tubuhku dan berbaring dengan nyaman di sofa. "Dengar suamimu tidak?" Baru saja aku ingin menutup mata, suara Mas Faresta terdengar. Kenapa sebutannya begitu sih. Aku jadi gimana gitu dengarnya. Aku pura-pura tidak mendengar. "Enggak nurut, mau berdosa kamu," ucapnya lagi. Aku jadi emosi mendengarnya terus-menerus memerintah. Aku melempar bantalku ke sembarang arah. Langkahku bergerak untuk mendekatinya. "Bukan maksudnya enggak mau menuruti. Aku masih perlu waktu untuk membiasakan," aku menujuk ke arah tubuhnya, "apalagi Mas begitu. Aku belum terbiasa." Wajahnya seketika datar. Dia berjalan ke arah lemari, memakai sebuah kaus berwarna hitam dan kembali ke ranjang. "Sudah. Sekarang kita tidur," dia menarikku pelan, "tidur berdua." Aku mematung ditempat. "Saya cuma minta tidur berdua, belum minta hal yang lain." Mengerti maksud dari ucapannya, aku buru-buru mengambil bantalku dan tidur di sampingnya. Kali ini, untuk pertama kalinya aku tidur berdua dengan seseorang yang paling aku takuti. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN