Tidak ada yang spesial saat terbangun dari tidur dengan status yang sudah berbeda. Aku terbangun dengan Mas Faresta yang sudah tidak ada di sampingku, entah dia ke mana. Tidak mau memikirkannya, aku langsung bergegas membersihkan diri.
Aku keluar dari kamar mandi dan menemukan Mas Faresta sedang duduk di sofa. Ada sebuah piring di tangannya. Sebelah tangannya menunjuk ke arah sisi kirinya. "Duduk sini, Rena," ucapnya dengan nada yang lembut.
Aku duduk di sebelahnya, padahal niatku ingin memakai skincare dan pupus karena perintahnya. "Sarapan dulu ya," dia menyuapi sesendok makanan untukku, "buka mulutnya," ucapnya lagi. Aku melirik ke menunya, nasi goreng. Tanpa pikir panjang aku langsung memakan suapan yang dia berikan.
Biasanya, hampir setiap pagi Ibu memasakkan nasi goreng untukku dan Bang Kenan. Nasi goreng yang diberi toping telur mata sapi dan juga sosis. Khusus untukku, ibu menambahkan sedikit bawang goreng.
"Kenapa nangis?" Aku menggeleng sambil mengelap sudut mataku. Aku tidak bisa menahan rasa sedih. Aku benar-benar rindu Ibu.
Dia memggeser duduknya lebih dekat denganku. Matanya menatapku lekat, aku buru-buru membuang muka. "Ingat Ibu," ucapku dengan nada serak. Air mata tumpah dari pelupuk mataku. Aku belum bisa melepaskan kepergian Ibu, kepergiannya benar-benar mendadak. Aku belum siap.
Mas Faresta mengelus pundakku dari belakang. "Nanti kita ke makam Ibu ya." Aku mengangguk lesuh.
Sore harinya, kami berdua berkunjung ke pemakaman Ibu. Dari kaca mobil, aku melihat rintik-rintik hujan di luar sana. "Sebentar." Aku menoleh ke arah suara, Mas Faresta keluar dari mobil lalu mencari sesuatu di bagian belakang mobilnya.
Aku memperhatikannya dari pantulan kaca spion. Dia mengambil payung lalu berjalan mendekati pintu di sebelahku. "Ayo," ucapnya setelah membuka pintu mobil untukku.
"Mulai saat ini, saya yang akan menjaga Rena. Ibu jangan khawatir di sana," ucap Mas Faresta sambil mengelus papan nisan Ibu. Matanya menoleh ke arahku, aku meresponnya dengan senyuman kecil. Dia merangkulku, menghapus jarak di antara kami.
"Kami pamit pulang ya, Bu."
"Dadah, Ibu. I love you."
Mas Faresta membukakan pintu untukku lalu aku masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi kemudi lalu menjalankan mobilnya. Di sepanjang perjalanan aku enggan membuka pembicaraan, aku masih tenggelam dalam pikiranku.
"Dulu saya terlihat begitu menakutkan ya, Ren?" tanya Mas Faresta saat mobilnya berhenti karena lampu merah.
Aku terdiam sebentar, menimbang-nimbang apakah aku harus jujur atau berbohong. "Iya." Aku memilih jujur.
Dia terkekeh pelan, menampilkan gigi-giginya yang putih. Aku terkesima melihatnya, kadar ketampanannya bertambah kalau dia sedang tertawa. "Kamu dari kecil selalu menghindar. Saya enggak tahu salah saya apa. Padahal kita berinteraksi saja jarang."
Aku mengusap kedua tanganku, berusaha menghilangkan dingin yang aku rasakan. Mas Faresta yang seperti paham dengan keadaanku, dia langsung mematikan AC di mobil ini.
"Enggak tahu. Kalau dekat sama Mas Faresta hawanya panas. Tatapan matanya dan cara bicaranya seperti tidak bersahabat."
"Perasaanmu saja."
Aku berdecak sebal lalu memejamkan mata. Tidak ingin melanjutkan pembicaraan di antara kami.
"Saya selalu memperhatikan kamu dari dulu. Kamu memang tidak pernah berubah ya."
Bersambung ....