Aku kira kami berdua akan kembali ke hotel, tetapi ternyata tidak. Mas Faresta membawaku ke sebuah rumah. Rumah yang hanya berlantai dua, tetapi desainnya begitu mewah. Ada sebuah taman depan yang begitu luas, ditanami berbagai macam bunga.
"Ren," mendengar namaku terpanggil, aku langsung menoleh ke arahnya. Dia memberikan aku sebuah kunci, "masuk duluan. Saya parkir mobil dulu."
Aku berpikir sejenak. Aku kan enggak tahu ini rumah siapa. Masa main masuk-masuk saja. Rasanya tidak sopan, kalau Ibu tahu, aku pasti dimarahi.
"Kalau main masuk aja, orang yang punya rumahnya enggak marah?" tanyaku dengan begitu polos.
"Enggak."
Aku keluar dari mobil dan berjalan ke depan pintu, membuka kunci lalu masuk ke dalam. Begitu membuka pintu, mataku langsung disuguhi pemandangan indah di atapnya. Bunga-bunga bermekaran di atas sana, rumah ini memiliki rooftop yang ditanami banyak bunga, seperti taman depan.
Pasti yang punya rumah ini perempuan.
Aku masuk ke bagian lebih dalam. Beberapa dinding rumahnya menggunakan kaca, sehingga aku bisa melihat kolam ikan yang memutari rumah ini. Aku berlari kecil ke arah belakang rumah. Di sana ada sebuah kolam renang berukuran sedang, airnya begitu jernih.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang merangkul pinggangku. Aku tersentak dan refleks menarik tangan itu. Namun, rangkulannya semakin erat. Aku menoleh dan akhirnya menemukan Mas Faresta di sampingku. "Suka?" tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Melihat rumah ini saja sudah membuatku senang apalagi bisa memilikinya. Bagian yang paling aku suka adalah atap yang berisi bunga-bunga yang bermekaran. Pemandangan yang begitu memanjakan mata.
"Saya mempersiapkan semua ini untuk kamu," ucapnya datar, tapi mampu membuat kedua keningku mengerut.
"Emang ini rumah siapa? Banyak bunga-bunga, pasti yang punya perempuan ya? Punya siapa? Tante Linda?" tanyaku bertubi-tubi. Aku benar-benar penasaran. Jika ini punya Tante Linda, aku akan berkunjung ke sini setiap hari.
Dia tersenyum tipis, saking tipisnya sampai tidak begitu terlihat. "Punya istri saya," dia berjalan menjauhiku, sedangkan aku masih terdiam di tempat. Berusaha mencerna ucapannya barusan.
Istri Mas Faresta. Aku berpikir lebih keras. Apa iya Mas Faresta memiliki istri lagi. Dan rumah ini punya istri pertamanya. Mengingat umur pria itu sudah matang, bisa saja sebelum menikahiku, Mas Faresta menikahi perempuan lain.
Aku membuang pikiran itu jauh-jauh. Daripada over thingking tidak jelas, aku memilih berjalan mendekatinya. "Aku istri kedua ya?" tanyaku to the point, "terus ini rumah istri pertama? Mas Faresta mau memperkenalkan aku dengan istri pertamanya Mas?" cerocosku.
Kalau sampai iya, hari ini juga aku minta cerai.
Dia memandangku tanpa berkedip. Memandangku dengan tatapan kaget. "Iya enggak?" tanyaku lagi.
"Istri saya cuma satu, Rena."
Aku terdiam. Menunggu dia melanjutkan pembicaraannya.
"Rumah ini hasil kerja keras saya. Semoga kamu suka."
Kali ini aku yang memandangnya tanpa berkedip.
"Jadi ini rumah siapa?"
"Rumah kita." Aku rasa itu kalimat yang cukup romantis, tetapi Mas Faresta mengucapkan dengan nada datar sehingga tidak ada kesan romantisnya.
Aku melangkah menuju kolam renang lalu duduk di tepinya. Aku memasukkan kedua kakiku ke dalamnya dan memainkan air. "Aku enggak mau tinggal di sini."
Bersambung ....