Mas Faresta ikut duduk di sebelahku. Aku meliriknya sekilas lalu menunduk, mengamati pantulan dirinya di atas air. "Kasihan Bang Kenan sendirian," ucapku memberikan penjelasan, "dia masih dalam keadaan berduka. Aku enggak mau ninggalin dia sendirian."
Walaupun aku dan Bang Kenan sering bertengkar, dia sering membuatku kesal sampai menangis, aku tetap menyayanginya. Kami tumbuh dan berbagi kasih sayang bersama.
"Tante Linda juga tidak mungkin dibiarkan sendirian," lanjutku.
Cukup lama kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya Mas Faresta mengeluarkan kakinya dari kolam renang. "Saya tidak meminta kamu pindah ke rumah ini. Mungkin butuh waktu untuk mempertimbangkan."
Aku mengangguk pelan. Ternyata Mas Faresta bisa memahami keadaan. "Tapi cepat atau lambat kita berdua akan tinggal di sini. Kita perlu mandiri, Rena," lanjutnya.
Senyumanku yang tadinya ingin terukir, mendadak tidak jadi.
"Saya ingin tunjukkan lantai atas dan rooftop. Kamu bisa ganti furniture atau desain yang tidak kamu suka." Langkahnya terdengar menjauhiku, "ayo, Rena," nadanya berubah menjadi dingin. Kalau sudah begini, aku langsung menuruti perintahnya.
Mas Faresta lebih dahulu menunjukkan rooftop daripada lantai dua. Begitu sampai di atas, ekspektasiku terlampaui. Rooftop ini benar-benar indah. Terdapat saung yang terletak di ujung sana. Saungnya juga kelihatan begitu nyaman.
Aku berlari kecil lalu duduk di dalam saung itu, Mas Faresta mengikutiku. Aku menyapu pandanganku ke berbagai sudut, sejauh mata memandang aku dapat melihat bunga. "Aku suka banget sama bunga," ucapku terdengar begitu riang. Aku senang sekali.
Dia mengangguk lalu menatap lurus ke depan. "Saya sudah tahu," ucapnya.
Aku meliriknya lalu memutar mataku. Sok tahu dia. Dia kan tidak mengenalku dengan baik. "Ibu ngasih tahu ya?" tebakku. Tebakan itu yang tampaknya masuk akal.
Mas Faresta menggeleng pelan lalu memggeser duduknya sehingga lebih menempel denganku. "Saya pengamat yang baik, Rena," dia menjeda ucapannya, "saya mengamati kamu bukan setahun ataupun dua tahun. Dari kamu kecil sampai sekarang, saya selalu mengamatimu."
Oke. Itu kalimat terlebai yang pernah diucapkan Mas Faresta. Pria terseram, tetapi nyatanya sudah menjadi suamiku.
Aku tidak menggubrisnya. Aku memilih bangun dari dudukku dan berjalan melewati bunga-bunga itu. "Aku mau lihat lantai duanya," Mas Faresta masih terdiam di dalam saung, "Mas, ih, ayo."
Kami berjalan turun ke lantai dua, dia memperlihatkan banyak ruangan-ruangan yang ditata begitu rapi. Sampai saat ini aku belum meminta untuk menganti satu bagian pun di rumah ini. Aku menyukai semuanya. Pilihan Mas Faresta benar-benar sesuai dengan keinginanku. Atau mungkin saja selera kita sama, entahlah.
"Ini kamar kita," ucap pria itu sambil membuka pintu. Aku masuk mendahuluinya, kamar ini sangat luas. Ada sebuah jendela besar yang menampakkan bagian kolam renang dan juga taman depan, "atapnya bisa dibuka."
Mas Faresta mengambil sebuah remot dan beberapa saat kemudian, atapnya berubah menampilkan bunga-bunga yang ada di rooftop. Aku takjub melihatnya. Mas Faresta mempersiapkan semua ini dengan baik dan sempurna.
Aku tersenyum lalu mendekat ke arahnya. "Ini kamar aku aja ya."
Dia memandangku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kamar di sini banyak. Mas Faresta pakai kamar yang lain saja. Ini khusus kamarku. Kamar kita terpisah, tidur kita terpisah. Bagaimana?" tanyaku memberikan tawaran.
Wajahnya berubah menjadi datar. Yang awalnya datar menjadi sangat datar. Dia menutup kembali atap menjadi seperti semula lalu dia berjalan menjauhiku. "Jangan mengada-ada kamu, Rena."
Sepertinya dia tidak setuju dengan tawarkanku.
Bersambung ....