"Kalau kamu pindah rumah, gapapa Res. Mama bisa minta Tante Dina untuk tinggal di sini, menemani Mama," ucap Tante Linda saat sambil tersenyum memandangi anaknya, "mungkin kalian butuh privasi berdua," ucapnya lagi.
Aku biasa saja, tidak butuh privasi. Lagi juga aku sebenarnya tidak ingin pindah, tetapi Abangku menyuruhku untuk belajar mandiri bersama suami dan ditambah lagi dengan Tante Linda yang tampaknya mendukung keinginan Mas Faresta.
"Bagaimana, Ren?" tanya Mas Faresta.
Dia suka pura-pura bertanya, padahal dia sendiri yang menentukan jawabannya.
"Terserah Mas aja."
Malam harinya kami tidur di kamarku. Dia sudah menungguku di ranjang, tetapi aku masih asyik menggunakan skincare malam. Dia setia menunggu sampai aku selesai.
"Kenapa cemberut begitu?" tanyanya saat aku naik ke atas ranjang. Padahal aku berusaha tidak memperlihatkan kekesalanku, tapi ternyata terlihat juga.
Aku menggeleng lalu tidur memunggunginya. Dia memelukku dari belakang. "Kenapa, Rena?" bisiknya dengan nada begitu lembut. Aku tetap menggeleng dan melepaskan pelukannya, "saya salah ya?" tanyanya.
Aku berbalik sehingga tubuh kami saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. "Aku enggak mau ninggalin Bang Kenan sendirian. Aku sedih, tapi aku juga kesal, Mas Faresta seperti tidak ngertiin aku," tangisku pecah. Kalau ada Ibu, aku pasti mengadu tentang kekesalanku, walaupun ujungnya dia pasti membela Mas Faresta.
"Sudah dua bulan saya memberikan kamu waktu. Saya memahami kamu dan kondisi kamu," dia memberikan jarak lebih jauh di antara kami, "sepertinya masih kurang ya, Ren?" Dia berbalik memunggungiku. Aku menangis dalam diam, sampai akhirnya tertidur.
Pagi harinya saat aku terbangun sudah tersedia nasi goreng di meja kamarku. Siapa lagi yang buat kalau bukan Tante Linda. Aku mengambil nasi goreng itu lalu memakannya, rasanya berbeda. Aku tahu betul masakan Tante Linda, tapi kali ini berbeda.
"Mama pergi. Kenan ada rapat. Jadinya saya yang masak." Suara Mas Faresta tiba-tiba terdengar. Aku menoleh dan mendapati Mas Faresta sedang memakai kemeja kerjanya.
"Ngajar?" tanyaku.
Dia mengangguk pelan. "Iya. Tunggu sebentar ya, cuma satu kelas." Aku mengangguk lalu melanjutkan kegiatan makanku.
Padahal semalam Mas Faresta tampaknya marah, tetapi pagi ini dia begitu peduli denganku. Aku tahu Mas Faresta sama sekali tidak ingin menyentuh alat-alat dapur, tetapi kali ini dia memasak untukku.
Selesai menghabiskan makananku, aku mengamatinya yang sedang duduk sambil menatap layar ponselnya. "Mas," panggilku, "ayo pindah rumah." Aku yakin tinggal berdua dengan Mas Faresta, hidupku akan baik-baik saja. Dia begitu memerdulikan dan menjagaku dengan baik.
Bersambung ....