"Kamu enggak mau melanjutkan kuliah lagi?" tanya Mas Faresta saat kami sedang bersantai di taman depan. Aku memandang ke arah bunga-bunga lalu menggeleng.
Aku belum mentamati gelar sarjanaku. Saat aku sudah di semester tiga, aku merasa aku salah jurusan. Semakin lama, beban kuliah yang aku rasakan semakin berat. Kalau jurusannya sesuai dengan keinginanku, aku berusaha untuk mempertahankannya. Namun, aku benar-benar tidak menyukai jurusan itu.
Aku masuk jurusan komunikasi karena sahabatku juga berkuliah di jurusan itu. Awalnya baik-baik saja, sampai akhirnya aku benar-benar merasa tidak cocok dan memilih untuk keluar.
"Enggak, Mas. Aku ngurusin cafe punya Ibu aja," tolakku halus.
Semenjak aku tidak kuliah, aku memang bekerja mengontrol cafe Ibu. Tidak begitu berat kerjanya, aku hanya perlu mengontrol sebulan sekali dan setiap minggunya aku hanya perlu melihat laporan yang dikirimkan dari manajer di sana.
"Kalau kamu mau, kamu bisa berkuliah di universitas dimana saya dan Kenan mengajar."
"Jurusan biologi ada, Mas?" tanyaku.
Mas Faresta mengangguk cepat. "Saya salah satu dosennya." Aku suka biologi, tapi kalau dosennya suami sendiri, enggak ah. Ribet pasti.
"Oh, gitu. Nanya doang, Mas," ucapku sambil menyengir. Dia meminum kopinya lalu kami melanjutkan ke topik pembicaraan lain.
"Saya benar-benar tidak bisa meninggalkan kelas, Rena," ucap Mas Faresta saat kami bertengkar pada pagi hari.
Aku meminta Mas Faresta mengantarku untuk ke rumah Tante Linda, tetapi dia menolak dengan alasan waktunya sangat mepet.
Aku di rumah sendirian, tidak ada yang bisa diajak ngobrol. Aku bisa aja pergi ke rumah sahabatku, tetapi aku tidak mau menganggunya karena dia sedang skripsi. Solusi satu-satunya ya ke rumah Tante Linda.
"Tunggu sebentar, sendirian tidak masalah, Rena," bujuk Mas Faresta untuk kesekian kalinya.
"Katanya Mas Faresta sampai malam. Aku berarti sendirian di rumah sampai malam," aku menghentakkan kedua kakiku di lantai, "aku enggak mau!"
"Selesai kelas ada mahasiswa yang ingin bimbingan," Mas Faresta mengelus puncak kepalaku, "saya usahakan tidak pulang malam. Sehabis bimbingan saya langsung pulang." Dengan cemberut aku mengizinkannya.
Aku memilih membuang waktunya dengan tidur. Beberapa jam kemudian aku terbangun dan Mas Faresta belum juga pulang. Aku mengambil ponselku dan menghubungi.
"Assalamualaikum, Rena."
"Waalaikumsalam."
"Saya lagi sibuk. Nanti telepon lagi ya."
Aku terdiam dan tidak mematikan sambungan telepon.
"Sebentar lagi ada mahasiswa yang ingin bimbingan. Saya tutup ya, Ren."
"Video call!"
Tidak ada tanggapan dari sana.
"Mas, aku bosan. Sendirian."
Mas Faresta langsung menganti panggilan telepon menjadi video call. Aku mengamatinya sambil tersenyum. Pantas saja dia menjadi dosen paling disukai di kampus, penampilannya ganteng begitu.
Tidak lama kemudian seorang mahasiswi datang. Dia sedang mengajukan judul untuk skripsinya. Aku mengamati perempuan itu, dia tampak begitu centil. Pegang-pegang tangan Mas Faresta, aku saja istrinya tidak seberani itu.
Semakin lama tingkahnya semakin menjadi, dia meminta Mas Faresta melakukan bimbingan di apartemennya. Dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun, aku mematikan panggilan sepihak.
Kalau sampai Mas Faresta sampai malam belum pulang, aku yakin dia bimbingan dengan perempuan itu di apartemen.
Bersambung ....