"Ngambek?" Aku langsung menutupi wajahku dengan bantal. Aku enggak mau ketahuan habis menangis. Aku malu.
Ranjang di sebelahku terasa bergerak, kemudian ada sebuah tangan yang mengelus punggungku lembut. "Maaf ya saya pulang malam," ucapnya. Dari nada bicaranya dia terlihat merasa bersalah.
"Ga usah pulang sekalian!" ucapku sambil menepis tangannya.
"Kok begitu," nadanya berubah menjadi melembut. Dia menarik tanganku pelan memberi kode untukku agar duduk.
"Enak ya sama mahasiswi itu?" tanyaku saat kami sudah duduk berhadapan. Dia hanya menatapku, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, "kok diam aja!" Nada bicaraku mulai naik.
"Apanya yang enak?"
"Berduaan. Di apartemen. Enak ga?" Pertanyaanku kian menjelas.
Dia tersenyum tipis lalu sebelah tangannya merapikan rambutku yang berantakan. "Kamu sudah makan?" tanyanya.
Pertanyaanku saja belum dia jawab, sekarang malah dia yang bertanya. Pria ini berusaha untuk mengganti topik pembicaraan atau bagaimana sih.
"Belum," jawabku ketus, "aku nungguin Mas Faresta, tapi Mas lagi asyik sama mahasiswi centil itu."
Senyuman berubah jadi kekehan. Dia kenapa sih. Pembawaan seramnya berubah begini. "Saya belikan kamu ayam bakar, ada di meja makan. Makan dulu ya?" Dia menatapku lurus, aku membuang pandanganku sambil mengangguk pelan.
Ngambeknya pending dulu deh, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi.
Saat di meja makan, Mas Faresta memberikan seluruh porsi ayamnya untukku. Aku pikir kami akan makan bersama-sama, tapi nyatanya tidak. "Kok enggak makan?" tanyaku saat dia sedang menuangkan air putih.
"Duluan. Nanti saya sisanya saja." Aku mengangguk lalu kembali berfokus dengan kegiatan makan malamku.
Aku merasa Mas Faresta menatapku terus. Aku jadi salah tingkah. "Kenapa sih?" ucapku akhirnya.
Dia menggeleng. "Kamu tidak pernah berubah, makan selalu berantakan," dia menggeser gelasnya ke arahku, "minum dulu." Aku tahu ini bekasnya, tapi aku tetap meminum dari gelas itu. Gapapalah, suami sendiri.
"Tadi saya ada pertemuan dengan para dosen makanya pulang malam begini," ucapnya mulai membahas pembicaraan tadi. Aku meliriknya dengan tatapan tidak percaya, "kamu bisa tanya Kenan. Tadi ada dia juga."
Aku mengangguk lalu menghabiskan makananku. Karena makananku sudah habis jadi Mas Faresta tidak perlu repot-repot untuk menghabiskannya.
Beberapa saat kemudian, aku dan Mas Faresta sudah berada di atas ranjang. Dia sedang membuka laptopnya dan mengoreksi tugas mahasiswanya. Aku mendekat lalu ikut menatap layar itu.
"Sering ya, Mas?" tanyaku penasaran.
"Mengoreksi begini? Sering, Ren," jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
"Bukan. Sering ya digodain sama mahasiswi centil begitu?" tanyaku memperjelas.
Pandangannya yang semula menatap layar kini berubah menatapku. "Iya," jawabnya singkat.
Aku menatapnya dengan tatapan memohon. "Aku enggak mau dimadu, enggak mau jadi janda muda. Jadi, Mas enggak boleh tergoda ya?"
Dia terdiam sebentar kemudian mengangguk. "Iya."
"Benar?"
"Iya. Dari dulu saya cuma nunggu kamu." Aku tersenyum lega mendengarnya, "sebagai gantinya, kamu saja yang centil ke saya ya? Saya pasti tergoda."
Bersambung ....