Aku menatapnya yang sedang memakai kemejanya. Hari ini dia memakai kemeja hitam. Rambutnya masih basah, tapi terlihat rapi. "Ga usah ganteng-ganteng kenapa sih," ucapku mengomel.
Dia menatapku lewat pantulan kaca. Tangannya bergerak merapikan rambutnya dengan jari-jari tangan. Padahal tanpa dirapikan pun sudah rapi. "Cara biar enggak kelihatan ganteng gimana?" tanyanya bingung, "selama ini saya hanya ingin terlihat rapi, bukan ganteng," lanjutnya.
Aku hanya terdiam. Tidak tahu juga ingin menjawab apa.
"Hari ini saya pulang siang. Saya mengajar hanya disatu kelas," ucapnya memberitahukan. Dia berjalan ke arahku lalu duduk di tepi ranjang, "nanti kita pergi jalan-jalan ya. Mau tidak?" ajaknya.
Selama Ibu meninggal aku memang tidak pernah jalan-jalan. Berpikir untuk jalan-jalan saja tidak. Jadi, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat. Bagaimanapun juga aku butuh refreshing.
"Ke mana?"
"Kamu mau ke mana? Saya ikuti."
Aku berpikir sebentar. Sudah lama aku tidak berenang, ya meskipun ada kolam renang di rumah. Aku ingin berenang di tempat umum, lebih banyak wahana air yang bisa dinaiki.
"Berenang yuk," ajakku dengan mata berbinar-binar. Dia menatapku dengan tatapan sebaliknya, apa iya ajakanku aneh sampai-sampai respon dia seperti itu.
"Saya sudah bikinkan kamu kolam renang. Berenang di rumah kan bisa."
Aku menghentakkan kaki mengakibatkan ranjang kami bergetar. "Aku mau naik wahana air. Tadi katanya Mas ikuti kemauan aku. Aku mau ke sana."
Dia berpikir sebentar lalu mengembuskan napasnya kasar. "Jangan pakai bikini," ucapnya memperingati.
"Ih, enggaklah. Kan bukan di pantai."
"Jangan pakai baju renang yang seksi," peringatan selanjutnya.
"Iya. Bawel ah."
Mas Faresta pulang pada pukul dua siang dan kami berangkat ke tempat tujuanku pada pukul tiga. Perjalanan tidak begitu jauh sehingga pukul empat sore kami sudah berada di sana.
Suasana tidak panas dan pengunjung tidak begitu banyak mungkin saja karena ini sudah sore. Aku berjalan berdampingan dengan Mas Faresta menuju ke kamar ganti begitu sampai di sana kami berpisah.
Aku memakai baju renang yang menurutku paling sopan diantara semua yang aku punya. Baju renang ini berwarna hitam dan sepertinya sama dengan warna baju renang Mas Faresta. Baju kami couple-an.
Aku keluar dan langsung menemui Mas Faresta yang menungguku di depan pintu. Tatapan matanya berubah jadi menajam setelah melihatku. "Sudah saya bilang. Jangan yang seksi bajunya."
Aku memutar kedua mataku sebal. Dia jadi posesif begini, heran. "Ini baju renang yang paling tertutup yang aku punya, Mas."
Mas Faresta terdiam. Dia menarikku pelan dan menyuruhku untuk duduk di sebuah bangku panjang. Dia mengeluarkan handuk dari tasnya. "Saya enggak ikhlas Rena orang-orang menikmati keindahan tubuhmu." Dia menyelempangkan handuk itu ke pundakku membuat sebagian tubuh atasku tertutup.
"Yaelah, Mas. Masa pakai handuk begini," aku melepaskan handuk itu, tetapi Mas Faresta menahannya, "malu-maluin tahu ga!"
Dia menggenggam tanganku. "Kita beli baju renang yang lebih tertutup," dia menunjuk ke ujung sana, "di sana sepertinya ada yang jual."
Selain seram, dia juga posesif.
Bersambung ....