"Mas, dingin," ucapku sambil menggigil. Mas Faresta yang berada di kursi kemudi melirikku sekilas, tatapannya terlihat begitu khawatir. Dia mematikan AC agar dinginku segera berkurang.
"Sebentar ya, dikit lagi kita sampai rumah."
Aku menggeleng lalu menatapnya dengan tatapan sayu. "Dingin banget," ucapku lagi. Sebelah tangannya menggenggam tanganku, menyalurkan rasa hangat di sana. Anehnya dengan cara ini rasa dinginku berkurang.
Sesampainya di rumah, Mas Faresta langsung menyuruhku ke kamar, sedangkan dia membuat teh hangat. Begitu sampai di kamar aku menyelimuti diriku dengan selimut.
"Minum dulu," suara Mas Faresta terdengar, aku langsung bangun dari tidurku dan meminum teh buatannya. Teh yang tidak istimewa, tetapi rasa hangatnya sampai ke hatiku. Mungkin karena buatan suami sendiri.
Dia meletakkan gelas yang sudah kosong di meja setelah itu dia duduk di sampingku. "Masih dingin?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan. "Masih dingin, dikit," dia mengelus kedua pundakku. Rasanya nyaman dan hangat, "minum obat dulu ya?" tawarnya, tanpa berpikir panjang aku langsung menggeleng.
Salah satu hal yang paling aku benci adalah obat. Rasanya pahit dan tidak enak dimakan. "Enggak. Nanti juga sembuh." Aku kembali berbaring dan menarik selimut hingga ke menutupi wajahku.
"Sakit, tapi enggak mau minum obat. Bagaimana sih," ucapnya seperti mengomel. Aku hanya terdiam, pura-pura tidak mendengar. Sampai akhirnya Mas Faresta menarik selimutku dan menyodorkan aku obat berserta air putih, "minum, Rena," ucapnya terdengar memaksa.
Aku menggeleng dan berbalik memunggunginya. "Pahit. Ga mau."
Dia menarik-narik tubuhku. "Rena," panggilnya dingin, "bisa dengar perintah saya tidak? Kamu masuk angin juga karna tidak mendengarkan perintah saya untuk makan siang kan. Jadinya begini."
Aku berdecak sebal lalu menuruti perintahnya untuk minum obat. "Saya memberi perintah juga untuk kebaikan kamu, Rena," ucapnya saat aku memberikan gelas yang sudah kosong.
"Iya. Mas bawel ah." Aku kembali menjatuhkan tubuhku dan membelakanginya. Sebelah ranjangku bergerak, mungkin Mas Faresta tengah berbaring. Aku tak menghiraukan dan memilih memejamkan mata.
Menit demi menit berlalu, sampai dua jam kemudian aku belum tertidur. Rasa dinginku semakin lama semakin terasa dan aku tidak tahan lagi. Aku membalikkan tubuhku menghadap Mas Faresta, dia sudah tertidur dengan wajah pulasnya.
Aku menepuk bahunya pelan, berniat untuk membangunkannya. "Mas! Mas! Bangun ih!" ucapku sambil terus menepuk-nepuk bahunya.
Mas Faresta bergumam lalu membuka matanya. "Kalau lagi sakit, biasanya Ibu yang selalu meluk aku habis itu biasanya panasku sembuh," aku memandangnya dengan tatapan memohon, "aku mau dipeluk. Boleh ga?"
Mas Faresta terdiam sebentar lalu menarikku lebih dekat. Dia mengecup kening dan rambutku lalu membawaku ke pelukannya. "Tidur," perintahnya.
Tidak pernah aku duga sebelumnya, pelukan dari pria seram ini begitu nyaman. Aku suka. Dan mungkin akan ketagihan.
Bersambung ....