"Kamu masih lemas?" tanyanya saat kami berdua sudah terbangun dari tidur. Aku menguap lalu menarik selimutku lebih erat.
"Masih," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Saya sudah masak. Makanannya ada di meja makan. Kamu enggak bisa turun ke bawah? Kita sarapan bersama."
Aku menggeleng cepat. Tubuhku masih lemas dan tidak ingin bergerak. Aku hanya ingin tidur, tidur, dan tidur. "Nanti aja."
Mas Faresta memutari ranjang lalu duduk tepat di sampingku. "Sarapan dulu ya?" ucapnya lembut.
"Enggak."
"Saya ambilkan ya. Tunggu sebentar." Setelah itu dia pergi meninggalkanku. Seharusnya aku tidak perlu memberikan penolakan, toh dia juga yang memutuskan iya atau tidaknya.
Merasa bosan akhirnya aku membuka ponselku. Membuka sosial media dan membaca-baca informasi. Mataku terpaku seketika melihat informasi yang begitu menarik. Sekolah SMA-ku akan mengadakan reuni, besok lusa. Aku bertekad akan datang ke acara itu.
Tidak lama kemudian, Mas Faresta masuk ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan juga air putih. Dia menyuruhku makan dan aku menurutinya.
"Mas, aku mau ngomong," ucapku disela-sela kegiatan makan. Aku sudah tidak tahan lagi untuk memberitahukan acara ini. Aku harus meminta izinnya.
"Makan dulu, Rena." Tidak mau membuatnya marah, aku langsung kembali memakan makananku.
Dia memberikanku segelas air putih, aku meminumnya, dan mengembalikan gelas yang sudah kosong. "Kenapa?" tanyanya sambil meletakkan gelas di nakas.
Aku menggeser dudukku lebih dekat dengannya. "Besok lusa, SMA-ku mengadakan reuni. Aku mau datang, boleh kan?" Aku menatapnya dengan tatapan puppy eyes.
Dia terdiam sebentar kemudian menggeleng. "Kamu lagi sakit," ucapnya kembali dingin.
Aku tersenyum lalu menatapnya dengan penuh semangat. "Nanti malam juga sembuh Mas."
Dia menatapku ragu. Wajar sih kalau dia ragu, tadi aku mengadu masih lemas sampai tidak bisa ke bawah, tapi sekarang aku berubah begitu bersemangat.
"Lihat bagaimana nanti," dia bangun dari duduknya, mungkin bersiap-siap untuk ke kampus.
"Hari ini pendaftaran terakhir. Boleh atau enggak?"
Mas Faresta yang sudah sampai di depan kamar mandi, berbalik ke arahku. "Daftar untuk dua orang."
"Sahabatku dia udah daftar duluan. Aku daftar sendiri, Mas."
"Berdua," dia menjeda ucapannya, "sama saya." Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Aku tidak mau dia ikut. Aku enggak mau saya nanti teman-temanku kaku karena ada keberadaanya. Lagi juga, aku mau kebebasan. Bagaimanapun caranya, aku mau datang sendiri.
"Aku enggak mau Mas Faresta ikut. Aku mau kaku karena Mas ikut. Aku kan jarang ketemu teman-temanku."
Mas Faresta diam sambil berjalan ke lemari bajunya. "Boleh kan, Mas?"
"Jangan terlalu dekat dengan pria lain."
"Iya, janji."
"Pulangnya jangan malam-malam."
"Iya, Mas."
"Saya yang antar jemput."
"Hmm," aku terdiam sebentar kemudian mengangguk, "iya deh, tapi boleh kan?"
Mas Faresta mengangguk pelan dan seketika rasa lemasku benar-benar menghilang.
Bersambung ....