Bagian Kesembilan Belas

367 Kata
"Bajumu kekurangan bahan?" Baru saja aku keluar dari kamar mandi, suara Mas Faresta tiba-tiba terdengar.  Aku meliriknya sekilas lalu berjalan menuju meja rias, "bagian punggungmu terlalu terbuka." "Yaudah, biarin." Aku memandangnya lewat pantulan cermin. Mas Faresta menatapku datar lalu dia berjalan menuju lemari pakaianku. Mau ngapain sih dia. Disitu kan ada pakaian dalam aku, aku merasa malu kalau Mas lihat. Aku berlari dan berhenti tepat di depan pintu lemari. "Mau apa sih? Ini kan lemari aku, privasi aku dong," ucapku sambil berusaha menghadangnya. Dia menarik tubuhku dengan satu tangannya, "mau ngapain sih!" ucapku kesal. Dia sudah melihat semuanya. "Enggak ada privasi-privasi di dalam hubungan suami istri, Rena." Dia mengeluarkan jaket hitamku, "pakai ini," perintahnya. Kalau dilihat-lihat memang dressku cocok apabila dipadukan dengan jaket ini. Tanpa berdebat, aku langsung memakainya. "Tunggu di mobil aja. Mas Faresta repot kalau di sini. Komentar terus." Dia tidak menanggapiku, tetapi langkahnya menuntunnya untuk keluar. Beberapa saat kemudian, aku masuk ke dalam mobil. Mas Faresta menatapku dengan lekat, aku berusaha mencari kesalahanku di mana, tapi aku tidak kunjung menemukannya. Aku sudah mengikuti perintah dia, masa masih marah. Heran. "Kamu benar-benar ya, Rena," ucapnya dengan nada tegas. Seketika keningku mengerut. "Apa sih, Mas." Dia memberikanku tissue, aku masih bergeming tidak mengetahui apa maksudnya. "Lipstiknya," dia memindahkan langsung tissue yang dia pegang ke tanganku, "hapus." "Yaelah, Mas. Lipstik doang." "Hapus." "Enggak." "Kalau tidak, kita tidak jalan." Aku berdecak sebal. Apabila perintahnya tidak dituruti, sering kali membuat ancaman dan akhirnya aku mengalah. "Udah tuh!" ucapku sambil melempar tissue ke tong sampah. Mas Faresta tidak bersuara lagi. Dia menjalankan mobilnya menuju ke sebuah ballroom tempat reuni SMA-ku digelar. "Ren," panggilnya saat kami beberapa saat terdiam, "kamu kalau keluar rumah lebih cantik daripada di dalam rumah." Aku mendengarkannya dengan seksama. "Saya ingin kamu berdandan yang cantik saat di rumah, bukan hanya pakai piyama Teddy bear dan skincare-an doang." Aku mulai mengerti arah pembicaraannya. "Enggak ah. Masa ribet banget di rumah harus pakai make up dan pakai dress." "Pakai lipstik saja, gapapa Ren." "Enggak ah. Lipstik aku mahal nanti cepat habis." "Nanti saya belikan lagi. Sekardus kalau perlu." Aku meliriknya dengan tatapan heran. Ini pria seramku kenapa jadi aneh begini. "Mulai besok ya, Ren." Kok seperti memaksa. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN