"Lo sekarang gimana? Bahagia sama tetangga lo itu?" tanya Thalia, sahabatku saat kami berdua sedang berbincang-bincang disudut ruangan.
Aku meminum jus alpukat sebelum menjawabnya. "Ya gitu, Tha. Biasa aja," aku meletakkan gelasku ke meja, "enggak sedih. Enggak senang. Enggak bahagia. Datar aja," lanjutku.
Dia mengangguk, menyapu pandangannya ke arah depan. "Mungkin butuh waktu. Cinta datang karena terbiasa, begitu kan, Ren," dia kembali menatapku, "kecuali lo enggak membuka hati buat suami lo sendiri."
Aku menghembuskan napas. Rasanya berat sekali kalau sudah membicarakan perihal ini. Aku tahu, seharusnya aku belajar mencintai Mas Faresta. Namun, rasanya begitu sulit. Pria itu berusaha memperlakukan dan memberiku yang terbaik, tapi semua itu belum bisa menjadi alasan aku mencintainya.
"Udahlah, Tha. Gue enggak mau bahas tentang ini," aku menunjuk ke arah samping panggung, "ke sana yuk. Temuin yang lain." Thalia mengangguk lalu kami berjalan menuju tempat itu.
Teman-temanku yang berada di sana seketika menoleh dan tersenyum ramah kepada kami berdua. Mereka teman-temanku, walaupun aku tidak begitu dekat, tidak sedekat antara aku dan Thalia.
"Duduk sini," ucap Ghina sambil menggeser duduknya mempersiapkan aku dan Thalia untuk duduk, "enggak jauh beda ya kalian berdua. Mukanya masih imut-imut begitu."
"Ya, begitulah," ucap Thalia menjawab. Mereka semua terkekeh pelan.
"Gue dengar-dengar katanya lo nikah Ren, iya?" ucap Hilna sambil duduk tepat dihadapanku. Padahal aku sudah berusaha menutupinya, tetapi ketahuan juga.
Aku tersenyum lalu mengangguk. "Iya, gue udah nikah. Maaf ya enggak ngundang kalian soalnya yang datang cuma keluarga inti," ucapku berterus terang.
"Sama siapa? Galih?" ucap Gita sambil melirik ke kiri dan ke kanan, "eh iya. Galihnya mana? Kok enggak diajak?"
Aku semakin sulit untuk bernapas, rasanya berat sekali. Aku menatap Thalia, perempuan itu mengangguk pelan. "Bukan. Dia udah lama enggak sama Galih," ucap Thalia mewakili karena Thalia yang tahu tentang semua kehidupanku.
"Beneran?"
"Kok bisa? Bukannya kalian udah pacaran dari SMP?"
"Gue kira lo bakal nikah sama Galih, ternyata bukan ya. Terus sama siapa?"
Aku terdiam, menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan. "Sama anaknya teman Mama gue," jawabku dengan susah payah.
Mereka semua mengangguk paham. Aku berharap pembicaraan ini segera berakhir.
"Sayang banget ya. Padahal lo sama Galih cocok banget."
"Namanya bukan jodoh." Thalia lagi-lagi mewakili.
Setelah itu perbincangan bergulir membicarakan topik lain. Sesekali aku ikut di dalam topik itu, tetapi seringkali aku terdiam. Pikiran dan hatiku mendadak kacau sejak membahas tentang Galih.
Masih banyak asumsi yang belum terpecahkan tentangnya, sampai detik ini.
Bersambung ....