Bagian Kedua Puluh Satu

479 Kata
"Jangan dipikirkan terus, Ren. Enggak semua ada jawabannya sekarang," Thalia tersenyum ke arahku, "nanti, juga ada saatnya lo tahu." Aku ikut tersenyum, walaupun senyuman terpaksa. Thalia menunjuk ke arah mobil di depan sana. "Suami lo udah nunggu. Sana, pulang." Aku mengangguk lalu masuk ke dalam mobil Mas Faresta. Sesampainya di sana aku memakai seatbelt, tetapi aku merasa kesusahan. Aku berusaha menariknya, tapi terasa keras. Aku menatap Mas Faresta dan seakan mengerti dia membantuku untuk memakai seatbelt. "Bagaimana acaranya? Seru?" tanyanya setelah dia selesai membantuku. Aku mengangguk. "Iya. Seru," jawabku dengan nada malas. Tentu saja aku berbohong karena tidak mungkin aku menceritakan tentang mood-ku tadi. "Lelah?" Aku menaikan kedua bahuku. "Lumayan," jawabku. "Sebelum pulang, mau beli sesuatu tidak?" Aku menggeleng dan suasana di antara kami mendadak hening. Tidak ada yang melanjutkan percakapan. Tubuhku sudah benar-benar lemas, aku ingin tidur saja. Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas ranjang. Mas Faresta sedang membuka laptopnya, mungkin sedang mengoreksi tugas mahasiswanya. Entahlah, aku juga tidak peduli. Yang aku inginkan hanya satu, tidur dengan nyenyak. Melupakan semua pertanyaan yang masih bersarang di kepalaku. "Besok saya pergi ke Yogyakarta," ucap Mas Faresta tiba-tiba. Aku yang sudah menutup mataku akhirnya terbuka kembali, "saya dipilih mewakili universitas untuk menghadiri acara di sana," jelasnya. Aku hanya terdiam, tidak tahu ingin merespon dan memperlihatkan ekspresi seperti apa. "Kamu keberatan tidak? Kalau iya, saya bisa mengundurkan diri untuk acara ini." "Pergi aja." Dia menatapku ragu. "Kamu sendirian, saya khawatir." "Mas pergi aja. Aku bisa pulang ke rumah dan ada Bang Kenan yang jaga aku," aku berusaha meyakinkannya. Dia menatapku lekat, sebelah tangannya mengelus pipiku. "Saya akan pulang cepat. Saya akan terus berkirim kabar," ucapnya. Aku mengangguk dengan wajah datar. Keesokan paginya setelah Mas Faresta pergi aku langsung bergegas untuk ke rumah Ibu. Aku ingin menyendiri di sana. Sesampainya di sana, Bang Kenan sudah pergi ke kampus. Aku langsung saja masuk ke dalam kamarku. Aku mengunci kamar dan duduk di tepi ranjang. Kedua mataku menatap sebuah kotak yang berada di atas lemari. Dengan ragu aku berjalan dan mengambilnya. Aku membersihkan debu yang menempel dan membuka kotak itu dengan perlahan. Aku mengeluarkan isinya satu per satu. Di kotak inilah semua kenanganku tersimpan. Semua barang pemberian dari Galih, foto-foto kami, dan diary tentangnya tersimpan di sana. Aku mengambil foto kami, menatap benda itu dengan lekat, dan seketika air mataku terjatuh. Kenangan di foto itu seketika berputar lagi di dalam otakku. Saat itu kami sedang berada di kantin, dia mengeluarkan ponselnya lalu kami foto berdua, senyuman yang begitu tulus tercetak di wajah kami. Foto ini dia jadikan wallpaper ponselnya. Aku memeluk bingkai foto ini lalu isak tangisku kian terdengar. Aku berusaha bertahun-tahun untuk melupakannya. Membuka lembaran baru tanpanya. Bahkan, saat ini, saat aku sudah menikah aku belum bisa melupakannya. Dia tetap yang terindah di hatiku. "Aku berharap kamu bisa melawan penyakitmu. Aku berharap kamu masih hidup, Galih," ucapku sambil mengelus fotonya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN