Bagian Kedua Puluh Dua

469 Kata
Mas Faresta (Tetangga sebelah) Saya enggak bisa tidur nyenyak Kepikiran kamu terus Aku memandangi layar ponsel yang menampilkan pesan dari Mas Faresta. Rasanya begitu aneh. Dia pergi belum sampai sehari masa sudah seperti itu. Mungkin saja ini wajar dirasakan dalam hubungan suami-istri yang saling mencintai, tapi tidak wajar untuk hubungan aku dengannya. Kepergiannya belum terasa apa-apa untukku. Bukan karena dia pergi baru satu hari, dia pergi sebulan rasanya juga biasa saja. Kepikiran tentangnya hanya sekelebat saja, tidak benar-benar dipikirkan. Mas Faresta baik-baik saja di sana. Aku percaya itu. Mas Faresta (Tetangga sebelah) Saya enggak bisa tidur nyenyak Kepikiran kamu terus Anda Iya Jangan dipikirkan Mas Faresta (Tetangga sebelah) Kamu masih online ternyata Kenapa belum tidur? Anda Overthingking malam-malam Mas Faresta (Tetangga sebelah) Saya enggak akan melirik perempuan lain di sini Saya cuma cinta kamu Jadi jangan overthingking ya Mas Faresta tidak tahu kalau alasan overthingkingku bukan dia. Sebelum jalan, Mas Faresta sempat bilang kalau dia pergi bersama rekan-rekannya, tiga orang dan semuanya pria. Kata-kata itu yang membuatku tenang sampai saat ini. Sebenarnya aku tidak cemburu kalau Mas Faresta digoda dengan perempuan lain. Aku tidak mencintainya, bagaimana mungkin aku bisa memiliki perasaan cemburu. Alasan yang menjadi ketakutanku adalah takut dia tergoda dan meninggalkanku. Setelah ditinggal oleh Ayah, Galih, dan Ibu, aku tidak mau kembali ditinggalkan. Aku tidak mau menjadi janda diumurku yang masih muda ini. Aku tidak membalas pesan Mas Faresta lagi, sampai akhirnya ponselku berdering menampilkan video call darinya. Dengan sedikit malas aku mengangkatnya. "Assalamualaikum, Rena," ucapnya sambil tersenyum ke arahku. Aku tersenyum kecil membalasnya. "Waalaikumsalam," jawabku tidak seceria biasanya. Dia memandangku lekat lalu kedua keningnya mengerut. "Kamu terlihat sedih. Sabar ya Ren, empat hari lagi saya pulang." Aku hanya mengangguk kecil. Tidak ingin memberitahukan alasanku sedih saat ini sehingga aku rasa anggukan kepala adalah respon yang paling tepat. "Mau dibawakan apa?" Aku tidak ingin apa-apa darinya. Dia tidak menambah beban pikiranku rasanya sudah cukup. "Apa saja." Mas Faresta melirik sesuatu di sampingnya lalu dia kembali menatap layar ponsel. "Sudah hampir jam satu. Kamu tidur ya sudah malam." Aku mengangguk. "Have a nice dream, Rena. Saya rindu kamu." Aku kembali mengangguk. Mas Faresta terdiam, tidak ada pergerakkan untuk mematikan panggilan ini. Aku juga tidak berniat mematikannya terlebih dahulu. "Ren, jangan dimatikan video call-nya," dia menjeda ucapannya, "HP-nya letakkan di atas nakas. Saya mau lihat kamu sampai tertidur." Aku jadi heran. Apa perlu sampai selebai itu. Namun, tidak ingin membuang energiku untuk berdebat, aku memilih mengikuti perintahnya. Pada pagi harinya aku terbangun bertepatan ada sebuah pesan masuk dari Mas Faresta. Memperjelas pandangan, sebelum akhirnya membuka pesan itu. Mas Faresta (Tetangga sebelah) Kamu semalam tidurnya sambil mengeluarkan air mata Kamu seperti menangis, saya jadi enggak tega Saya sudah bilang kepada rekan saya yang lain, saya hanya bisa mengikuti setengah acara. Dua hari lagi saya pulang Sabar ya, Ren Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN