Mas Faresta
(Tetangga sebelah)
Kamu semalam tidurnya
sambil mengeluarkan
air mata
Kamu seperti menangis,
saya jadi enggak tega
Saya sudah bilang
kepada rekan saya
yang lain, saya hanya
bisa mengikuti setengah acara.
Dua hari lagi saya pulang
Sabar ya, Ren
Anda
Iya, Mas
Ditunggu
Selesai membalasnya, aku bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Aku berharap dengan mendatangi tempat itu aku mendapatkan sedikit jawaban dari overthingkingku selama ini.
"Mau ke mana, Ren? Kenapa pagi-pagi sudah rapi?" tanya Bang Kenan saat kami berdua tengah sarapan di meja makan. Dia menyuapi roti bakar ke mulutnya sambil menatap ke arahku, menunggu jawaban.
"Galih. Mau ke rumah Galih."
Matanya berubah menjadi sendu, ada kesedihan di sana. "Sudah berapa kali Abang bilang, kalian tidak ditakdirkan bersama. Sesering apapun kamu ke rumahnya, dia tidak akan pernah kembali."
Dentingan suara terdengar di antara kami. Aku meletakkan sendok dengan kasar. "Aku sudah hampir dua tahun tidak ke rumahnya, bisa saja dia sudah kembali." Aku memang berharap seperti itu.
Bang Kenan menghembuskan napas kasar. Dia sepertinya lelah berdebat denganku. Padahal dia duluan yang memulai perdebatan ini. "Faresta mencintai kamu. Dia memperlakukan kamu dengan baik. Memberikannya segala yang dia punya."
Aku berdecak sebal. Aku sudah berusaha mencintai pria itu, bahkan bersedia untuk dinikahinya. Aku kira perasaanku akan luluh setelah aku menyandang status yang berbeda, tapi ternyata tidak. Aku tetap mencintai Galih dalam status lajang ataupun sudah menikah.
Enam tahun aku dan Galih bersama, saling memadu kasih. Hubungan kami jarang sekali terguncang. Dia selalu membuatku nyaman di sisinya. Memberikan cintanya yang tulus. Aku sampai berpikir kalau dia yang terbaik dalam hal mencintaiku.
Namun, kami harus berpisah. Galih mengidap kanker darah atau leukemia stadium lanjut. Dia memutuskan kuliahnya dan pindah ke luar negeri untuk melakukan pengobatan.
Sebelum dia pergi, Galih tidak menjanjikan aku apa-apa. Dia tidak memintaku untuk menunggunya. Dia hanya bilang kalau dia sangat mencintaiku dan apabila dia meninggal nanti, aku yang menjadi cinta terakhirnya.
Tangisku pecah saat melepas kepergiannya. Hubungan yang kami bina selama enam tahun harus kandas ditengah jalan.
Semenjak saat itu, dia tidak pernah bisa dihubungi. Aku sudah mencoba beberapa kali menghubungi nomor dan media sosialnya, tapi semuanya tidak aktif. Dia seperti hilang ditelan bumi dan menyisakan misteri sampai saat ini.
Apakah dia bisa melawan penyakitnya atau malah sebaliknya?
"Faresta sudah menunggumu sejak kamu remaja. Dia tidak pernah membuka hatinya untuk perempuan lain, hatinya hanya untukmu." Aku tidak butuh fakta-fakta itu. Bagaimana pun juga aku tetap tidak mencintainya.
"Aku tidak pernah meminta dia menungguku. Aku tidak pernah minta dia mencintaiku," aku menarik napas pelan, "dia yang datang untuk memintaku menjadi istrinya. Aku yang sedang berduka, butuh seorang pelindung sekaligus mengikuti keinginan Ibu, akhirnya menyetujui lamarannya. Semuanya berjalan begitu saja sampai saat ini. Hubungan yang tetap datar, tanpa cinta."
Bang Kenan terdiam, tanpa kata-kata. Wajahnya terlihat kaget setelah mendengarkan ucapanku.
"Aku tidak mencintainya. Aku sudah berusaha, tapi aku gagal. Aku tetap tidak mencintainya."
"Berusaha? Berusaha seperti apa?" tanya Bang Kenan. Pria itu membenarkan posisinya lalu kembali menatap lurus ke arahku. "Sudah pernah berusaha membuka hatimu untuknya?"
Aku tidak punya jawaban lain, selain kata 'belum'.
Bersambung ....