Aku tidak mengindahkan kata-kata dari Bang Kenan. Niatku sudah bulat, aku tetap ingin pergi ke rumah Galih. Ada atau tidak adanya dia nanti, aku tetap ingin ke sana.
Taksi yang menjadi tumpanganku berhenti tepat di rumahnya. Aku memberikan uang kepada supir lalu bergegas keluar. Rumah ini dia jauh beda dari dua tahun yang lalu. Cat dan tatanannya masih sama yang membedakan, rumah ini lebih rapi seperti sudah berpenghuni.
Aku memencet bel beberapa kali. Sampai akhirnya ada satpam menghampiriku dan membukakan pintu. "Rumah ini masih dihuni oleh keluarga Bu Rini?"
Satpam itu terdiam sebentar lalu mengangguk. "Iya. Cari siapa? Bu Rininya?" tanyanya dengan ramah.
Senyuman lebar langsung terukir di wajahku. Penantian panjang akhirnya terbalas juga. "Galihnya ada?"
"Oh, Den Galih—" ucapnya terputus saat klakson mobil terdengar. Pak Satpam itu membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mobil itu untuk masuk.
"Itu Bu Rini. Mau bicara dengannya?" Aku mengangguk cepat. Mungkin bertemu dengan Mamanya dapat memberikan jawaban dari pertanyaanku selama ini.
"Rena, ya?" tanya Tante Rini saat kami sudah berada di ruang tamu.
"Iya, Tante."
Wanita paruh baya itu membuatkanku teh dan mempersilahkan untuk minum. "Ada apa ya, Ren?" tanyanya lagi. Aku mengubah posisi dudukku menjadi lebih tegak.
"Galih, Tante. Rena mau tanya soal Galih." Entah perasaanku saja atau memang benar, aku merasa wajah Tante Rini berubah menjadi tegang. Keringat dingin membanjiri sekitar pelipisnya. Aku bisa melihat itu dengan jelas.
"Tidak perlu mencari tahu tentangnya."
"Rena kepikiran selama ini. Rena mau tahu tentang keadaannya."
Tante Rini menghela napas lalu memutuskan kontak mata diantara kami. "Galih sudah tidak ada. Kamu jalani saja hidupmu tanpa dia. Selama ini kamu juga baik-baik saja."
Napasku tercekat.
"Galih sudah tidak ada?" tanyaku mengulang pernyataannya. Tante Rini menatapku lalu mengangguk.
"Galih tidak bisa melawan penyakitnya?"
Tante Rini mengangguk. Kedua mataku sudah mengeluarkan air mata dengan deras. Penantianku bertahun-tahun akhirnya terjawab dengan kepedihan. Pantas saja Galih tidak menjanjikan aku untuk menunggunya, ternyata pria itu tahu, dia tidak akan menemuiku lagi.
"Di mana pemakamannya?"
"Tidak di Indonesia. Pemakamannya di Sydney, Australia."
Aku menangisi histeris, Tante Rini mendekatiku lalu memelukku erat. Dia menepuk pelan punggungku sampai tangisanku reda. Setelah itu aku pamit pulang. Di tengah perjalanannya ponselku berdering, menampakkan kontak Mas Faresta di sana.
Mas Faresta
(Tetangga sebelah)
Rena saya punya
kabar gembira
Besok pagi saya
boleh pulang
Kamu senang,
tidak?
Anda
Ya
Balasan yang tentu saja sebuah kebohongan. Kabar gembira yang dia berikan, tidak sebanding dengan kesedihan yang tengah aku rasakan.
Bersambung ....