"Bang Kenan!" aku berlari kecil lalu memeluk Abangku yang baru pulang kerja, "Rena, sedih," ucapku lagi sambil menangis histeris.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng sambil terus menangis. Belum sanggup untuk menceritakan yang sejujurnya. Lidahku masih kelu, belum bisa mengeluarkan banyak kata.
Aku merasakan elusan lembut di kepalaku. Tentu saja Bang Kenan yang melakukannya. "Udah punya suami masa masih begini sih, Ren. Manja banget." Aku memukul dadanya pelan, tidak ingin bercanda dalam keadaan seperti ini.
"Kita masuk dulu ya. Cerita sama Abang, di dalam." Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam.
Aku butuh waktu setengah jam sampai akhirnya aku mampu untuk menceritakan semuanya. Bang Kenan memperhatikan ceritaku dengan begitu serius dari awal sampai akhir. Perubahan wajanya yang datar berubah datar menjadi sedih. Mungkin dia tidak tega melihatku seperti ini.
"Kamu hanya perlu didengarkan atau juga ingin diberi masukan?" tanyanya saat aku sudah menyelesaikan cerita.
"Dua-duanya."
Bang Kenan memberikanku tissue lalu menggeser duduknya agar berhadapan denganku. "Enggak usah memikirkan Galih lagi. Sekarang kamu sudah mempunyai Faresta, dia lebih berhak memiliki hati kamu. Coba buka hati buat dia, Ren."
Suamiku memang lebih berhak mendapatkan semua yang aku punya, termasuk hatiku. Namun, aku butuh waktu untuk bisa memberinya. Jangankan memberi, membuka saja aku belum mampu.
"Pelan-pelan. Coba lihat bagaimana dia memperlakukanmu dengan istimewa. Mencintaimu dengan baik. Ubah pola pikirmu tentang dia. Jangan terus menerus terpaku dengan masa lalu, Rena."
Aku bersandar sambil memikirkan kata-kata itu. Ucapan Bang Kenan ada benarnya juga. Terpaku dengan masa lalu, kalau pria di masa lalu masih hidup, aku masih mempunyai harapan untuk kembali kepadanya, tapi masa laluku sudah meninggal, seharusnya aku tidak perlu berharap lagi dengannya.
Mengharapkannya tidak ada gunanya.
Dia tidak akan pernah kembali.
Kami tidak akan pernah menyatu.
Yang perlu aku lakukan yaitu mendoakannya bukan mengharapkan.
Suara deringan ponsel tiba-tiba terdengar. Bang Kenan memberikan ponselnya ke arahku. "Faresta telepon, kamu yang angkat aja."
Aku mendorong ponselnya pelan. "Abang yang angkat aja. Mungkin urusan kampus." Bang Kenan mengangkat panggilan itu dengan me-loadspeaker suaranya.
"Kenapa, Res?" tanya Bang Kenan.
"Rena mana? Udah pulang ke rumah belum dia? Lo ada di mana Ken? Udah ketemu Rena belum? Ponselnya enggak aktif, gue enggak bisa ngehubungin." Suara Mas Faresta terdengar begitu khawatir.
Aku melirik ke jam tangan, padahal waktu masih menunjukkan pukul delapan, tapi Mas Faresta bisa-bisanya sekhawatir itu. Keluargaku saja belum mencariku kalau aku jam segini belum pulang.
"Di rumah. Rena ada di rumah. Nanti gue bilangin dia untuk menghubungi lo ya."
"Iya. Tolong ya Res. Terima kasih."
Setelah panggilan itu terputus, Bang Kenan menoleh ke arahku. "Ponselnya sengaja enggak diaktifkan?" Dengan lemah aku mengangguk. Bang Kenan mengacak rambutku dengan geram, "aktifkan ponselnya lalu hubungin suami kamu. Kasihan dia khawatir sampai sebegitunya."
"Dia berlebihan," ucapku sambil bangkit dari duduk, melangkah menuju ke atas.
"Cintanya kepadamu, terlalu dalam," ucap Bang Kenan saat aku sudah di tangga.
Bersambung ....