Bagian Kedua Puluh Enam

561 Kata
"Rena!" Mas Faresta berjalan cepat lalu menarikku ke dalam pelukannya, "saya rindu sekali," ucapnya terdengar begitu dalam dan tulus. Kedua mataku memutar memandang sekitar. Kami masih di bandara dan banyak orang yang berlalu lalang. Bahkan, tidak sedikit pasang mata yang menatap kami berdua. Aku melepaskan pelukan sepihak, Mas Faresta sepertinya tidak terima dengan tindakanku. "Malu. Ini ditempat umum, Mas," ucapku sebelum dia marah. "Kalau dirumah berarti boleh?" tanyanya seperti menggoda, aku hanya berpura-pura sibuk dengan koper yang dia bawa, "yasudah. Lanjut di rumah ya, Ren." Aku berbicara lagi sampai kami berada di dalam taksi. Kami duduk di bagian tengah dan  pak supir sendirian di depan. Mobil ini melaju ke rumah Mas Faresta, maksudku rumahku dengannya, rumah kami. Aku menatap keluar jendela, hari ini cerah. Langit membiru dan beberapa burung terbang bebas di atas sana. Pandanganku beralih ke depan, jalanan hari ini juga tampak ramai lancar. Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangku dan membawa tubuhku lebih dekat sehingga sisi sebelah tubuhku menempel dengannya. "Apa sih," ucapku sambil berusaha melepaskan tangannya. Seolah tidak mendengar, Mas Faresta malah menarik kepalaku agar bersandar di dadanya. Dengan jarak yang sangat dekat, aku dapat merasakan aroma tubuhnya. Aku hirup pelan-pelan dan mencoba merasakan harum apa ini. "Kok bau aku sih," aku menghirup lebih dalam. Iya, tidak salah lagi. Aku merasakan aroma tubuhku di tubuhnya. "Iya, saya pakai shampo dan sabun  kamu selama di sana," ucapnya terdengar santai, tapi mampu membuat kedua mataku membulat sempurna. Apa-apa sih, pria seram ini semakin aneh. "Kenapa?" tanyaku tidak sabar. Sebelah alisnya menukik, seperti tidak paham dengan pertanyaanku, "kenapa pakai sabun dan shampo aku? Kita kan pakai yang beda merek. Lagian itu sabun dan shampo perempuan. Aneh banget sih," ucapku kesal. Dia terdiam lalu senyum kecilnya terbit. "Saya rindu kamu dan mencium aroma kamu disekitar saya membuat saya lebih tenang." Fix. Dia aneh banget. Aku membuang pandanganku ke arah jendela. Tidak ingin melanjutkan perbincangan ini. Biarkan saja dia dengan perilaku anehnya, aku enggak mau memperdulikan. "Marah ya?" Suara yang terdengar semakin mendekat dan berhenti ketika ada sebuah kecupan halus di puncak kepalaku, "nanti saya belikan lagi sekardus." Kemarin dia ingin membeli aku lipstik sekardus, sekarang shampo dan sabun ingin dibelikan sekardus juga. Setelah itu apalagi. Dikira aku ingin jualan apa. Lagi juga satu botol besar saja sudah bisa dipakai berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan. Dia memang berlebihan. Aku terdiam membisu sampai kami berada di rumah. Mas Faresta membersihkan tubuhnya lalu menghampiriku yang sedang berbaring di atas ranjang. "Masih marah?" suaranya terdengar maskulin. Aku menoleh ke arahnya, seketika aku membisu dan terasa sulit untuk bernapas. Tubuhnya begitu terbentuk, walaupun dia sudah memakai kaus. Keren banget, asli. Begitu tersadar, aku langsung membuang pandanganku sampai akhirnya Mas Faresta memelukku dari belakang. "Itu kan masalah sepele, Rena. Masa kamu ngambek." Aku enggak ngambek. Aku hanya merasa aneh aja dengan perilakunya. Aku tahu dia mencintaiku, tapi aku pikir tidak perlu sampai lebai begitu. Bukannya apa, aku jadi merasa aneh dan risih. "Besok-besok kalau saya ingin bawa sabun dan shampo kamu, saya akan bilang dulu." "Mas Faresta lebai banget. Kalau sampai rekan Mas tahu, Mas pakai sabun dan shampo perempuan emang enggak malu?" "Enggak ada yang tahu, Rena." Aku berbalik sehingga tubuh kami berhadapan. "Ya kan kecium baunya." "Kalau dari jauh enggak," tangannya mengusap rambutku yang berantakan, "lagian enggak ada yang mau cium-cium saya." Enggak ada yang mau cium-cium aroma tubuhnya, selain aku. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN