Bagian Kedua Puluh Tujuh

469 Kata
"Ini rekap keuangan pada bulan ini, Bu," ucap Rita, selaku manajer di sini. Aku mengangguk dan menyuruhnya untuk pergi. Aku membuka dokumen ini dan mempelajarinya dengan seksama. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir, aku tidak menemukan kesalahan di sana. Semuanya sudah baik, tidak ada yang membingungkan. Aku menutup rekap keuangan itu lalu memberikannya ke salah satu pelayan di sini. "Tolong kasih ke Rita ya, Nin," Nina mengangguk sambil tersenyum ramah, "terima kasih." Setelah itu Nina bergegas ke belakang. Pandanganku menyapu ke seluruh sudut di cafe ini. Pengunjungnya ramai, tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Mungkin yang menjadi daya tarik cafe ini adalah desainnya yang terlihat begitu alami dan menu makanannya yang sehat, meskipun sehat rasanya juga enak. Aku berjalan ke bagian belakang, di sana ada sebuah danau kecil buatan dan di sisinya bermekaran berbagai macam bunga. Bagian ini adalah request dariku kepada Ibu dan tentu saja dituruti olehnya, mengingat kami berdua pecinta bunga. Deringan ponselku terdengar saat aku ingin menyentuh salah satu bunganya. Aku membatalkan niatku dan memilih mengangkat panggilan itu. "Assalamualaikum, Rena." Suara Thalia terdengar di sana. "Waalaikumsalam, Tha. Kenapa?" ucapku sambil duduk sisi danau. "Lusa gue mau wisuda. Lo datang ya." Akhirnya Thalia berhasil menyelesaikan studinya. Aku turut senang mendengar kabar itu. "Iya, pasti datang." "Nanti gue kirim jamnya dan nama gedungnya." "Siap, Tha." "Yaudah, gitu aja. Gue tutup ya." Sambungan terputus setelah itu aku kembali mengamati bagian-bagian di cafe ini, sekedar mengecek apa yang perlu dibenarkan apabila ada yang rusak. Malam harinya, aku dan Mas Faresta sedang berada di ruang televisi. Aku meminta untuk menonton film romance dan Mas Faresta menurutinya. "Perempuannya cantik ya, Mas?" tanyaku sambil menunjuk ke layar televisi. Dari sudut mataku, terlihat Mas Faresta mengangguk samar. "Cantikan aku atau dia?" tanyaku lagi. Dia melirik ke arahku dan juga ke arah layar televisi. "Dia," ucapnya datar. Entah kenapa aku merasa kesal mendengarnya. Bisa-bisanya dia bilang perempuan lain lebih cantik daripada istrinya. "Kok dia?" tanyaku dengan dibumbui emosi. Dia melirikku sekilas lalu kembali menonton film. "Saya jujur, Rena." Aku hargai kejujurannya, tapi dia juga harus menghargai perasaanku. Katanya aku cintanya, tapi dia masih bisa memuji orang lain. Aku jadi enggak mood melanjutkan film. Aku menoleh ke samping melihat Mas Faresta terlihat begitu serius. Aku jadi semakin kesal. Tanpa pikir panjang aku langsung melempar remote ke arahnya membuat dia menoleh ke arahku dengan kaget. "Aku enggak mau nonton lagi. Mas nonton sendiri aja." "Kok ngambek?" Aku melangkah dengan cepat, saking cepatnya terlihat seperti berlari. Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang lalu memainkannya ponselku. Beberapa saat kemudian Mas Faresta masuk ke dalam kamar, langkahnya mendekatiku. "Kok marah?" tanyanya sambil berusaha menggengam tanganku, tetapi aku langsung menepisnya. "Enggak marah." Dia terkekeh lalu mencubit hidungku gemas. "Kamu cemburu karena saya memuji perempuan lain ya?" Cemburu kan tandanya cinta. Mana mungkin aku cemburu. Mas Faresta memang tidak jelas. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN