Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas meja. Mataku memandang ke arah taman, tetapi pikiranku kosong. Rasanya bosan sekali seharian di rumah tanpa kegiatan apapun. Biasanya aku mengobrol atau melakukan hal lain bersama Ibu, tetapi saat ini aku sendirian.
Aku ingin ke cafe, tetapi di sana pun aku juga bosan. Kemarin aku sudah mengecek lingkungan cafe dan melihat rekap keuangan, tidak mungkin hari ini melakukan kegiatan yang sama.
Aku menjatuhkan kepalaku di meja. Pikiranku melambung memikirkan kata-kata Mas Faresta. Mungkin kembali berkuliah adalah solusi yang tepat untuk membunuh rasa bosanku.
Aku mengangguk pelan. Ya, aku akan mengajukan usulku kepada Mas Faresta. Tanpa meminta persetujuannya, aku yakin seratus persen dia setuju dengan usulku. Apalagi berkuliah di tempatnya bekerja, dia semakin setuju dan tentunya senang.
"Aku mau kuliah lagi. Jurusan Biologi. Di universitas tempat Bang Kenan kerja," ucapku saat Mas Faresta keluar dari kamar mandi. Dia telah selesai membersihkan dirinya seusai bekerja.
Dia memutari ranjang lalu duduk di tepi ranjang bagiannya. "Tempat saya bekerja?" tanyanya sambil menaikkan kakinya ke atas ranjang.
"Ya, sama aja," ucapku datar.
"Jurusan biologi?" tanyanya. Aku berdecak sebal, jelas-jelas tadi aku sudah memberitahu. Kenapa harus ditanyakan kembali sih. Heran.
"Iya."
Mas Faresta mengangguk pelan. Sebelah tangannya menarikku agar bersandar di bahunya. Aku sempat menolak, tetapi tenaganya jauh lebih besar daripada tenagaku. "Dua Minggu lagi dimulai perkuliahan semester ganjil. Kamu bisa langsung berkuliah," ucapnya santai.
Gampang ya ternyata kuliah di kampus suami sendiri. Tinggal bilang saja, sudah bisa masuk. Masalah>"Enggak boleh ada yang tahu kita udah menikah," ucapku dengan nada tegas. Aku tidak ingin mempersempit ruang pergaulanku karena berstatus sebagai istri dosen. Apalagi kalau Mas Faresta mengajar kelasku juga.
"Iya, Ren. Saya paham," jawabnya sambil terus mengelus rambutku.
"Kalau orang-orang tahu aku adik dari Bang Kenan gapapa. Asalnya jangan ada yang sampai tahu kalau aku istrinya Mas Faresta."
"Iya, Ren. Bawel kamu."
Untung saja Mas Faresta mengerti dan tidak menghambat keinginanku. Kalau dia menghambat, pasti akan ada percekcokan malam ini. Mungkin energinya sudah habis untuk berdebat denganku.
"Aku enggak mau diantar jemput pakai mobil Mas Faresta," permintaanku yang lainnya. Tangan Mas Faresta seketika berhenti bergerak, dia sepertinya tidak menyetujui permintaan ini.
"Kenapa?"
"Ya bisa ketahuan dong."
Mas Faresta terdiam seperti berpikir setelah itu tangannya kembali mengelus puncak kepalaku. "Baik. Saya sewakan taksi online ya untuk mengantar jemputmu," usulnya.
Aku menarik kepalaku lalu berhadapan sambil memandangnya. "Aku enggak mau. Aku mau bawa mobil sendiri."
Sebelah alisnya mengerut. "Memangnya kamu punya mobil?"
Aku gelagapan. Benar juga. Aku tidak punya mobil. Selama ini yang punya mobil hanya Bang Kenan dan mobilnya dia pakai saat bekerja.
"Makanya belikan aku mobil dong," wajah Mas Faresta seketika berubah, "Mas, aku mau mobil baru," permintaanku selanjutnya. Banyak ya ternyata permintaanku untuk menjadi salah satu mahasiswanya.
Wajah kaget Mas Faresta kembali berubah seperti semula. Pria itu mengangguk menyetujui permintaanku. Tidak menyangka, pria seram ini baik juga. Padahal aku berpura-pura matre, ternyata dituruti, kalau begitu benaran matre saja.
"Mobilnya yang lebih mahal daripada mobil Mas Faresta."
Dia mengangguk. Sebelah tangannya kembali menarik kepalaku agar bersandar di bahunya.
"Aku mau warna putih."
"Iya. Besok saya belikan."
Wow. Seperti meminta es krim saja besok bisa langsung dibelikan. Aku minta mobil loh ini, masa langsung dibelikan. Uangnya pasti banyak. Untuk membeli mobil saja dia tidak perlu pikir panjang.
Pria seram ini ternyata punya hal baik di dalam dirinya yaitu tidak pelit.
Aku beruntung bisa menikmati uangnya.
Bersambung ....