Aku membuka mata perlahan, semakin lama semakin jelas ada sebuah benda yang tergenggam di tanganku. Aku mendekatkan mata itu ke mataku dan langsung terlihat dengan jelas. Benda ini adalah kunci mobil.
Ternyata Mas Faresta benar-benar konsisten dengan ucapannya semalam. Pria itu membelikanku mobil, pada saat aku belum bangun tidur. "Mobilnya ada diluar," ucap Mas Faresta yang tiba-tiba sudah berada di hadapanku.
Aku jadi bingung bisa ya ternyata beli mobil langsung diantar tidak perlu menunggu berhari-hari. Mungkin pengaruh dari Mas Faresta yang sudah membayar lunas atau mungkin karena hal lain, entahlah. Aku enggak mau ambil pusing yang jelas saat ini aku mau melihat mobil baruku.
"Wow. Bagus banget," ucapku terkagum-kagum saat melihat mobil itu. Harganya pasti jauh lebih mahal daripada mobilnya dan juga mobil Bang Kenan.
"Suka?"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Mas Faresta berjalan mendekatiku. "Iya. Suka. Makasih ya." Mas Faresta mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Nanti kita coba. Sekarang sarapan dulu." Aku memberi kunci mobilku kepadanya lalu aku berjalan menuju meja makan. Aku sarapan dengan roti dan juga s**u putih.
"Mas, aku lupa bilang," Mas Faresta meletakkan gelas miliknya yang sudah kosong, "hari ini Thalia, sahabatku wisuda. Aku mau datang. Mas temani aku," ucapku setelah kami menyelesaikan kegiatan sarapan ini.
Mas Faresta menggeleng cepat. "Saya ada pertemuan dengan rektor pagi ini. Saya enggak bisa," tolaknya.
"Acaranya siang. Mas bisa kan?"
Mas Faresta terdiam cukup lama kemudian mengangguk. "Ya, saya usahakan."
Siang harinya aku tengah bersiap untuk pergi ke acara wisuda Thalia. Memakai make up tipis, kali ini tidak memakai lipstik merah. Tidak mau ada perdebatan dengan Mas Faresta seperti waktu itu.
"Saya di bawah," ucap Mas Faresta di panggilan telepon.
Dengan langsung cepat aku bergegas ke bawah. Mas Faresta sudah menungguku di dalam mobilnya. Aku mengetuk pelan jendela di sampingnya, dia membukakan untukku. "Mau pakai mobil baru aja. Mobil baru aku."
"Pakai mobil ini aja. Kenapa sih? Sama saja."
Tatapanku langsung berubah menjadi sebal. "Aku kan pengen coba mobil itu. Percuma dong beli doang enggak dipakai." Mas Faresta mengalah. Dia memasukkan mobilnya ke garasi lalu memakai mobil baruku untuk ke acara wisuda Thalia.
"Aku aja yang nyetir." Dia mengangguk lalu duduk di kursi samping kemudi.
"Hati-hati ya, Rena. Lihat-lihat kiri dan kanan," ucapnya mengingatkan.
"Iya," ucapku sambil memakai seatbelt.
"Jangan panik. Relaks aja."
"Iya, Mas."
Aku mengeluarkan mobilku dari gerbang rumah. Sudah lama aku tidak membawa mobil, aku jadi sedikit panik dan gerogi sampai-sampai tidak melihat kalau gerbang begitu mepet dengan mobilku. Dan kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi.
Aku menoleh ke arah spion mobil. "Yah, Mas. Mobilnya baret," ucapku melapor.
Mas Faresta terdiam. Mungkin kesal karena mobil dia yang belikan belum sampai sehari sudah baret atau mungkin kesal karena aku tidak mendengar ucapannya.
"Baru sampai di depan rumah, Ren. Mobilnya sudah baret," ucapnya datar.
Aku membalas dengan cengiran. "Hehehe. Maaf ya Mas. Nanti bawa ke bengkel ya?"
"Iya. Dengarkan kata-kata saya makanya."
"Iya, Mas. Maaf ya."
Bersambung ....