"Kita main ke rumah Mama ya," ucap Mas Faresta saat kami sedang bersantai di rooftop. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu yang berarti Mas Faresta tidak bekerja sehingga dia bisa menemaniku.
"Ayo. Sekarang ya?" Mas Faresta menggeleng lalu menyeruput teh hijau buatanku.
"Nanti. Saya masih mau berduaan sama kamu." Setiap hari juga selalu berdua, pagi dan malam selalu berdua. Masa hari libur masih ingin berduaan terus, dia tidak bosan apa.
"Sekarang aja," ucapku memaksa.
"Nanti." Kali ini aku menuruti keinginannya.
Beberapa saat kemudian kami sudah sampai di depan rumah Tante Linda. Saat ini aku tidak memakai panggilan itu, panggilanku untuk Tante Linda berubah menjadi Mama.
"Faresta gimana Ren? Sesudah kamu mengenalnya," pertanyaan Mama Linda saat aku dan Mas Faresta duduk di ruang keluarga.
"Enggak seseram dulu sih, Mah," ucapku jujur. Mama Linda terkekeh pelan, sedangkan Mas Faresta terdiam dengan wajah datarnya.
"Saya enggak seram. Kamunya saja."
"Seram tahu," ucapku tidak mau kalah.
Mama Linda tertawa mendengar perdebatan kami. "Udah hampir beberapa bulan menikah. Kamu sudah positif, Ren?" tanya Mama Linda dengan hati-hati.
Mama mertuaku tidak tahu kalau aku dan anaknya sampai saat ini belum pernah melakukan itu, bagaimana bisa jadi positif. Aku selama ini tidak pernah menolak, cuma Mas Farestanya saja yang tidak meminta. Salah dia sendiri dong.
"Belum, Mah. Rena mau kuliah dulu," ucap Mas Faresta membantu menjawab. Aku bernapas lega, setidaknya kembali berkuliah bisa menjadi alasan.
"Kuliah sambil mengandung kan bisa, Ren."
Duh, aku jadi bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin aku jujur dengan bilang kalau aku masih gadis. Bisa-bisanya kami berdua bisa dimarahi.
"Kalau sudah waktunya, pasti di kasih, Mah," ucap Mas Faresta lagi. Dia baik sekali hari ini, menolongku dari pertanyaan-pertanyaan yang mematikan.
Perbincangan bergulir membahas hal lain. Setelah itu Mama Linda pamit keluar katanya dia ingin senam sore bersama teman-teman kompleknya. Aku ingin ikut, tetapi wanita paruh baya itu melarang, katanya aku di rumah saja menemani Mas Faresta.
Saat ini aku dan Mas Faresta berada di kamarnya. Aku berjalan menuju ke jendela dan menatap kamarku yang berada di ujung sana. Dulu rumah kami berseberangan, kini bukan hanya rumah yang menyatu, kamar kami pun juga.
"Aku enggak cantik ya, Mas?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.
Dari ujung mataku aku dapat melihat Mas Faresta menoleh ke arahku. "Cantik," jawabnya cepat.
Aku berbalik lalu duduk di tepi ranjangnya, sedangkan dia berbaring di tengah ranjang. "Tapi Mas Faresta kok biasa aja?"
"Biasa aja, bagaimana? Saya sering bilang saya cinta kamu. Itu sudah membuktikan kalau saya punya perasaan denganmu, tidak biasa saja."
Aku menggeleng. "Bukan itu." Kami saling bertatapan, dia menatapku lekat kemudian membuang pandangannya terlebih dahulu.
"Saya nunggu kamu siap, Rena," ucapnya sepertinya mengerti dengan arah pembicaraanku.
"Mas enggak pernah tanya aku siap atau enggak."
Dia kembali menatapku. "Dari tingkah kamu saya sudah tahu kamu belum siap."
"Seharusnya Mas tanya dulu dong. Jangan langsung menyimpulkan," ucapku dengan sedikit emosi.
"Ya memangnya kamu siap?"
Sial. Pertanyaannya to the point sekali. Aku kan berusaha membuatnya terlihat salah, tetapi pertanyaan ini seakan menjebakku.
"Enggak perlu di jawab. Saya sudah tahu." Setelah berbicara seperti itu dia keluar dari kamar meninggalkanku yang masih mematung di tempat. Otakku masih memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
Apa iya aku belum siap?
Aku menghela napas panjang. Aku akan memberikannya jika aku sudah mencintainya. Aku cuma punya satu, tidak ingin memberikannya ke sembarang orang. Aku hanya ingin memberikannya ke pria yang aku cintai.
Bersambung ....