Bagian Ketiga Puluh Satu

471 Kata
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi mahasiswa. Setelah bertahun-tahun vakum dan akhirnya kembali menjadi mahasiswa dengan jurusan yang berbeda. Pagi ini tidak ada keributan. Selesai aku dan Mas Faresta sarapan, kami berdua masuk ke dalam mobil masing-masing dan melaju dengan tujuan yang sama. Mobilku berada di depan, sedangkan mobil Mas Faresta ada di belakang. Kami iring-iringan menuju ke kampus. Ribet sih memang. Satu mobil pun sepertinya sudah cukup. Namun, mau bagaimana lagi, cara ini adalah solusi terbaik untuk menutupi status kami berdua. Mas Faresta Kamu masuk duluan, saya ikuti dari belakang Pesan singkatnya masuk ke dalam ponselku saat kami sudah sampai di parkiran mobil.  Tanpa membalas pesannya, aku bergegas untuk turun dan masuk ke dalam gedung. Di sepanjang lorong aku mencari ruangan A3, ke kelas pertamaku untuk hari ini. Setelah ketemu, aku masuk ke dalamnya dan memiliki kursi bagian tengah. Jadwal mata kuliah pagi ini adalah biologi umum. Sambil menunggu dosennya, aku membuka ponsel. "Selamat pagi, semuanya." Suara yang tidak asing terdengar begitu kencang di telingaku. Aku mengigit bibir, kenapa sih baru mata kuliah pertama masa langsung diajar oleh Mas Faresta. Nyebelin banget. Aku kan mau lihat wajah-wajah yang baru. Kenapa dia yang selalu terlihat. "Saya ucapkan selamat datang untuk kalian yang sudah menjadi mahasiswa baru. Semoga kita bisa bekerjasama di semester ini ya." Aku memandangnya dengan malas. Dia membuka laptopnya dan menghubungkannya dengan proyektor. Semua mata tertuju ke depan, dia menampilkan materi-materi yang mungkin akan dia ajarkan nanti. "Nama saya Faresta, kalian bisa memanggil saya Resta," dia membuka salah satu power point, "segitu saja perkenalannya. Kita langsung masuk ke materi pertama." Emang ngeselin. Enggak di rumah, enggak di kampus. Mas Faresta memang menyebalkan. Harusnya ada basa-basi dulu, perkenalan dengan mahasiswanya, atau games agar mahasiswanya lebih akrab. Lah ini langsung belajar di hari pertama. Aku menarik napas panjang lalu berusaha memperhatikan dosenku sekaligus suamiku yang sedang menjelaskan materinya. Pembawaan materinya mudah dimengerti, walaupun terlihat kaku. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun, dirinya begitu serius menjelaskan. Dia terlihat begitu pintar. Tubuh atletisnya terbalut kemeja hitam. Wajahnya begitu serius. Dia ganteng sekali. Pantas saja dia menjadi dosen idola. Tidak menyesal aku kuliah di sini, dari jarak dekat aku bisa memastikan kalau dia tidak berselingkuh. "Ganteng ya," samar-samar aku mendengar suara perempuan tepat di belakangku. "Siapa?" "Itu, dosennya. Pak Resta. Ganteng ya?" ucapnya begitu centil. "Iya. Badannya bagus banget. Udah punya istri belum ya?" ucap perempuan dengan suara yang berbeda. Aku menoleh ke belakang, dua perempuan sedang menatap Mas Faresta dengan tatapan lapar. Apa nih, belum juga se-jam, Mas Faresta sudah punya fans baru saja. "Maaf, bisa minggir sebentar ga?" aku menaikan sebelah alisku, "aku lagi memperhatikan dosennya, kamu nengok ke belakang jadi enggak begitu kelihatan." Dengan hati yang kesal aku menarik kursiku ke arah dinding, benar-benar menutup ruang pandangnya untuk melihat suamiku. Ganjen banget sih, mau ngeliatin suami orang sampai sebegitunya. Heran. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN