bc

KAMU SUDAH MATI, AKU BELUM

book_age12+
16
IKUTI
1K
BACA
drama
comedy
sweet
scary
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Seorang gadis yang tengah jatuh cinta dengan teman satu kampusnya, mendadak sering didatangi dan diganggu oleh arwah penasaran. Sebuah cerita pendek bergenre romansa ditambah sedikit komedi dan dibungkus dengan kemasan horror yang akan memberikan sensasi romantis, seram dan lucu sekaligus bagi para pembaca.

chap-preview
Pratinjau gratis
FIX YOU
Jam 2 dini hari. Sebuah rumah sakit yang berlokasi di pinggiran kota, tampak sepi. Tak nampak orang yang berlalu-lalang. Tak terlihat juga aktivitas pengobatan. Semua tampak lengang. Angin kencang bertiup menggoyangkan dahan-dahan dari pohon-pohon besar di sekitar rumah sakit yang umurnya sudah lebih tua dari keberadaan rumah sakit itu sendiri, menebar hawa dingin ke dalam lorong-lorong sunyi, bangsal-bangsal sepi. Suaranya bergemuruh dan bergemerisik. Malam yang sepi ditambah angin gemuruh dingin bukanlah hal yang menyenangkan untuk dinikmati di sebuah rumah sakit tua. Seorang perawat pria yang berjaga di ruang gawat darurat merapatkan jaketnya. “Malam ini berasa lebih dingin dan sepi ya Pak,” ujarnya pada seorang satpam yang berjaga bersamanya. “Ho’oh, padahal biasanya ada aja yang masuk IGD,” balas satpam. “Wah jadi Bapak ngarepin ada orang yang sakit nih?” seloroh perawat pria. “Ya bukan begitu sih Mas, tapi kalau ga ada yang sakit, ‘ntar situ ga digaji,” cengir pak satpam. Perawat pria itu tertawa. Srek! Perawat pria yang sedang tertawa itu mendadak diam, lalu menatap satpam. “Suara apaan ‘tu Pak? Bapak denger ‘kan?” bisiknya. Satpam itu mengangguk seraya berkata dengan sedikit gugup, “Udah Mas biarin aja … masing-masing aja.” Srek! Suaranya terdengar lagi. “Kayak suara langkah kaki, ayo kita cek Pak,” ajak perawat pria itu. “Hah, ngecek? Yang bener aja Mas,” cetus pak satpam. “Siapa tau pasien yang butuh bantuan, atau yang lagi jalan-jalan,” sahut perawat pria mengambil senter. “Busyet, mana ada sih Mas pasien jam dua malam jalan-jalan,” sanggah pak satpam. “Ya kali bosen di kamar pengen cari angin segar,” cengir perawat pria. Satpam itu tampak ragu. “Kenapa Pak?” tanya perawat pria. “Suara kayak gitu di sini mah udah sering … namanya juga rumah sakit tua … tapi sama kita-kita dicuekkin aja,” jelas pak satpam mencoba memberi cerita seram agar tidak perlu mengecek. Srek! “Suaranya ga jauh Pak, kayaknya di lorong menuju kamar pasien, ayo Pak!” cetus perawat pria itu menyalakan senternya lalu keluar ruangan menuju lorong meninggalkan satpam yang bimbang. Satpam itu mendengus karena ceritanya ternyata tidak mempengaruhi si perawat pria. “Dasar orang baru!” gumamnya sebal lalu menyusul perawat pria itu. Di lorong rumah sakit. Keadaannya sepi. Satpam itu mendekati perawat pria yang sedang menengok ke kiri ke kanan. “Ga ada siapa-siapa Pak,” bisik perawat pria. “Ya elah Mas, kayak ga apal kebiasaan setan aje … dari jauh kedenger suara, pas kita deketin kaga ada apa-apa, eh tau-tau dari belakang krrrrkkkk,” sahut pak satpam memeragakan orang yang dicekik. Srek! “Ssssttt,” cetus perawat pria membuat satpam itu terdiam. “Suaranya bukan dari lorong menuju kamar pasien, tapi ternyata berasal dari ujung lorong menuju kamar mayat itu Pak,” tunjuk perawat pria pada ujung lorong yang tampak temaram suram. Satpam itu terlihat lemas. “Haduh … mending kita balik aja yuk Mas ke tempat jaga lagi … di ujung lorong sono mah emang angker,” jelas pak satpam. “Tapi saya penasaran,” gumam perawat pria. “Situ penasaran, saya mah engga,” tandas pak satpam lalu balik kanan bermaksud untuk pergi tapi sebelum melangkah pergi perawat pria itu telah mencengkeram tangannya. “Mau kemana Pak? Jangan takut ….” ucap perawat pria dengan suara lemah lembut. Satpam itu menoleh dan menjerit melihat wajah perawat pria telah berubah menjadi wajah seorang perempuan pucat pasi dengan rambut hitam sebahu yang kusut dan darah yang menetes dari hidungnya lalu menyeringai seram. Satpam itu pun histeris dan pingsan. *** “Lo lagi liatin si Dimas ya?” Flo terkejut mendengar suara itu. Ia menoleh dan tampak Yuli, sahabatnya sedang tertawa. “Ga … lo aja yang salah lihat,” kelit Flo canggung karena tertangkap basah. “Halah halah … ngaku aja deh Flo, dari keluar kelas tadi, gue perhatiin lo duduk di sini dengan tatapan ke bawah pohon sana, titik kordinatnya udah pas soalnya, cie cie,” goda Yuli. Flo tak bisa berkelit lagi, ia hanya berpura sibuk membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu yang tidak dicarinya. Yuli tertawa lagi melihat kelakuan sahabatnya yang malu itu. “Eh Flo, gue bilangin deh, lo percuma kalau suka sama si Dimas itu,” lontar Yuli. Flo mengerutkan keningnya, “Kenapa?” Yuli duduk di depan Flo, berkata, “Dia ga akan nanggepin lo. Mending lo cari cowok lainnya aja deh.” Flo masih diam tak mengerti. “Gini Flo … setahun yang lalu, pacarnya Dimas itu meninggal dunia ….” Flo terkejut, “Beneran?” “Iya, Dimas bersedih dan patah hati sampai sekarang.” Flo menggigiti bibirnya, kini ia baru mengerti mengapa pria itu selalu tampak sendiri di kampusnya ini, ternyata bukan karena ia tak memiliki teman tapi karena ia memang memilih untuk menyendiri. Dan pantas saja, tempo hari saat ia memberinya senyum pada saat pertama kali berpapasan dengannya di lorong kampus, pria itu hanya melirik saja tak menanggapi. “Jadiiii … sampai sekarang dia masih bersedih, nah sebelum lo patah hati, sebaiknya lo cari cowok lain aja … lo ga akan bisa mengobati sakitnya Flo,” pungkas Yuli. Flo terdiam dan berpikir. “Tapi, kalau lo penisirin, ya udah coba aja, tapi kalau nanti lo kecewa jangan bilang kalau gue ga ngingetin lo dari awal ya,” sambung Yuli. Flo manggut-manggut lalu menatap pada Dimas yang sedang duduk sendiri di ujung lapangan di bawah pohon tua dengan daunnya yang lebat. “Itu memang tempat duduk favorit mereka berdua Flo … tapiii semenjak pacarnya meninggal, ga ada lagi yang berani duduk di sana lagi, cuma Dimas aja yang berani … katanya sih duduk di sana bikin merinding gitu,” ungkap Yuli seraya berdiri dari duduknya, “udah ah, eh Flo, ayo ikut gue.” “Ikut kemana?” tanya Flo. Yuli menarik tangan Flo untuk berdiri. “Berhubung lo masih baru di kampus ini, maka gue harus menunjukkan sebuah tempat angker di kampus ini yang harus lo hindari!” cetus Yuli berjalan mendahului Flo. “Hah?” kejut Flo. Yuli mengangguk-ngangguk, “Emang lo pikir di kampus kita ini ga ada yang angkernya gitu?” Flo jadi gelisah, ia paling takut untuk hal-hal seperti ini. Yuli yang sudah berjalan lebih dulu menoleh, baru tersadar kalau Flo tidak mengikutinya. “Eeeh … ayo Flo, ga apa-apa, jangan takut, ada gue kok,” desak Yuli. Flo tetap berdiri tak bergerak, Yuli mendengus lalu menarik paksa lengan Flo. Flo berjalan mau tak mau seraya memegang erat tangan Yuli. Mereka berjalan melewati ruang-ruang kelas lalu berbelok di ujung gedung kampus. “Nah ini dia Flo,” bisik Yuli menunjukkan tempat angker itu. Flo mengernyitkan dahinya ketika mereka akhirnya sampai di sebuah tempat di belakang kampus. “Loh ini ‘kan foodcourt kampus? Emang ini angker?” tanya Flo ragu. “Angker lah! Saking menyeramkannya tempat ini, sampai-sampai bisa menguras dompet lo tau! Seram ‘kan kalau dompet lo kosong? Apalagi kalau tanggal tua dan lo belom dapet transferan dari orang tua, lo harus hindari tempat ini! Ingat itu!” terang Yuli. “Ah b******k lo Yul, ini sih lo laper kali!” tukas Flo sebal. “Serius amat sih, Cantik, hahaha,” tawa Yuli seraya mencubit pipi Flo. “Lo yang cantik lagi, gue mah bapuk,” balas Flo. Mereka akhirnya tertawa bersama. *** Debu beterbangan dari lapangan ketika angin bertiup. Menerbangkan juga daun-daun kering yang tadi telah ditumpuk oleh petugas kebersihan kampus hingga berhamburan lagi ke berbagai arah. Di ujung lapangan di bawah pohon tua berdaun lebat itu hanya ada seorang pria yang sedang duduk termenung di kursi dari besi tepat di bawah pohonnya. Ia memandangi daun-daun yang terbang kesana kemari dimainkan angin. Tatapannya pada dedaunan tetapi pikirannya melayang jauh, mengingat waktu-waktu yang telah menghilang cepat. Keramaian suasana kampus di sana tidak terdengar di sini meski jaraknya tidak terlalu jauh. Semua tawa dan perbincangan yang ramai menghilang begitu saja. Seakan ketika kau melangkahkan kaki di bawah pohon tua ini maka semua keramaian itu terhisap lenyap lalu berganti menjadi sepi. Seperti masuk ke dimensi lain. Di sini telingamu hanya mendengar hening. Keramaian di sisi sana dan kesunyian di sisi sini. Ia termenung sendiri. Senyum kekasih terbias di antara angin-angin yang berhembus. Suara tawanya terdengar di antara gemerisik dedaunan. Hangat sentuhan tangan kekasih yang mengusap kepalanya di atas pangkuan terasa lembut di antara bulir-bulir rambut hitamnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terbayang detik-detik terakhir saat sang kekasih pergi di malam yang penuh gemuruh. Hujan tak lama turun setelah itu. Jerit kesakitan bercampur muncratan darah dari hidung dan mulut mengharu biru perasaan yang melihatnya. Bunyi roda ranjang yang didorong tergesa masuk ke dalam ruang operasi menggema sepanjang lorong rumah sakit. Genggaman tangan yang terlepas tak bisa dihindarkan. Ia bersimpuh ketika pintu ruang operasi ditutup, menangis memohon. Dua seperempat jam kemudian. Wajah kekasih yang terbaring diam di atas ranjang terlihat begitu damai. Ia menatapnya dalam sedih yang gelisah. Sembuh kamu harus sembuh, bisiknya pada sang kekasih. Tak lama dari situ, ketika hujan masih saja turun, ia harus berhadapan dengan rasa dukanya yang dalam. Patah hatinya malam itu. Ia membuka kedua tangan yang menutup wajahnya. Menghela nafas dalam untuk ingatan-ingatan yang menyakitkan. Terdengar lembut namanya disebut, dibawa angin yang menghembus. Ia menoleh ke kanan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya dan sunyi. Mungkin hanya perasaan saja, begitu bisik hatinya. Ia memakai earphonenya, berdiri dari duduknya, meletakkan tas ranselnya di bahu lalu melangkah pergi. Selepasnya pergi, Satu dua bercak darah menetes pada kursi besi itu. *** Flo menatap telepon genggamnya. Ia baru saja membrowsing mencari nama Dimas Aditya di i********: ataupun di f*******:, tetapi tidak ditemukannya. Flo duduk bersila di atas tempat tidurnya, meletakkan guling di atas pangkuannya lalu satu tangannya diletakkan di atas guling untuk menopang dagunya, ia pun berpikir; berarti betul kata Yuli, Dimas telah menghapus semua akun sosial medianya sejak kekasihnya meninggal karena foto-foto kekasihnya banyak di situ. Sepertinya ia tak sanggup melihat wajah kekasihnya setiap saat. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasa sedihnya Dimas saat itu. Setahun sudah lewat tapi Dimas masih saja berduka dan belum bisa melupakan kekasihnya. Flo membayangkan wajah Dimas yang telah menggetarkan hatinya dan ia bertekad untuk membantu pria itu melalui kesedihannya agar tidak berkepanjangan. *** “Ga, ga, ga mungkin … lo ga bakal bisa Flo!” sergah Yuli. “Kalau ada kesempatannya gue pasti bisa Yul,” balas Flo. “Flo, gue tau Dimas itu ganteng, tapi dia sudah patah, lo ga akan bisa memperbaikinya, lagi pula di kampus ini cowok ‘kan banyak kenapa harus dia sih?” kesal Yuli. “Dia pendiam dan misterius,” ungkap Flo. “Noh Limbad juga pendiam dan misterius!” sebal Yuli. “Dih ogah!” tukas Flo. “Huffhh … yasud, kayaknya gue ga bisa ngelarang lo … trus apa rencana lo?” tanya Yuli. Flo mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya, lalu memeriksanya, dan berkata, “Jam satu siang ini dia akan ke perpus, nah kesana itu juga tujuan gue hehehe,” kekeh Flo. “Bentar-bentar, itu di dalam kertas apa isinya?” selidik Yuli, “coba gue lihat.” Flo menunjukkannya. “Gila lo Flo, itu ‘kan aktivitas si Dimas selama di kampus … lo nguntit dia ya?” cetus Yuli. “Iya, hehehe, gue cuma pengen tahu, sebelum dia duduk kayak dukun di bawah pohon itu, dia ngapain aja sih di kampus … ternyata dia rajin juga ya, ga nongkrong-nongkrong kayak kita-kita … abis kuliah, dia ke perpus, trus jadi dukun bentar, baru deh dia pulang hehehe,” papar Flo. Yuli geleng-geleng, “Ga salah kata orang, jatuh cinta memang bisa bikin gila ya.” Flo tertawa. “Yul, lo tau ga siapa nama pacarnya Dimas yang meninggal itu?” tanya Flo. Yuli mencoba mengingat, “Siapa ya namanya. Gue lupa soalnya ‘tu cewek beda jurusan dan fakultas sama gue. Cuma waktu meninggal, banyak yang ngomongin di kampus. Kalau ga salah namanya Ye … Ye apa ya … oiya … Yerin!” “Kenapa banyak yang ngomongin? Apa kematiannya aneh?” tanya Flo lagi. “Ga sih … ya karena saat itu kita semua ikut bersedih, mereka ‘kan pacaran udah lama, denger-denger juga setelah lulus kuliah mereka mau nikah, tragis ….” terang Yulia, “emang kenapa lo nanyain soal Yerin ini?” “Tadinya kalau lo tau nama lengkapnya gue mau coba cari sosmednya, pengen lihat-lihat,” jawab Flo lalu melirik jam tangannya, “so, Yuli cantik, sekarang sudah jam satu … gue ke perpus dulu ya? Lo mau ikut ga?” Yuli menggeleng. “Good luck ya Flo, syukur-syukur lo ga dijutekkin sama Dimas, dia galak loh,” seru Yuli, Flo tertawa dan melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan kampus. Setelah melewati gedung utama kampus, Flo sampai di depan perpustakaan, ia mendorong pintu masuknya. Penjaga perpustakaan tampak tengah sibuk merapihkan buku-buku yang baru datang. Flo terus melangkah masuk melewati lorong-lorong yang diisi lemari-lemari besar dan panjang berisikan ratusan buku. Tak sulit, perpustakaan tak terlalu ramai sehingga ia bisa segera menemukan Dimas yang sedang memilih-milih buku di salah satu lorong tersebut. Flo mendekati dengan berpura-pura sedang mencari-cari buku juga. Dimas terlihat serius menelusuri satu persatu buku yang berjajar itu. Hati Flo berdegup kencang, kini ia telah berdiri tak jauh dari Dimas. Ia menggapai-gapai buku yang berada di rak paling atas dengan maksud, Dimas yang badannya tinggi itu bisa menolongnya lalu ia akan mengucapkan terimakasih lalu mereka bisa berkenalan. Tampak garing seperti di film-film drama murahan tapi hanya itu cara mudah yang terlintas dalam pikiran Flo untuk bisa mendekati Dimas. Flo terus menggapai-gapai tapi Dimas masih serius dengan penelusuran bukunya. b******k, kesal Flo dalam hati. Flo mencari-cari perhatian dengan berdehem, tapi Dimas bergeming dan tetap fokus mencari bukunya. “Ehem!!” Flo berdehem lebih keras. Dimas menoleh. Akhirnya noleh juga, cetus Flo dalam hati. Flo nyengir menunjukkan kalau ia butuh bantuan untuk mengambil buku, Dimas hanya memandanginya lalu kembali fokus mencari bukunya. s**l, rutuk Flo. Tak lama Dimas menghampirinya, jantung Flo menjadi berdegup-degup gugup. Dimas berdiri di depan Flo, menarik kursi yang berada tak jauh dari Flo dan meletakkannya di hadapan Flo kemudian membalikkan badan berjalan meninggalkan Flo. “Huh!” dengus Flo ternyata Dimas hanya memberikannya kursi supaya ia bisa naik sendiri dan mengambil buku itu. Setelah mengambil buku, meski ia sendiri tidak tahu buku apa itu, Flo melanjutkannya dengan duduk satu meja bersama Dimas. Flo duduk berseberangan dengan Dimas yang sedang mencatat sesuatu di buku tulisnya sambil mendengarkan musik dengan earphone di telinganya. Flo meletakkan bukunya di atas meja lalu membuka halaman demi halaman berpura sibuk padahal matanya terus melirik Dimas. Terdengar sebuah lagu mengalun pelan dari earphone yang dipakai Dimas. Have I ever told you. I want you to the bone? Have I ever called you. When you are all alone? I want you to the bone ooh, ooh, ooh, ooh. I want you to the bone, oh, oh, oh. Flo bisa mendengar alunan lagu itu di sepinya perpustakaan. “To the bone, Pamungkas … memang asyik didengar ya,” ucap Flo. Dimas melirik pada Flo yang sedang tersenyum. Ia lalu membuka satu earphonenya dan meletakkannya. “Lo ngomong sama gue?” tanya Dimas. Flo mengangguk, “Iya … mmm … maksud gue, itu lagu yang lagi lo denger, enak … eung … To the bone-nya Pamungkas bukan?” Dimas mengangguk, “Emang lo suka juga?” Flo mengangguk cepat, “Boleh ikut denger?” Belum sempat Dimas menjawab, Flo sudah mengambil satu earphone yang diletakkan Dimas tadi dan menempelkannya pada telinganya sedang satu earphone lagi masih menempel di telinga Dimas. Dimas sedikit terkejut. Flo memejamkan mata dan mendengarkan lagu yang mengalun di sebelah earphonenya itu. Dimas memperhatikan wajah Flo yang sedang tenggelam menikmati lagu tersebut. Di kursi sebelah Flo tiba-tiba muncul sebercak darah di atas busa duduknya. Flo masih terpejam menikmati lagunya. Dimas masih terus menatap wajah Flo. Tidak ada yang menyadari kalau bercak darah di kursi sebelah Flo itu semakin melebar dan membesar dengan cepat. Darahnya semakin basah bahkan hingga menetes-netes ke lantai. Sekarang busa kursi itu sudah berwarna merah seluruhnya. Mendadak dari busa tersebut keluar sebuah tangan dengan jari-jarinya yang bergerak-gerak, membuka, menutup lalu mencari-cari. Kemudian dengan cepat jari-jari itu menempel pada paha Flo mengusap-ngusapnya. Flo yang sedang terpejam merasakan pahanya disentuh. Ia menjadi marah merasa dilecehkan seperti itu. Flo membuka matanya dan melotot pada Dimas. Dimas sampai terkejut melihat Flo yang tiba-tiba melotot itu. Flo mencabut earphone-nya. “Heh, lo pikir gue cewek murahan apa!” sentak Flo dengan nada tinggi. Dimas menggelengkan kepala tak mengerti. “Apa maksud lo?” tanya Dimas. “Itu tangan lo ngusap-ngusap paha---“ kalimat Flo terhenti ketika melihat kedua tangan Dimas sedang berada di atas meja. Flo mengerutkan keningnya. Trus yang lagi ngusap-ngusap paha gue ini siapa? Batin Flo. Flo pelan-pelan menundukkan kepalanya, melihat ke pahanya dan tampaklah sebuah tangan yang bersimbah darah tengah mengelus-ngelus pahanya dan tangan itu keluar dari kursi di sebelahnya. Mata Flo melebar, bibirnya gemetar. Seketika itu juga Flo menjerit sekeras-kerasnya hingga jatuh terjengkang dari kursi. BRAAK! Dimas mengerutkan keningnya melihat Flo mendadak jatuh ke lantai sedang ia tidak melihat apa pun sebagai penyebab jatuhnya. Beberapa orang yang berada di perpustakaan juga memperhatikan Flo dengan aneh. Flo yang terduduk di lantai tak bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdebar keras. Ia hanya gemetar melihat sepotong tangan itu melambai-lambai padanya, seakan mengucapkan selamat tinggal. Melihat itu, Flo segera bangun dari jatuhnya lalu lari terbirit-b***t keluar dari perpustakaan. BERSAMBUNG

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook