"Seger banget sih, Bang." Dika tersenyum sekilas sembari memakai kaus pendeknya. Ia sudah mandi, setelah Emil selesai. Meski semalam dan subuh tadi gagal, masih ada hari esok untuk merubuhkan ranjang. Ada hari yang tepat untuk memporak-porandakan Emil. "Iya lah. Kan habis mandi." Emil tersenyum kecut. Ia pikir akan ada gombalan receh, tutur kata manja menggoda dari pemilik tiang yang gagal ia sentuh. Padahal ia sudah penasaran akut. Jika saja Dika tidak terlanjur bangun, mungkin ia sudah menghabiskan tiang suaminya dengan menggerogoti dan menggigiti habis. "Kamu siap-siap sana. Kita cari sarapan di luar. Nanti siang kita ke rumah kontrakan." Emil girang tak terkira. Sarapan di luar? Jalan berdua sebagai suami dan istri? Duh... berasa indah banget. *** Suasana di rumah Emil masih

