Perasaan tegang yang dialami Rafka pun sedari tadi akhirnya kembali normal. Pria itu pun dengan geramnya memanggil Ariya. “Kirana! Bagaimana bisa kamu anak dia ... kenapa aku harus bertemu dengan orang-orang seperti kalian! Moga saja kamu gak sama seperti ibu kamu.” Rafka mengepalkan tangan dan mencoba menahan emosinya. Ada sedikit rasa kecewa jika saja istrinya memiliki watak seperti mamanya. “Sudah Rafka!” ucap Alvin. “Mas, sudah kenal sama Mama. Atau Mas salah satu teman tidur Mama?” tanya Ariya tiba-tiba yang membuat Rafka semakin emosi. “Kirana! Kamu ngerti gak sih, kalau aku suka tidur dengan mama kamu. Pastinya kamu juga sudah aku tiduri. Ngomong gak pakai otak kamu ini!” Rafka yang kesal akhirnya berlalu pergi dengan di susul Ariya dari belakang. Namun, ia tiba-tiba kembal

