Ariya merasa bersalah terhadap Emma, karena Dimas mantan kakak kelas mereka telah jatuh cinta kepadanya. Emma merasa terhianati, bahwa pria pujaan hatinya mencintai sahabatnya sendiri. “Emma ... sudah selesai berkemas kamu?” tanya Ariya yang memeluk Emma dari belakang. “Sudah!” “Besok di jemput atau pulang sendiri?” “Enggak tahu!” jawab Emma ketus. Ariya terdiam sejenak ia menatap Emma yang sudah mengenakan baju tidur bermotif batik. Kerudungnya yang berwarna hitam telah menutupi sebagian wajahnya. Karena sadar diri, kini ia kembali ke ranjang miliknya. “Sudah kamu balas surat Dimas?” tanya Emma dengan kesal. Ia menengok ke belakang menatap Ariya dengan wajah muram. “Belum, Emma. Besok kalau sudah keluar dari pesantren kilat aku akan mencoba menjelaskan ke Dimas, kalau aku ini

