kembali usaha

1384 Kata
"Celaka ambu! kita dapat celaka yang besar." ujar abah Abun dengan suara lirih, setelah dirinya sedikit tenang. "Celaka Kenapa Abah?" tanya Abu Yayah sambil memelas, mungkin dia sudah tahu dan sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh Mbah Abun. "Kerbau kita masuk ke jurang." jawab Mbah Abun menundukkan kepala, terlihat matanya mulai mengeluarkan cairan bening kembali. "Ya Allah! kok bisa?" tanya Abu Yayah Yang terlihat kaget, karena dia tidak menyangka kejadiannya seburuk itu. Mbah Abun pun mulai menceritakan tentang kejadian yang baru saja dia alami, mulai dari membeli kerbau dari Mang Marwi sampai akhirnya kerbau itu jatuh ke dalam jurang. "nah begitu Ambu ceritanya, Abah bingung Abah harus usaha apa lagi, modal kita sudah habis, ambuuuuuu!" "Nggak apa-apa, Abah! modalnya habis, yang penting Abah selamat. Untung saja kerbau itu tidak sempat melukai Abah, itu juga sudah membuat ambu bahagia." ucap Abu Yayah sambil mendekati, kemudian memeluk suaminya dengan begitu erat. Akhirnya mereka berdua Pun Menangis bersama karena merasa sedih, hidupnya yang selalu ditimpa musibah terus menerus. Padahal baru saja kehidupannya mulai naik, namun secepat kilat kebahagiaan itu hilang. "Ini ada apa, kok kalian pada nangis" tanya Ranti yang baru saja datang pulang main, dari rumah temennya. "Nggak, nggak ada apa-apa, sini!" ujar Ambu Yayah sambil meregangkan tangan, mengajak anaknya ikut berpelukan. Ranti yang tidak tahu apa-apa, dia pun hanya mengangguk. kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh ibunya, akhirnya keluarga itu pun berpelukan sambil menangis. "Maafkan Abah ya!" ungkap Mbah Abun menatap sedih ke arah anaknya. "Maaf kenapa?" tanya Ranti yang belum mengerti apa-apa. "Abah kamu, baru saja kena musibah. kerbau yang baru saja dia beli, jatuh ke jurang." jawab Ambu Yayah mewakili suaminya. "Kok bisa?" tanya Nanti sambil mengerutkan dahi, dia belum paham apa yang sebenarnya terjadi kepada keluarganya. Ambu Yayah pun menceritakan kejadian yang dialami oleh suaminya, dari awal hingga akhir. semua diceritakan tidak ada yang terlewat. membuat Ranti sedikit mengancingkan gigi, merasa kesal dengan orang yang berprofesi sebagai bandar dari cisuren itu. "Kalau Ranti laki-laki !udah Ranti labrak tuh orang, masa! usaha kok begitu, merugikan orang lain." Gerutu Ranti sambil mengepalkan tangannya. "Sudah! kita semua serahkan sama sang pencipta, mungkin inilah takdir kita. yang selalu ditimpa musibah. Ambu yakin, suatu saat hidup kita akan bahagia." ujar ambu Yayah menenangkan anaknya, sambil menghibur hatinya yang sedang pilu. ***** Semenjak kejadian matinya kerbau yang dibeli dari warga Kebon Jati. Mbah Abun kembali ke profesinya semula, mengurus sawahnya yang tinggal satu petak. karena ketika dia mau menjadi Bandar kembali, Dia sangat takut bertemu orang seperti bandar dari cisuren, dia lebih menghindari masalah daripada mencari masalah. Namun sekembalinya ke profesi semula, otak bah Abun terus berputar mencari cara untuk menafkahi keluarganya, untuk memberi kebahagiaan kepada dua wanita yang sangat ia sayangi. sehingga suatu hari, sepulang dari sawah, dia tidak langsung pulang ke rumah, namun dia pergi ke kebun bambu milik Mang Juju. karena tadi sebelum berangkat ke sawah, Mbah abun terlebih dulu mampir ke rumah Mang Juju, untuk membeli beberapa pohon bambu muda. Selesai menebang pohon bambu, dia pun memotongnya menjadi beberapa potongan. agar ketika membawanya dia tidak kesusahan. Setelah selesai mendandani pohon bambu yang hendak dia bawa, dia pun menaikkan potongan pohon bambu itu ke pundaknya, kemudian pulang menuju ke rumahnya. "Buat apa Abah?" tanya Ambu Yayah menyambut kedatangan suaminya. "Abah mau mulai usaha lagi ambu!" jawab Mbah Abun sambil membuka tali pengikat bambu, kemudian dia mengambil satu batang bambu, untuk dibawanya ke tempat yang Teduh. lalu memotong bambu itu sesuai dengan ruas-ruasnya. Melihat suaminya yang sibuk, Ambu Yayah dengan cepat membawa air minum, mendekati Mbah Abun. begitulah Mbah Abun dia akan lupa dengan dirinya, ketika dia fokus bekerja. "Minum dulu Abah! nanti dehidrasi." seru Ambu Yayah sambil menuangkan air ke dalam gelas. Mbah Abun pun hanya mengangguk, namun dia tetap meneruskan menggergaji bambu. setelah selesai menggergaji, baru dia mengambil gelas yang berisi air minum. kemudian meneguknya hingga habis, terlihat jakunnya yang naik turun, seperti sedang ikut menikmati benda cair yang melewatinya. "Kalau lagi haus begini! air putih aja sangat nikmat." ungkap Mbah Abun sambil meletakkan kembali gelas kosong di sampingnya. "Yah, Abah! Oh iya, Abah sekarang mau usaha apa? kok pakai bawa bambu-bambu segala?" tanya Ambu Yayah sambil menatap penasaran ke arah suaminya. "Abah mau mulai usaha lagi, Abah dulu pernah belajar membuat aseupan. jadi Abah berencana mau membuat kerajinan anyaman bambu, untuk mengukus nasi. nanti hasilnya kita bisa jual, buat menyambung kehidupan kita." jelas Mbah Abun. "Oh begitu, Iya. kalau membuat aseupan, mungkin kita tidak akan bertemu lagi orang yang jahat seperti bandar hewan ternak dari cisuren." tanggap Abu Yayah yang menyetujui niat Bah Abun. "Iya, tapi takut." "Takut kenapa?" "Takut nanti Abahnya, ikut monyong kayak bentuk aseupan." "Ei kirain, apa!" ujar Ambu Yayah, sambil mencubit pinggang suaminya. walau mereka sudah tidak muda lagi, namun keharmonisan rumah tangga mereka tetap terjaga. Akhirnya mbah Abun pun melanjutkan pekerjaannya kembali, ditemani oleh istrinya. setelah bambu itu terpotong, kemudian dia membelahnya. setelah menjadi belahan kecil-kecil. dia mulai mengirisnya tipis-tipis agar bambu itu bisa dijadikan anyaman. "Sini, biar Ambu yang menipiskan iratan bambunya Mbah!" Ambu Yayah menawarkan diri, karena dia merasa bosan dari tadi hanya diam menyaksikan. "Ya sudah, sana ambil pisau rautnya. nanti Abah ajarkan bagaimana menipiskan bahan iratan bambu yang baik dan benar." Jawab Mbah Abun yang terlihat senang, karena Istrinya selalu membantunya dalam semua pekerjaan yang ia kerjakan. Ambu Yayah pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia pergi ke dapur, tak lama dia pun kembali dengan membawa pisau, untuk menipiskan bahan anyaman. Mbah Abun mulai mengajarkan tentang cara menipiskan iratan bambu anyaman yang baik dan benar. awalnya Ambu Yayah sangat kesulitan, namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia bisa merapikan iratan bambu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh suaminya. Setelah mendapat iratan bambu, Mbah Abun pun pindah ke dalam rumah. dia mulai menyatukan iratan bambu yang satu dengan yang lainnya. sehingga lama-kelamaan iratan itu berubah bentuk menjadi benda kerucut untuk menanak nasi. Meski dengan pelan dan perlahan, karena cara menganyamnya yang sudah lupa, namun dengan kegigihan yang begitu kuat. Akhirnya hari itu Mbah Abun bisa menyelesaikan 3 buah aseupan. setelah selesai dibuat, Ambu Yayah pun membawa aseupan itu ke tetangganya, untuk ditawarkan. ternyata responnya sangat positif, aseupan yang baru dibuat, disambut baik oleh warga kampungnya. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, aseupan itu habis terjual. Dengan membawa hati yang sangat bahagia, Ambu Yayah pum pulang. untuk memberitahu suaminya, bahwa hasil kerja kerasnya terbayar oleh lakunya kerajinan Mbah Abun. Mulai dari saat itu Mbah Abun, dia semakin menekuni kerajinannya membuat aseupan untuk menanak nasi. semakin lama Mbah Abun semakin cepat menyelesaikan pekerjaannya. Awalnya dia sehari cuma dapat 3 asupan, sekarang dia sudah bisa membuat 7 sampai 10 kerajinan anyaman itu. Karena selain dianya yang semakin lihai, anak dan istrinya juga. mereka selalu membantunya dalam bekerja. Namun sayang barang-barang seperti itu tidak cepat rusak. apalagi aseupan buat Mbah abun sangat kuat, sehingga bisa bertahan bertahun-tahun. setelah semua orang di kampungnya mengganti penanak nasinya dengan buatan Mbah Abun, mereka tidak membeli lagi karena penanak nasi mereka masih bisa dipakai. ***** Diceritakan di satu sore hari, seperti biasa keluarga mereka sedang berkumpul, sambil menikmati teh panas ditambah singkong rebus. Dari arah Barat terlihat langit yang sudah mulai menguning keemasan, diiringi alunan suara tonggeret, gerapung yang terdengar dari arah kebun, burung-burung berkicau di ranting-ranting pohon. memberitahu teman-temannya, bahwa sebentar lagi Hari akan mulai gelap. "Ambu, besok abah mau ke kampung Sukaraja, abah mau jualan kerajinan anyaman Abah. soalnya warga di sini sudah ganti semua, jadi lakunya akan lama, kalau menunggu penanak nasi warga Kampung sini habis." ucap Bah Abun mengawali pembicaraan sore itu, sambil menyuapkan singkong ke mulutnya. "Iya Abah! Lagian aseupan kita juga udah 3 tahun nggak pernah ganti, masih bisa dipakai, masih kuat. tapi kalau bisa jangan jauh-jauh terlebih dahulu, nanti Abah kemalaman dijalan. jarak dari Ciandam ke Sukaraja kan lumayan jauh, bah!" Timpal Ambu Yayah memberikan saran. "Enggak, nanti abah mau nginep di rumah sahabat Abah, Siapa tahu saja dia masih mengenal Abah." jawab Mbah Abun. "Oh jadi abah mau nginep di rumah sahabat Abah, Ya sudah! ambu sebagai istri, hanya bisa mendoakan. semoga jualan Abah Laris Manis, Dan Abah harus tetap berhati-hati agar tidak bertemu kembali dengan orang-orang jahat." "Iya ambu! Terima kasih atas semua doa dan sarannya. semoga usaha Abah lancar kembali, meski hanya dengan menjual hasil anyaman." Akhirnya mereka pun mengobrol ngalor ngidul. mengisi senja yang begitu indah, dengan bercengkrama bersama keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN