"Ya sudah! kalau boleh. Abah ikut ya!" ujar Bah Abun sambil bangkit. kemudian dia menanyakan harga yang harus dibayar kepada tukang warung.
"Totalnya jadi Rp200, Bah! Abah mengambil gorengan bakwan 4 dan Lontongnya 4. oh iya! Hampir lupa ini semuanya Jadi berapa totalnya bah. saya ngambil penanak nasi dua buah." jawab Salamah sambil bertanya.
"Totalnya jadi Rp2.000. harga satunya seribuan, Bi!" Jawab Mbah abun.
"Berarti saya bayar 1800, ya Bah? karena yang 200 nya buat bayar jajanan Abah."
"Iya Bi!" jawab Mbah Abun.
Setelah mendapatkan pembayaran dari jualannya, Mbah Abun pun berangkat mengikuti kedua remaja tanggung. untuk menyaksikan pertunjukan adu babi, yang diadakan di kampung situ.
Lama di perjalanan tidak diceritakan di sini, karena perjalanan menuju Kampung Situ tidak mendapat gangguan apapun. Sesampainya di kampung yang bernama kampumg situ. matahari sudah sedikit lewat dari ubun-ubun, terlihat orang yang berbondong-bondong menuju lapangan, yang sudah disediakan oleh panitia. dari mulai orang tua, anak-anak, remaja, ibu ibu, bapak. semua orang ingin menyaksikan pertunjukan adu babi itu. karena menurut berita yang mereka dapatkan babi itu sangat aneh.
"Janin! janin! kamu mau ke mana? Bukannya kamu sering lihat babi di hutan, ngapain datang ke sini." tanya seseorang ketika bertemu temannya di perempatan jalan.
"Iya sih! aku sering melihat babi di hutan, tapi katanya babi yang ini anreeeeeeeh, pengen tahu aja babi aneh itu seperti apa." jawab orang yang ditanya
"Seaneh-anehnya babi! tidak akan ada babi yang seperti kamu janin. pasti semua babi itu monyong dan hidungnya besar." ujar pria yang tadi bertanya.
"Sial4an! kamu juga ngapain pakai datang ke sini segala. Bukannya kalau pengen lihat Babi kamu tinggal ngaca di rumah." tanya orang yang bernama janin.
"Jaga bicaramu! bangs4t!" Ucap orang yang tadi bertanya. begitulah kebiasaan manusia, dia suka mencadai orang, tapi ketika dia bercandai, dia marah.
Remaja itu mulai mengejar orang yang bernama janin, begitulah anak remaja ketika bercanda suka kelewatan. Mbah Abun dan kedua orang yang dia ikuti, mereka bergabung bersama rombongan-rombongan yang lainnya, yang sama-sama menuju ke lapangan.
"Rame juga ya, Jang! padahal yang ditonton hanyalah babi hutan." tanya Mbah Abun, sambil terus mengikuti berjalan di belakang kedua remaja yang tadi ia temui di Warung Bi Salamah.
"Iya bah! mungkin benar apa yang dikatakan orang, babinya sangat aneh. Buktinya ada perempuan yang mau menonton, biasanya pertunjukan babi hutan seperti ini, hanya buat kaum laki-laki saja." jawab Jana dengan antusias dia menjelaskan.
"Semoga aja orang-orang yang datang menonton, pada mau membeli barang dagangan Abah!"
"Amin! oh iya Bah! Abah sekarang Sendirian saja. soalnya kita mau main terlebih dahulu, Siapa tahu saja ada cewek cantik, yang mau sama kita! mumpung acaranya Belum dimulai." ujar Jana meminta izin
"Ya sudah! nggak apa-apa! Terima kasih ya, Jang." jawab Bah Abun, yang mungkin dia paham kebiasaan anak-anak remaja.
Sepisahnya dari Janna dan Dadun. Mbah Abun pun mendekati pintu loket pembelian karcis, menurut pemikirannya kalau masuk lebih dulu, dia bisa menonton lebih depan. karena walau bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama dia menyaksikan hewan hutan yang akan diadukan dengan anjing.
"Mau masuk ke dalam, bah!" tanya seorang pria yang berjaga di depan pintu masuk.
"Iya Jang! Abah pengen lihat babi aneh." jawab Mbah Abun
"Kalau Abah mau masuk ke dalam! Abah harus bayar terlebih dahulu. karena kasihan panitia sudah bekerja keras untuk menyiapkan tempat adu babi ini." jelas pria itu meminta pembayaran, karena memang benar terlihat tempat itu di desain sedemikian rupa, agar para penonton bisa melihat jelas ke dalam lapangan, namun tidak membahayakan.
"Berapa?" tanya Mbah Abun.
"Rp200 Mbah! kalau anak-anak Rp100."
Tidak ada pertanyaan lagi. Mbah Abun pun mengeluarkan uang sesuai permintaan pria penjaga, lalu memberikan uang itu sebagai pembayaran karcis, untuk menonton pertunjukan adu babi. setelah membayar karcis Mbah Abun pun bisa masuk ke dalam lingkaran.
Setelah berada di dalam, Dia menyela kerumunan orang-orang yang sudah datang dari tadi. karena Mbah Abun ingin menonton pertunjukan itu paling depan. namun Dia sangat kesusahan karena dia sambil memikul barang jualannya.
"Hey! heh! heh!" jangan bawa barang dagangan dong ke sini. Simpan dulu apa! Nghalangin pemandangan, tau!" ujar seorang pria yang pandangannya tertutup oleh dagangan Mbah Abun.
Mbah Abun yang baru sadar, dia pun hanya tersenyum sambil mengangguk menunjukkan gestur permintaan maaf.
"Iya Mbah! Simpan dulu barang barang bawaannya. Biar gak mengganggu pemandangan orang lain." ujar seorang pria menimpali.
Mbah Abun yang sudah di tengah-tengah kerumunan. dia pun kembali ke belakang, setelah bisa keluar dari kerumunan. Dia mendekati penjaga karcis tadi, dia hendak menitipkan barang jualannya. Beruntung penjaga karcis itu sangat baik, tak ada penolakan darinya. Penjaga karcis itu memperbolehkan Mbah Abun menitipkan barangnya.
Setelah menitipkan barang dagangannya. Mbah Abun pun kembali menyela-nyela kerumunan orang-orang, yang semakin lama semakin memadati tempat pertunjukan adu babi.
"Jangan seserobot dong, mbah!" ujar seorang wanita yang merasa terdorong oleh Mbah Abun.
"Maaf Neng! abah mau Nontonnya di depan." jawab Mbah Abun sambil tersenyum tanpa mempedulikan wanita itu lagi. dia terus merangseg untuk mencari tempat paling depan. walaupun banyak orang yang memarahinya, namun dia tidak menghiraukan, dia tetap terus menyela-nyela di barisan orang lain. hingga akhirnya dengan perjuangan yang begitu melelahkan, Mbah Abun pun bisa mendapatkan tempat paling depan.
Setelah berada di depan, dia melihat ada pagar bambu, setinggi 2 meter. pagar bambu yang terlihat begitu kokoh, karena walaupun terdorong oleh orang-orang yang hendak menonton paling depan, namun pagar itu tetap berdiri tanpa bergeming sedikitpun.
"Mana nih babinya?" Tanya Mbah Abun sama orang yang berada di sampingnya.
"Sabar Bah! kalau kita ingin mendapatkan pertunjukan yang maksimal, maka kita harus sabar terlebih dahulu." jawab seorang pria yang menimpali.
"Emang benar babinya aneh?" tanya Mbah Abun kembali.
"Iya mbah! katanya babi hutan yang ini, dia bisa ngobrol, bahkan bisa bernyanyi sambil menari."
"Ah yang benar!" tanya Mbah Abun yang tidak percaya.
"Benar bah! Coba saja nanti lihat, kalau abah nggak percaya."
Akhirnya mereka pun terdiam sesaat, karena ada orang yang memukul kentongan, memberitahu agar orang orang pada diam dulu sebentar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujar salah seorang pria yang berdiri di atas pagar.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." jawab orang-orang yang hadir untuk menonton pertunjukan adu babi.
"Saya, mewakili panitia yang bertugas, mengucapkan Terima kasih yang sebesar-besarnya. Atas kedatangan para hadirin sekalian, Semoga apa yang dikeluarkan untuk menonton pertunjukan ini, diganti dengan yang lebih besar. Tanpa berbasa-basi, mengingat waktu sudah mulai siang. kita mulai acara adu babi ini! mohon untuk para panitia agar segera mengeluarkan babinya. dan buat orang yang mau memasukkan anjing, sebagai lawannya, tolong juga dipersiapkan!" ucap pria itu yang mengaku sebagai panitia penyelenggara, diakhiri dengan tepuk tangan dari para penonton yang begitu meriah.
Terlihat di dalam pagar, ada seorang laki-laki yang mendekati kandang berukuran 1x1 Meter. dengan cepat dia pun membuka penutup kandang itu.
"Ayo keluar babi!" serunya sambil memukul-mukul kandang, untuk menakut-nakuti hewan yang ada di dalamnya.
Namun anehnya walaupun ditakut-takuti seperti itu. babi yang ada di dalam tidak ketakutan bahkan tidak bergeming sedikitpun, babi itu masih terdiam di dalam sambil tengkurap.
"Babi! kamu jangan malu-maluin saya! cepat keluar." ujar pria itu kembali memukul mukul kandang babi.
"Colok pakai bambu pin!" seru ketua panitia penyelenggara yang melihat babi itu tidak mau keluar.
Terdengar riuh orang-orang yang menertawakan kelakuan panitia yang tidak bisa mengeluarkan babi dari kandangnya. mendapat ejekan seperti itu, membuat Arifin mukanya terlihat memerah padam, merasa malu dengan yang dilakukan oleh babi hutan itu.
"Rugi dong! bayar mahal-mahal. kalau hanya menonton si Arifin yang tidak becus mengeluarkan babi." Teriak Seorang warga memecahkan suara tertawa para penonton.
"Iya nih! enak amat! makan gaji buta. Dari hasil mempertunjukkan kebod0han si Arifin." bales penonton yang lain, membuat semua panitia merasa Getir.
Ketua panitia yang merasa jengkel, karena melihat kelakuan Arifin yang tidak bisa mengeluarkan babi hutan dari kandangnya. dia pun turun dari pagar, kemudian mendekati kandang babi itu. setelah berada Di kandang babi, dengan cepat dia pun mengambil sebilah bambu, lalu mencolok-colok kandang dengan keras dan kasar, agar babi yang ada di dalamnya mau keluar.
Merasa risih dengan perlakuan panitia penyelenggara adu babi, karena tubuhnya terus ditusuk-tusuk dengan bambu. akhirnya babi itu pun keluar dari kandang. Disambut oleh tepuk tangan para penonton yang begitu meriah karena sudah tidak sabar menunggu kehadirannya.