Rafian PoV. "Hallo, ada apa?" jawabnya dengan suara parau. Deg! 'Ada apa lagi dengannya? Kenapa suaranya terdengar sendu sekali,' batinku menerka-nerka. "Loe kenapa? Kok suara loe beda?" tanyaku khawatir. "Nggak papa kok. Loe mau apa telpon gue?" jawabnya ketus. Menutupi rasa sedih agar tetap terlihat berwibawa. 'Dasar cewek angkuh. Nggak mau kelihatan lemah di depan orang lain,' batinku kesal. 'Kita ketemuan sekarang," ucapku cepat. "Tap…." Tut. Langsung ku matikan sambungan telepon ini. Sebab gue paling benci penolakan. Aku yang tengah duduk di teras rumah. Setelah melakukan rutinitasku jogging di sekeliling kompleks pun segera berdiri. Meninggalkan dua cangkir kopi hitam yang kini hanya tersisa setengah-setengah yang ditemani oleh sepiring kue Pukis yang kini tersisa beberapa buah

