"Kau arsitek Haz. Kau bisa melakukan apapun." "Aku ingin bekerja." "Aku akan meminta sebuah proyek pada Ayahku. Untukmu." "Ethaaaan..." Hazel mulai jengkel. Ethan mendongak. Dia membetulkan letak kacamatanya. Dia melihat Hazel menegang. Wajahnya terlihat sangat kesal. Lalu luruh. Ethan mengangkat tangannya, meminta Hazel untuk diam. Lalu membuka ponselnya dengan satu tangan lainnya. Dia mendengarkan sambungan telpon di seberang sana. Dan menutupnya, lalu beranjak. "Bisa kau tunda dulu marah mu Haz? Aku harus pergi." "Tunda?! Pergi? Apa maksudmu dengan pergi..." "Aku harus menjemput orangtuamu." Hazel membeku. Dia menatap Ethan yang mencium dahinya dan berlalu dari ruang kerjanya. "Wait! Menjemput? Aku harus ikut." Hazel berlari mengejar Ethan yang berjalan sembari memakai ja

