"Kau seperti..." Paquita Rose Jefferson terbahak melihat tampilan Ethan Jefferson, adiknya. Pita bahkan meremas-remas bun rambut Ethan dan Ethan bergeming. Pemuda itu duduk dengan tenang sambil membaca koran paginya.
"Kau akan ke Delaware hari ini? Hmm...kau kan bisa menyuruh seseorang yang kau percaya untuk menyelidiki."
"Kadang kita tidak bisa meletakkan begitu saja sebuah kepercayaan sekalipun pada seseorang yang sudah bekerja pada kita sekian lama."
Ethan mendongak menatap kakaknya yang mulai menyendokkan serealnya.
"Sampai kapan kau akan makan sereal untuk sarapanmu? Kau bahkan sudah tua."
Ethan tergelak saat melihat kakaknya cemberut dan mendesis.
"Ini enak..."
"Kau memakan nya saat kau dan Mason bertingkah konyol dan memutuskan untuk berpisah. Dan itu sudah...lama sekali. Come on…"
"Jangan ingatkan. Aku merasa konyol kalau mengingat bagian itu."
Ethan tertawa. Dia ingat dengan jelas bagaimana Pita meratapi nasibnya karena Mason menyetujui setiap ucapannya waktu itu. Bahwa dia ingin berpisah dari pria itu. Waktu itu Pita ingin Mason mencegahnya. Tapi sesuatu yang tidak diduga terjadi. Mason mengangguk dan mereka berpisah. Dan Ethan tahu bagaimana Pita menangis dengan konyol meratapi nasibnya. Tiga bulan. Dan Pita mulai menjadi gila. Dia makan apa saja dan menemukan kesenangan dengan memakan sereal dan s**u sebagai sarapan. Bahkan sampai mereka bersatu lagi, Pita masih tidak bisa lepas dari kebiasaan itu. Sungguh kejadian yang sangat konyol pikir Ethan.
"Aku melihat Brenda di pusat pelatihan menembak dua hari lalu. Kau tidak menemaninya?" Pita mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu aku sibuk dan dia sudah besar."
"Bagaimana kalau dia berpindah hati dan meninggalkanmu? Instruktur menembaknya, hmm...Joe Fulham sangat keren." Ethan melihat kakaknya menerawang. Sendok serealnya menggantung di depan mulutnya. Dia terlihat seperti terpesona dengan sosok Joe Fulham dalam bayangan matanya.
"Para wanita dan pikiran kotornya. Entah di bagian mana di otakmu itu Mason berada. Aku tiba-tiba merasa kasihan pada Mason."
Pita mencebik.
"Tentu saja Mason ada di tempat paling istimewa di sini dan di sini." Pita menepuk kepala dan dadanya bergantian.
Ethan menyesap kopinya lalu melipat koran paginya. Dia beranjak menggapai kunci mobil di atas nakas di dekat pintu masuk ruang makan.
"Kau menyetir sendiri? Delaware sangat jauh Ethan."
"Well...tak sejauh pikiranmu yang meninggalkan Mason dengan membayangkan Joe Fulham, Paquita Rose Cesterson."
Dan bantingan pintu pelan disertai gelak tawa terdengar seiring Pita yang mengangkat mangkuk serealnya dan mangkuk itu nyaris melayang membentur pintu namun urung...
"Sayang...kau lihat dasi hitam yang kemarin aku pakai?"
Suara lembut Mason membuat tangan Pita turun. Dia mengulas senyum pada Mason.
"Selamat pagi, Sayang. Kau makan sereal lagi...?" Mason menyapa lembut sambil menatap mangkuk sereal di tangan Pita.
"Aku mencintaimu, Mason. Bisa kita menghabiskan beberapa menit sebelum kau ke kantor?" Pita menarik tangan Mason yang memasang wajah mengerti...
***